
Pagi ini Isma sama Prince sudah di bandara. Mereka akan segera terbang ke Korea.
"Rina sama Bimo kok lama?"
Isma celingukan melihat dua orang yang tak juga kunjung datang itu.
"Sabar, bentar lagi juga mereka akan datang." Melirik jarum jam ditangannya.
"Adek sudah gak sabar mau tiba di Korea. Ini kali pertama Adek ke korea bersama Rina. Ini akan menjadi sangat menyenangkan." Ungkapnya sangat senang.
Prince merangkul bahu Isma. Ditariknya mendekat, lalu dikecupnya puncak kepala Isma.
"Apa bersama Mas tidak membuat sayang senang?"
"Iiihh, beda Mas. Jalan-jalan sama sahabat itu sangat menyenangkan. Lah kaalu jalan-jalan sama suami itu, Ro-Man-Tis." Ucapnya.
Lalu Isma memberi kecupan di pipi suaminya. Kemudian tangannya menggenggam erat jemari suaminya yang terasa sangat menghangatkan dan menyenangkan untuknya.
"Ehemm... ini bandara loh!" Seru Rina yang baru datang.
"Rina…" Panggil Isma.
Dia melepaskan genggaman tangan suaminya, lalu berlari menyambut kedatangan Rina.
"Kangen..." Ucap Isma langsung memeluk sahabatnya itu.
Memang sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Terlebih sejak Isma yang terpaksa menyembunyikan keberadaanya di Jakarta. Karena khawatir Abi mengetahui itu dan menyeretnya untuk pulang.
Isma dan Prince seperti pasangan yang menikah diam-diam saja. Padahal mereka menikah atas keinginan dan restu Abi sendiri waktu itu.
"Aku juga... kamu sehat, kan?" Tanya Rina.
"Alhamdulillah. Kandunganku juga sehat."
Isma memegangi perutnya yang masih kalah dengan perut Rina yang sudah tampak jelas.
Lalu mereka saling tersenyum senang. Tidak menyangka Allah menitipkan bayi dalam perut mereka secara bersamaan.
"Bentar lagi, kamu akan mengetahui jenis kelamin dedek bayinya." Sambung Isma sambil mengelus perut Rina.
"Iya, tapi aku sama Mas Bimo lebih memilih untuk tidak melakukan pemeriksaan jenis kelamin. Kita mau taunya nanti saja saat sudah melahirkan. Akan lebih special rasanya." Tutur Rina.
"Kalau kamu? Mau?" Tanya Rina.
Isma langsung menggeleng. Ya, dia pun tidak ingin melakukan pemeriksaan jenis kelamain. Dia ingin semuanya terasa seperti hadiah. Yang hanya akan mengetahui isinya ketika telah dibuka bungkus kadonya.
Yang terpenting saat ini, harapan mereka adalah bayi mereka selalu sehat didalam sana. Dan mereka juga diberi kesehatan agar bisa merawat bayi mereka dengan baik.
Di tempat yang berbeda. Suara teriakan terdengar menggema di seluruh sudut rumah.
"Aku benci… aku akan membelas dendam… Aaaghhggh…" Teriaknya.
"Dasar kampungan. Kamu gak berhak mendapatkan itu semua. Harusnya aku yang saat ini bahagia bersama Prince." Rutuknya sambil menangis.
Semua barang di kamarnya hancur berantakan. Bahkan cermin hiasnya juga pecah. Amanda mengamuk sejadi-jadinya. Setiap teringat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Harusnya aku berhasil mendorongnya. Dasar perempuan kampungan. Dia malah membuat aku yang terjatuh. Aarrgghh..." Lagi dan lagi dia berteriak.
__ADS_1
Pembantunya sudah kewalahan harus membersihkan kehancuran kamar itu hampir setiap hari.
Ya, Amanda mengamuk hampir setiap hari. Saat di lokasi shooting dia akan baik-baik saja. Tapi, saat pulang ke rumah, Amanda akan mengamuk. Dia melepaskan segala amarahnya dengan menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya.
"Tunggu pembalasanku Isma. Akan aku pastikan kamu juga tidak bisa memiliki Prince." Tertawa keras dengan tawa yang terdengar menakutkan di telinga orang yang mendengarnya.
"Hahhaahaa... tidak ada yang bisa memili Prince. Jika aku tidak bisa, akan aku pastikan kamu juga tidak bisa memiliki Prince, Isma yang malang…" Sumpahnya penuh tekad.
"Hhwuahahaha…"
Tawa Amanda semakin terdengar jelas. Tawa yang penuh dengan dendam dan kebencian. Mata Amanda ikut mendukung tawa menggelegarnya itu.
"Hah, aku lega. Aku legaaa…" Menghentikan tawanya.
Sebentar Amanda menatap sebuah boneka kecil di sudut kamarnya. Entah sejak kapan boneka itu ada disana. Dengan cepat tangannya meraih boneka itu. Lalu, dengan kuat Amanda mencekik leher boneka dengan sangat kencang.
"Mati… mati… mati kau boneka sialan." Mencabut kepala boneka.
