Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Season 2 (Chap 7)


__ADS_3

Malam ini Rara tidak bisa tidur. Dia memilih untuk keluar dari kamarnya. Dia melangkah menuju kolam taman belakang. Rupanya, Gabriel duduk dipinggir kolam sendirian sambil melamun.


Rara yang usilpun berinisiatif untuk mengejutkan kakak kesayangannya itu. Rara melangkah perlahan lahan, dia melapisi kedua tangannya dengan ujung jilbabnya. Jaraknya semakin dekat pada Gabriel.


"Duarrr..." Menepuk bahu Gabriel dari belakang.


"Ya ampun..." Teriak Gabriel kaget dan hampir saja jatuh ke kolam, andai tangan Rara tidak menahan kuat bagian belakang baju Gabriel.


"Rara..." Teriak Gabriel kesal.


Sementara Rara hanya tertawa merasa lucu dan segera berlari menjauh dari Gabriel.


"Sini kamu..." Gamit Gabriel yang memasang wajah kesal pada Rara.


"Maaf, kak. Aku hanya ingin bercanda." Ucap Rara sedikit ketakutan.


"Sini, Rara..." Ucapnya geram.


Rara menggeleng dan hendak melangkah untuk kabur. Tapi, sebelum itu terjadi, dengan cepat Gabriel menarik kuat ujung jilbab bagian belakang Rara, sehingga membuat Rara berhenti melangkah. Sebab, apa bila tetap melangkah, bisa bisa jilbabnya terlepas.

__ADS_1


"Ampun kak, ampun..." Rengknya manja, sambil mencoba menarik jilbabnya dari tangan Gabriel.


Gabriel hanya diam. Ditatapnya dalam mata Rara yang tidak fokus menatapnya.


"Kakak ampuni tapi dengan syarat." Masih memegang erat ujung jilbab Rara.


"Syarat apa?"


Sebentar Gabriel memejamkan matanya, lalu menghela napas dalam.


"Tunggu kakak, sampai kakak kembali." Ucapnya lirih.


"Maksud kakak?" Tanya Rara ragu.


Perlahan Gabriel melepas jilbab Rara, lalu dia kembali kepinggir kolam. Duduk disana menatap kelangit. Rara pun akhirnya ikut duduk disebelahnya. Jarak mereka agak jauh dari biasanya. Itu karena Rara merasa ada yang aneh dalam hatinya.


"Maafkan kakak, Ra. Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang kakak rasakan." Sahutnya datar.


"Kecil? Hello... aku 17 tahun loh, kak. Aku sudah bisa mengerti banyak hal tentang orang dewasa." Protesnya.

__ADS_1


"Benarkah?" Menoleh pad Rara.


Rara mengangguk yakin.


"I love you, Almahyra." Ucap Gabriel dengan nada berbisik.


Mendengar ucapan itu, membuat Rara menoleh pada Gabriel, hingga tatapan keduanya bertemu untuk waktu yang lumayan lama. Waktu seakan berhenti berputar. Dunia seakan berhenti dan hanya fokus pada mereka berdua saja.


"Aku sangat mencintaimu Rara. Perasaan ini hadir sejak tahun lalu. Awalnya aku kira karena sangat menyangimu sebagai kakak dan adik. Tapi, ternyata ini berbeda. Aku sangat mencintaimu. Meski kita bertemu setiap saat, tapi aku selalu merindukanmu." Ungkapnya masih dengan nada berbisik.


"Kakak mungkin sakit. Sudah malam, tidurlah kak. Aku rasa kakak terlalu lelah." Ujar Rara pada akhirnya.


Setelah mengatakan itu, Rara pun segera masuk kembali ke kamarnya. Dia membenamkan wajahnya pada permukaan bantal. Ada perasaan senang, karena ternyata cintanya terbalas. Tapi, Rara juga merasa takut. Bukan takut kehilagan Gabriel. Tapi, Rara takut cintanya dan cinta Gabriel akan membuat hancur hubungan kekeluargaan mereka.


Sebenarnya, itu juga yang dirasakan Gabriel. Dia sangat takut, kehilangan Dadi dan Momi. Namun, entah mengapa, malam ini Gabriel tidak mampu lagi menyembunyikan rasa itu. Terlebih, besok dia harus segera berangkat ke Kalimantan.


"Tuhan, kenapa rasa ini hadir. Diantara banyak wanita yang menyukaiku, kenapa harus Rara? Kenapa harus Rara." Mengusak rambutnya.


Gabriel merasa benar benar frustasi dengan keadaan ini. Dia bingung sendiri, sehingga merasa sulit untuk melakukan sesuatu yang mungkin bisa membuatnya menepis rasa yang tumbuh semakin besar itu.

__ADS_1


__ADS_2