
Minggu pagi yang cerah. Prince menemani Isma berjalan-jalan santai di taman kota.
"Sayang, apa gak capek?" Tanya Prince yang mulai khawatir.
"Tidak, Mas. Adek malah senang banget rasanya saat telapak kaki adek menyentuh rumput."
"Kaos kaki sayang yang malah bersentuhan dengan rumput." Ujar Prince tersenyum sambil mengusak lembut kepala Isma.
Dan saat ini Prince menjinjing sendal dan tas Isma di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menggenggam jemari kiri Isma.
"Meski adek menggunakan kaos kaki, embun yang ada di rumput terasa sejuk dan menyegarkan kok di telapak kaki adek." Jelasnya tidak terima dengan sindiran suaminya.
"Iya, sayang…" Mengusak lagi kepala Isma.
Isma tersenyum bahagia. Kemudian mereka kembali melangkah bergandengan meniti rumput-rumput di taman.
Di kejauhan, sepasang bola mata memperhatikan gerak-gerik Isma dan Prince sejak tadi. Seorang pria berpakaian serba hitam, menutup mulutnya dengan masker yang juga hitam, dan memakai topi hitam.
Pria itu sudah mengikuti Prince dan Isma sejak mereka keluar dari apartement.
📱"Apa yang Bos perintahkan, aku laksanakan sekarang." Ujarnya bicara melalui sambungan telepon.
Sepertinya dia sedang bicara dengan orang yang memerintahkannya untuk mengawasi Isma dan Prince.
📱"Baik, Bos. Aku pastikan keinginan bos terlaksana dengan mulus tanpa ada yang bisa menghalangi." Tegasnya.
Matanya masih terus menatap punggung Prince dan Isma di depan sana.
📱"Baik bos. Aku mulai bergerak." Meninggalkan kursinya dan mulai berlari kecil layaknya pria normal yang sedang berolah raga.
Langkahnya semakin dekat pada Isma dan Prince. Entah apa yang ingin dilakukannya dengan tatapan tajam matanya yang terlihat dibalik topi hitam yang dibuat condong untuk menutupi wajahnya.
"Mas, adek capek. Kita istirahat bentar." Keluh Isma.
Segera saja Prince membantu Isma untuk duduk di kursi kayu taman yang tidak jauh dari tempat mereka. Sementara, pria berbaju hitam itu, terpaksa melanjutkan langkahnya melewati Isma dan Prince, tanpa dicurigai.
"Adek mau minum?"
"Iya."
Prince membuka tutup botol air mineral, lalu membantu Isma minum. Sebenarnya Isma bisa melakukannya sendiri, hanya saja Prince yang ingin memanjakan kesayangannya di hari libur ini.
__ADS_1
"Apa perlu Mas bantu pijitkan betis, sayang?"
"Tidak usah, Mas. Adek bisa melakukannya sendiri."
Isma memijit sendiri betisnya dari luar gamisnya. Keningnya mengeluarkan keringat. Dan Prince yang menyadari itu langsung mengelap keringat itu dengan tisu.
"Mas, iih… adek bisa melakukannya sendiri." Protes Isma.
"Udah, sayang diam saja. Biar Mas yang melakukannya." Melanjutkan mengelap keringat Isma.
"Sayang masih mau jalan?"
"Iya. Adek mau jalan sampai ujung sana." Menunjuk jauh kedepan sana.
"Jauh sayang. Nanti sayang terlalu capek."
"Nggak kok, Mas. Pokoknya adek mau jalan sampai sana. Kalau Mas nggak mau nemanin adek, ya udah gak apa-apa, adek jalan sendiri aja." Rutuknya kesal.
Senyum mengembang di bibir Prince mendengar celoteh Isma.
"Anak-anak, sepertinya bunda merajuk." Menyentuh perut Isma.
Isma memanyunkan bibirnya bertambah kesal. Rasanya dia dibuli oleh suami dan anak-anaknya. Melihat bibir manyun itu, tanpa sadar, Prince mencuri ciuman secara cepat.
"Mas, nanti kalau dilihat orang bagaimana." Menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Biarin aja. Halal kok." Menggoda Isma sambil mengedipkan mata.
"Iiihh…" Menutup wajahnya yang merah merona menahan malu.
"Lucunya kesayangan, Mas." Menarik Isma dalam dekapannya.
Saat Isma dan Prince menikmati romansa cinta mereka. Di depan sana, pria tadi masih terus mengawasi.
📱"Akan aku coba sekali lagi, Bos." Ucapnya melalui ponselnya.
Dilihat dari kerutan kening dan tatapan matanya, pria itu sedang dimarahi oleh bos nya karena gagal melaksanakan tugasnya.
📱"Maaf, bos. Tapi, mereka terlihat seakan merasakan kehadiranku. Dan Prince sepertinya mulai menaruh curiga." Ucapnya saat merasa Prince mulai menatap curiga padanya.
Benar, dari tempat duduknya. Prince menatap tajam pria berpakaian serba hitam itu dengan tatapan curiga.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kalau berjalannya kita sudahi saja." Sarannya.
"Kenapa? Adek masih mau berjalan di rumput." Rengeknya manja dalam pelukan suaminya.
"Besok pagi-pagi, Mas temanin adek jalan-jalan lagi."
"Besok kan Mas kerja." Rengeknya kecewa.
"Mas temani sayang sebelum Mas berangkat kerja. Oke!" Seru Prince meyakinkan Isma.
Sebentar Isma diam. Dia menjauhkan diri dari pelukan Prince. Lalu, mulai memakai kembali sendalnya. Tidak lupa Isma menyandang tasnya.
"Sayang, Mas janji besok akan temani sayang jalan lagi." Bujuk Prince mendekatkan wajahnya pada wajah Isma yang cemberut kesal.
"Sayang…" Menangkup kedua belah pipi Isma.
Ditatapnya dalam mata istrinya itu. Mata itu mulai berkaca-kaca. Dengan segera Prince meraih kembali tubuh Isma dalam pelukannya.
"Maafkan Mas. Sayang jangan nangis, ya." Bujuknya sambil mengelus punggung Isma.
"Mas janji besok mau nemanin adek jalan-jalan di rumput lagi?" Tanya Isma untuk menyakinkan dirinya.
"Iya sayang. Mas janji, Insyaa Allah."
Isma mengangguk percaya dalam pelukan suaminya. Kemudian dia mulai tersenyum senang.
BERSAMBUNG
Hay hay Reader. . .
Semangat dan terus jaga kesehatan.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
__ADS_1
Terimakasih semuanya. . .