Kepala boneka itu di buangnya sembarangan. Diikuti dengan badan boneka itu. Lalu dia tertawa bahagia.
Oh tidak. Amanda terlihat seperti seorang psycho. Dia sudah hilang kendali. Keinginannya untuk menghancurkan kebahagiaan Prince dan Isma semakin kuat dan meggebu.
"Good bye Isma sayang..." Ucapnya dengan tatapan mata yang berapi-api.
Meninggalkan Amanda. Di Bandung, Umi sedang bercanda tawa bersama Abi dan Arsyid.
"Arsyid, ajak Nenek sama Kakek makan dulu." Panggil Fitri dari dalam rumah.
"Iya, Umi." Sahutnya.
Lalu, Arsyid menarik tangan Kakek dan Neneknya. Dia membawa mereka masuk ke rumah.
"Iya, Abi. Ayok langsung makan." Ajak Fitri.
Dia memberikan piring pada Umi, lalu Umi mengisi piring itu dengan nasi untuk kemudian diberikan pada Abi.
Fitri juga melakukan hal sama, dia mengisikan nasi ke piring. Lalu memberikannya pada suaminya.
"Umi, umi, umi… aku mau makan sama Umi." Teriak Arsyid sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, sini duduk di dekat Umi." Sambut Fitri mengangkat tubuh Arsyid untuk duduk didekatnya.
"Mas Arya mau apa Mas?" Tanya Fitri saat melihat Arya tampak ragu dan bingung.
"Mas boleh ke toilet dulu, sebentar. Sudah kebelet." Bibisiknya di telinga Fitri.
Fitri tersenyum merasa lucu. Dia kira suaminya bingung memilih lauk yang akan dipipih untuk makan. Eh ternyata dia ragu dan bingung karena gak enak mau permisi ke toilet.
"Jangan beritahu Umi sama Abi. Nanti Mas dimarahi." Bisiknya lagi.
"Pergilah." Ucap Fitri berbisik juga.
Melihat Arya yang tiba-tiba meninggalkan meja makan, Umi dan Abi pun bertanya.
"Mau kemana suamimu? Gak sopan meninggalkan meja makan sebelum makan selesai." Celoteh Abi.
"Ada telpon dari kantor katanya, Bi." Kilah Fitri.
__ADS_1
"O begitu, ya sudah kita lanjut makan aja." saran Abi.
Fitri lega, karena tidak mendapat omelan dari Abi dan Umi. Lalu mereka segera menyantap makan siang dengan sangat lahap.
"Astaghfirullah, Umi baru ingat pagi tadi buk Murti mampir, dia minta tolong Umi untuk membantunya menyiapkan makanan untuk hajatan." Ucap Umi.
"Kapan memangnya hajatannya Umi?" Tanya Abi.
"Nanti malam, Abi."
"Ya sudah selesaikan dulu makannya. Nanti Abi antar Umi ke rumah Murti." Saran Abi.
"Mmm…"
"Umi, Abi… Fitri juga nanti mau ke Jakarta dulu. Dapat panggilan darurat dari rumah sakit." Timpal Fitri.
"Sama Arya juga?" Tanya Abi.
"Iya, Bi. Tapi, malamnya langsung balik lagi." Jelasnya.
Sebentar Abi menyudahi mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Nduk, Abi lihat kalian sangat repot harus bolak-balik Bandung. Kenapa tidak tinggal di Jakarta saja?" Sambung Abi.
Ya, sejak Abi sakit sampai saat ini Abi sudah sembuh pun, Arya sama Fitri masih terus bolak-balik Bandung. Mereka masih khawatir untuk meninggalkan Umi dan Abi berdua saja.
"Tidak apa, Abi. Toh Alhamdulillah sejauh ini, kita baik-baik saja."
"Iya sekarang baik-baik saja. Tapi, kalau terus-terusan seperti ini terus, yang ada fisik kalian lelah. Dan berakhir dengan sakit, demam dan sebagainya." Sambung Abi.
"Memang Abi sama Umi baik-baik saja, kalau kita tinggal ke Jakarta?" Seru Arya yang baru kembali dari toilet.
"Tidak apa. Umi kalian ada kok. Biar Umi yang merawat Abi." Jawab Abi sambil merangkul bahu Umi.
"Kalian datanglah ke sini kalau ada waktu segang dan saat libur." Saran Umi.
Lalu Arya dan Fitri tersenyum senang. Mereka lega melihat kedua orangtua mereka sudah baik-baik saja.
Ya, semuanya sudah baik-baik saja. Tapi, jika ditelusuri jauh ke lubuk hati kedua orangtua itu sangat rapuh. Mereka merindukan Isma.
Hanya saja, baik Umi maupun Abi, mereka tidak pernah membahas tentang Isma, karena takut menyakiti atau menyinggung perasaan satu sama lain.
Jadilah, mereka diam. Menahan rindu dan mengenang Isma cukup menyimpan dalam hati dan menyebutnya dalam doa.
BERSAMBUNG. . .
Hay hay Reader. . .👋
Semangat dan terus jaga kesehatan.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
Terimakasih semuanya. . .