
Kini Isma berdiri di depan Perusahan GIOK Holding. Hari semakin sore, Isma harus menempuh perjalan sekitar dua setengan jam perjalanan untuk sampai di sini.
"Rina, maaf aku ganggu. Ada hal penting yang mau aku tanyakan." Ucap Isma bicara melalui panggilan telepon.
"Apa, Is?" Jawab Rina yang kini sedang duduk bersandar di dada suaminya.
"Siapa?" tanya Bimo pelan sambil mengelus lembut jemari Rina.
"Isma." Jawabnya pelan.
Lalu Rina kembali fokus pada Isma.
"Hal penting apa, Is?" Ulangnya.
Sebelum menjawab, Isma tersenyum senang. Dia senang mendengar kemesraan pasangan baru itu yang tadi di dengarnya.
"Kamu tau GIOK Holding?"
"Tau lah. Itu kan perusahaan Vino Anggara."
"Kamu kenal juga sama CEO nya?"
"Mhh, Vino itu yang dulu pernah hampir menghancurkan King
Holding. Kenapa memangnya?"
"O gitu. Aku baru tahu. Sekarang aku di depan bangunan perusahaan ini."
"Ngapain?"
"Berjuang."
"Berjuang untuk apa, Isma?"
"Ada deh. Doakan saja. Miss you Rina sayang."
"Isma. . . Jangan bilang kamu mau jadi p***kor."
"What? Kenapa kamu ngomong gitu?"
"Ya, karena Vino itu sudah menikah dan punya anak."
"Ya terserah dia. Yang peting aku mau memperjuangkan sesuatu."
__ADS_1
Isma langsung mengakhiri panggilan yang membuat Rina semakin heran dan melotot bingung layar HP nya.
"Kenapa sayang? Kok ngomong P***or segala?" Tanya Bimo yang ikutan heran.
"Gak tau. Isma katanya mau memperjuangkan sesuatu." Ucapnya ragu.
"Berjuang? Berjuang untuk?"Sambungnya.
"Nggak tau juga. Yang jelas dia tadi nanyain Vino dan GIOK Holding." Jelasnya.
Sebentar keduanya saling bertatapan. Mereka mencoba menerka apa yang sebenarnya diperjuangkan Isma di GIOK Holding.
Dan saat ini, Isma sedang berdiri tepat di depan meja resepsionis.
"Saya mau bertemu Tuan Vino." Ucapnya sambil memberikan kartu nama yang di dapatnya dari pak Sukir.
"Sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya Resepsionis itu sambil memeriksa kartu nama yang diberikan Isma.
"Ee… belum. Tapi, saya benar-benar harus bertemu Tuan Vino sekarang." Ucap Isma sedikit memohon.
Sebentar Resepsionis itu kembali menatap Isma dengan tatapan mencurigai.
"Sebentar. . ." Ucapnya sambil meraih ganggang telepon.
Resepsionis itu menatap lagi pada Isma.
"Nama mbak siapa?" Tanyannya kemudian.
"Isma Ramadhani." Jawab Isma semangat.
Resepsionis itu mengulangi menyebut nama Isma. Lalu sesaat dia mengangguk pelan dan meletakkan kembali ganggang telepon.
"Mari saya antar, mbak." Ajaknya menuntun Isma menuju lift.
Isma di bawa langsung ke ruangan Vino di lantai enam. Dan kini Isma sudah berada di ruangan Vino, dia duduk sendiri. Katanya pemilik ruangan itu sedang mengadakan rapat.
"Bismillah. . . Semoga dia orang baik. Aamiin." Ucapnya pelan.
Tidak berapa lama, seorang lelaki tinggi, tegap dan gagah memasuki ruangan itu. Dia tersenyum senang melangkah menuju sofa di mana Isma duduk di sana sekarang.
"Maaf membuat Buk Isma menunggu." Ucapnya ramah seakan sudah saling kenal sebelumnya.
"Tidak apa, Tuan Vino. Seharusnya saya yang minta maaf karena mengganggu jam kerja Tuan Vino."
__ADS_1
Tiba-tiba lelaki itu terkekeh pelan yang membuat Isma menatap heran.
"Tidak usah panggil Tuan. Panggil Vino saja." Sambungnya.
Isma mengerutkan dahi. 'Kenapa sok akrab gini, sih? apa dulu aku pernah ketemu dia waktu masih kerja sama Bos?' Batinnya.
"Tadi pak Sukri sudah menelpon saya. Katanya Buk Isma mau menemui saya." Jelasnya.
Penjelasan itu membuat Isma paham. Ternyata pak Sukir yang sudah menceritakan tentang kedatangannya.
"Iya, Tuan. Jadi, saya biasa selalu memesan kayu untul Mebel saya dari pak Sukir. Tapi, masalahnya pesanan kali ini tiba-tiba dibatalkan sepihak." Jelas Isma dengan nada sedikit mengiba.
"Maaf sebelumnya buk Isma..." Vino melangkah menuju meja kerjanya. Lalu dia menekan tombol telepon dan meminta Sekretarisnya untuk membawakan kopi untuk Isma.
"Saya yang meminta pak Sukir untuk menyetujui penjualan kayu seharga 5x lipat itu." Sambungnya menjelaskan.
"Loh kok bisa begitu? Apakah Tuan Vino kekurangan uang?" Tegas Isma mulai emosi.
Dengan santai Vino kembali ke sofa di dekat Isma. Lalu dia tersenyum menatap Isma. Sehingga Isma merasa risih dan menundukkan pandangannya.
"Saya tidak kekurangan uang. Tapi, pak Sukir yang butuh uang. Dia mau meminjam uaag dari saya. Sementara, hutang-hutangnya dengan saya sudah terlalu banyak. Saya hanya berniat membantu pak Sukir agar hutangnya tidak lagi bertambah." Jelasnya dengan santai.
Sejenak Isma terdiam. "Tapi tidak seharusnya membatalkan sepihak begitu saja. Sementara saya membutuhkan kayu-kayu itu paling lambat besok pagi, Tuan." Ucap Isma pelan.
"Saya akan meminta orang saya untuk mengirimkan segera nanti malam ke Mebel Buk Isma." Tegasnya.
"Yang benar Tuan?" Tanya Isma antusias.
Vino mengangguk dan tidak lupa senyumnya selalu terlihat sambil menatap wajah Isma yang membuat Isma risih sejak tadi.
"Terimakasih banyak, Tuan. Terimakasih. . ."
Isma lega. Kini satu masalah terselesaikan.
"Panggil Vino saja. Tidak usah panggil Tuan." Sambung Vino yang berhasil merubah senyum di wajah Isma berganti kerutan tak suka.
"Saya lebih nyaman memanggil Tuan saja." Tagas Isma.
"Baiklah." Balas Vino dengan mengangguk.
Isma pun berpamitan untuk segera meninggalkan perusahan itu. Kepergian Isma ditatap oleh Vino hingga Isma menghilang dibawa oleh lift menuju lantai bawah.
Bersambung. . .
__ADS_1