
Usai zuhur, Prince menyempatkan diri mengecek iphonenya. Tapi sebelum itu, dia memberi kecupan dikening Isma yang tertidur setelah mendapat suntikan obat melalui selang infusnya oleh perawat.
Kembali ke layar iphonenya. Prince mendapati 103 panggilan tak terjawab dari Bimo dan juga 15 email. Segera dia menghubungi Bimo.
"Bos, akhirnya. Apa yang terjadi? kenapa tidak mengangkat panggilan saya. Perusahaan kacau hari ini." Celoteh Bimo tanpa memberi kesempatan pada Prince untuk menjelaskan.
"Y.R Holding membantalkan proyek di Kuala Lumpur. Mereka kecewa karena Bos membatalkan meeting tanpa pemberitahuan. G.I Holding meminta ganti rugi semua dana proyek yang sudah terlanjur, mereka juga membatalkan kerja sama tiba-tiba tanpa memberi alasan." Sambungnya.
Prince hanya berekspresi datar menanggapi semua kabar yang tak mengenakan itu.
"Kirimkan cek dana kepada G.I Holding, sekarang. Dan acc pembatalan proyek di Kuala Lumpur." Tegasnya.
"Tapi Bos. Jika seperti itu, perusahaan mengalami kerugian dua kali lipat. Ini tidak masuk akal. Setidaknya…"
"Nyawa Isma dan anak-anakku jauh lebih penting dari apapun di dunia ini." Ucap Prince dengan suara yang mulai terdengar serak.
"Isma? Apa yang terjadi, Bos?"
"Sekarang aku di rumah sakit. Tadi pagi ada orang yang dengan sengaja mendorong tubuh Isma kuat. Hingga Isma jatuh dan mengalami pendarahan hebat." Tuturnya.
Mata Prince tidak luput mengawasi tubuh Isma yang kini terbaring lemah.
"Ya Allah. Lalu, bagaimana keadaan Isma sekarang Bos?"
"Sudah membaik. Dan aku mau kamu melacak pria itu. Aku kirimkan fotonya nanti."
"Baik Bos."
"Liburkan perusahaan untuk tiga hari kedepan. Tutup semua informasi apapun. Tentang gaji, bayar semua gaji karyawan dan buruh kita satu bulan full." Tegasnya.
Sebentar Bimo terdiam. Sebenarnya dia ingin protes, karena begitu banyak kerugian yang akan dialami perusahaan akibat libur selama tiga hari kedepan.
__ADS_1
Belum lagi pembayaran ganti rugi. Terlebih beberapa Proyek akan ikut batal karena pembatalan proyek di Kuala Lumpur. Tapi, apa boleh Buat, Bimo hanya bawahan. Jadi, mau tidak mau dia ikut perintah atasannya sekaligus pemilik perusahaan.
"Baik, Bos. Saya dan Rina akan segera ke rumah sakit sepulang dari sini." Ucapnya.
Setelah panggilan berakhir. Bimo memberitahukan perintah Prince pada bagian-bagian terpenting perusahan. Setelah semuanya tersampaikan dengan baik. Seperti perintah, tidak ada karyawan yang berani bertanya perihal libur mendadak seperti ini.
Yang terpenting, gaji mereka akan tetap dibayar full. Itu saja sudah membuat mereka sangat lega.
Sementara itu, Prince setia menggenggam erat tangan Isma. Dia duduk disamping tempat tidur Isma.
"Sayang, apa itu sangat menyakitkan." Memijat pelan dahi Isma yang berkerut.
"Baby, bantu Bunda ya, nak. Kita kuatkan bunda." Satu tangannya mengelus perut Isma.
Tidak lupa Prince melantunkan surah Al-Mulk. Ayat-ayat itu begitu indah memberi tahunya tentang kekuasaan Allah yang memiliki kekuasaan atas segala apa yang ada di dunia ini.
Air matanya menetes saat membaca ayat-ayat indah itu. Rasa syukur tidak henti diucapkannya dalam hati. Dan mulutnya terus melantunkan ayat-ayat Allah.
"Sayang, kenapa? Apa yang sakit?" Tanya Prince mendekatkan mulutnya ketelinga Isma.
"Haus..." Ucapnya terbata.
Segera saja Prince mengambilkan air. Lalu menegakkan sedikit tempat tidur Isma. Dia menjadikan tubuhnya untuk tempat Isma bersandar, lalu memberikan Isma minum.
"Sayang merasa sakit?" Tanya Prince sambil mengelap keringat dingin di kening Isma.
Dia mengangguk pelan di dada suaminya. Lalu, perlahan tangannya menggengam erat jemari suaminya.
"Iya sayang, Mas tidak akan kemana-mana." Memeluk erat tubuh lemah Isma.
Dia tahu, tubuh itu sangat lemah saat ini. Ya, setelah kehilangan darah yang cukup banyak, Pastinya tubuh Isma akan terasa sangat lemah dan lelah.
__ADS_1
"Mas…" Tangan Isma mencoba menyentuh sudut bibir Prince yang terdapat goresan.
"Apa ini perih?" Tanya Isma.
Prince tersenyum sambil menyentuh tangan Isma. Lalu Prince memberikan ciuman di kening Isma menggunakan bibir lecetnya itu.
"Tidak sayang. Mas baik-baik saja, kok. Hhm." Mengeratkan kembali pelukannya.
"Boleh adek tidur seperti ini?"
Isma ingin tidur sambil bersandar dalam pelukan suaminya. Dengan senang hati Prince menyetujui. Ditekannya tombol disamping tempat tidur Isma. Kasur itu bergerak membentuk sandaran kursi.
Lalu, Prince menyandarkan punggungnya nyaman disana, dan menyandarkan tubuh Isma dalam dekapannya dengan nyaman pula. Ciuman kembali mendarat dipuncak kepala Isma.
BERSAMBUNG
Hay hay Reader. . .
Semangat dan terus jaga kesehatan.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
Terimakasih semuanya. . .
__ADS_1