
Malam ini Fazil melakukan video call dengan kedua saudaranya. Mereka saling menceritakan pengalaman menyenangkan disekolah baru mereka masing masing. Baik Rara maupun Feisal menceritakan hari mereka di tempat baru dan sekolah baru dengan sangat gembira. Sedangkan Fazil, dia hanya menjadi pendengar yag baik.
"Zil, giliran kamu dong yang cerita tentang sekolahmu." Pinta Rara saat ceritanya sudah disampaikn semua.
"Iya dong bro, giliran loe yang cerita." Feisal mendesak agar Fazil menceritakan harinya di sekolah baru.
"Tidak ada cerita. Hanya ada kebohongan dan kepura puraan. Sekolah barunya membosankan." Ujarnya tampa ekspresi.
"Kebohongan dan kepura puraan tentang apa?" Mereka penasaran.
"Tidak ada yang penting, semuanya membosankan." Ulang Fazil yang memang tidak berniat menceritakan apapun. "Udah dulu ya, gue kebelet nih." Fazil mengakhiri perbincangan mereka.
Sementara itu, Azam dirumahnya merasa serba salah. Dia tidak enak mengatakan kata kata kasar seperti tadi siang pada Fazil. Tapi, meski begitu, ada perasaan sedikit lega dihati Azam karena akhirnya bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya selama ini terhadap Fazil.
"Zam, kamu kenapa?" Rina menghampiri anaknya yang melamun dikamarnya.
"Ma. Aku hanya tidak fokus saja." Berusaha menyembunyikan perasaan resahnya.
__ADS_1
"Makanya kita makan dulu, sayang. Mama yakin setelah makan kamu pasti bisa fokus lagi." Menarik tubuh Azam menuju meja makan.
"Nih mama masak rendang kesukaan kamu loh." Mulai mengambilkan nasi untuk Azam lengkap dengan lauk rendang khas buatan Rina sendiri.
Azam pun, mencoba menyantap makan malamnya itu meski tidak begitu berselera. Rina mengetahui hal itu. Dia ingin menanyakan masalah apa yang sedang dihadapi putra semata wayangnya itu. Tapi, keinginan itu diurungkan Rina. Dia tidak ingin menjadi ibu yang terlalu ikut campur urusan anaknya.
KALIMANTAN.
Gabriel baru saja tiba di rumahnya. Dia merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah setelah bekerja seharian. Dia mencoba memejamkan matanya. Namun, saat mata mulai terpejam, sekelumit ingatan tentang percakapannya dengan Elya siang tadi kembali terbayang.
"Riel, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Elya menghampiri Gabriel yang bersiap untuk kembali bekerja setelah istirahat makan siang.
"Kamu benaran Cinta sama adik kamu Rara?" Bertanya langsung tampa ada embel embel perbincangan lain.
Gabriel tidak langsung menjawab. Dia terdiam menatap dalam mata Elya sampai Elya merasa tidak nyaman karena dirinya sangat mencintai Gabriel.
"Kenapa kamu tidak mau menatap mataku, El?" Tanya Gabriel alih alih menjawab pertanyaan Elya padanya.
__ADS_1
"Aku takut, Riel." Suara Elya terdengar sendu. Dia menundukkan pandangannya mencoba menyembunyikan air mata yang hampir tumpah dari pelupuk matanya.
"Takut kenapa, El?"
"Aku takut tidak bisa mengendalikan perasaan yang ada untukmu, Riel." Masih menunduk.
Mendengar jawaban Elya, membuat Gabriel terharu. Dia melangkah mendekati Elya. Perlahan Gabriel menarik dagu Elya agar bisa melihat wajah Elya dan menatap matanya yang sudah berair itu.
"Kenapa menangis, El?" Menyapu air mata dipipi Elya dengan lembut. Lalu Gabriel menarik Elya masuk dalam pelukannya.
"Aku ingin memiliki kamu, Riel. Tapi, aku tahu betapa penting dan berartinya Rara dalam hidupmu." Ucapnya masih dalam pelukan Gabriel.
"Aku sendiri bingung dengan perasaanku, El. Saat masih bersama Rara, aku mengira benar benar mencintainya. Tapi, setelah jauh darinya, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh tentang hatiku." Melepaskan pelukannya. Lalu, Gabriel menatap mata sendu Elya.
"Apa yang kamu rasakan saat tidak lagi bersama Rara, Riel?"
"Entahlah El. Mungkin aku mulai sadar, aku hanya mencintai Rara sebagai seorang adik. Tapi, aku takut mengatakan hal itu pada Rara. Kamu tahu, kan El. Betapa baiknya Dady Prince dan Momy Isma padaku. Mereka memberikan semua kemewahan yang bisa aku nikmati saat ini." Jelasnya.
__ADS_1
Sejenak Elya terdiam. Dia sangat paham apa yang baru saja diakui Gabriel padanya. Sedangkan Gabriel merasa tidak enak untuk mengakui perasaan sebenarnya pada Rara. Dia tidak ingin Rara terluka dan berakhir membencinya.
"Tapi, Riel. Menurutku kamu harus mengatakan yang sejujurnya pada Rara. Jika tidak, yang ada Rara hanya akan terus menunggumu. Dan jika suatu saat nanti kemungkinan kamu jatuh Cinta lagi, dan Rara tahu hal itu, justru akan sangat menyakitinya. Lebih baik jujur sekarang, Riel." Menyarankan agar Gabriel berkata jujur pada Rara secepatnya.