Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Terkurung


__ADS_3

"Sayang, kok belum siap-siap? Penerbangan pukul Sembilan, loh." Seru Prince yang baru saja selesai mandi.


Sedangkan Isma berbaring malas masih menggunakan mukena.


"Batalin aja. Adek gak mau pulang." Sahutnya malas.


Prince menghela napas sebentar tanpa menghiraukan jawaban Isma. Dia mulai memakai pakaiannya yang sudah disiapkan Isma sejak malam tadi.


"Mas. . . Adek takut. . ." Rengeknya.


"Takut kenapa? Naik pesawat?" Tanya Prince tampa menoleh.


"Bukan. Tapi. . . Mimpi adek terasa nyata."


Selesai memakai celananya, Prince memakai kemeja birunya. Masih belum di kancingnya, sehingga memperlihatkan roti sobek nya yang hanya milik Isma seorang.


Prince melangkah menghampiri Isma yang berguling-guling di lantai yang beralaskan sajadah. Dia ikut duduk disana. Diraihnya tubuh itu hingga Isma terduduk dalam pangkuan suaminya itu.


"Mimpi itu hanya bunga tidur sayang. Lagi pula, bukankah adek yang selalu bilang, kalau kita hanya harus percaya pada Allah dan yakin akan ketentuan terbaik yang telah disiapkan untuk hambanya yang sabar dan yakin." Tutur Prince.


"Iya adek tau. Tapi. . . Umi pernah bilang, kalau kita minpi di tengah malam terkadang mimpi itu nyata. Dan adek takut itu menjadi nyata. . ."


"Tapi, bukankah terkadang mimpi itu kebalikan dari yang akan terjadi sebenarnya. Jadi sayang gak usah takut."


"Hhiikksszz. . ." Rengek Isma sambil mengubah posisi duduknya.


Kini Isma duduk menghadap Prince. Dia duduk di pangkuan suaminya itu. Ditatapnya dalam mata lelaki halalnya itu, lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Sedangkan tangannya memeluk erat punggung suaminya.


"Mas ngomong gitu karena belum tahu mimpi adek apa." Rutuknya kesal.


Seulas senyum mengembang dibibir Prince. Dia paling suka saat mendengar Isma merutuk sambil bermanja seperti itu. Dan Prince mengencangkan pelukannya pada Isma.


"Ya sudah, adek cerita mimpinya seperti apa, Mas akan dengarkan." Bujuknya.


Sebentar Isma menyamankan posisi duduknya, tapi tanpa melepas pelukannya dan masih membenamkan wajahnya dibahu suaminya.

__ADS_1


"Adek mimpi, kita sedang bermain di halaman yang sangat luas. Halaman itu berpagarkan pepohonan dan juga ada taman bunga yang sangat indah. . . Adek bermain ayunan di taman itu. Mas yang menarik tali ayunan adek." Tuturnya.


"Itu mimpi yang indah sayang." Sela Prince.


Isma menggeleng membatah ucapan suaminya.


"Mas dengar dulu. Jangan di potong." Protesnya.


"Ok. Mas akan mendengarkan." Tegas Prince semangat.


"Saat kita sedang asik bermain, tiba-tiba Abi memanggil adek. Abi meminta adek untuk menghampirinya. Saat itu Abi berada di dalam Castle. Adek gak tau kenapa tiba-tiba ada castle di sana. Dan. . . Adek masuk ke castle untuk menemui Abi. Tapi. . . Saat adek masuk, pintu castle tertutup. Dan adek terkurung." Tuturnya.


Prince mendengarkan dengan baik dan kini matanya mulai berkaca-kaca. Kenapa mimpi Isma membahas soal Castle?


'Apakah ini yang dimaksud peramal itu.' Batinnya.


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Tanya Prince yang semakin penasaran.


"Adek naik semakin tinggi. Dan adek tiba di lantai paling atas castle. Abi tersenyum melihat adek. Lalu abi menutup pintu itu. Adek terkurung di sebuah ruangan yang indah. Semuanya indah. Apapun yang adek butuhkan ada di sana. Tapi. . . tidak ada Mas, di sana." Sambungnya sedih.


Perlahan Isma mengerakkan kepalanya. Lalu dia mendongak untuk melihat wajah suaminya.


"Lalu, apakah ternyata adek seorang putri yang terkurung di dalam castle suci?"


Prince bertanya hanya untuk mengurangi perasaan khawatir yang mulai berkecamuk dalam hatinya.


"Adek menatap ke luar jendela. Yang terlihat hanya hamparan luas hutan yang sangat hijau. Dan adek tidak bisa menemukan Mas…"


Mata Isma sudah berair dia mengeratkan pelukannya seakan takut kehilangan suaminya saat itu juga.


"Rasanya berhari-hari adek terkurung disana... Tidak... adek tidak merasa terkurung adek bebas melakukan apapun yang adek suka, hanya… saja… adek tak bisa menemukan Mas." Tuturnya sedih.


Pelukannya semakin erat pada suaminya dan dibalas oleh Prince dengan memberikan kecupan dikeningnya.


"Adek sangat menrindukan Mas. Lalu… adek menangis sejadi-jadinya. Tapi. . . Abi malah meminta adek untuk diam dan melupakan Mas. Hhweueee. . ." Tangisnya pecah.

__ADS_1


Dan Prince juga ikut menangis. Dia teringat ramalan yang dikatakan Hendra.


"Mas, kalau nanti Abi meminta Mas untuk pergi. . . Berjanjilah, Mas akan kembali. Kembali menjemput adek. Bagaimanapun caranya, Mas harus jemput adek." Ucapnya dalam tangis.


"Mas tidak akan meninggalkan adek. Mas akan terus berjuang agar kita bisa selalu bersama sampai Allah memisahkan kita sebentar di dunia untuk menuju pertemuan kita di akhirat nanti." Bujuk Prince.


Kata-kata Prince terdengar manis dan menenangkan relung hati Isma. Tapi, sebagai wanita biasa, dia masih merasa sangat takut dan khawatir tentang mimpinya itu.


"Jadi bagaimana? Haruskan kita batalkan penerbangan?" Ujar Prince, saat dirasa istrinya itu lebih tenang.


Isma berpikir, sebentar dia melepas pelukannya. Lalu memeluk lagi bertambah erat.


"Kita pulang. . . Tapi sebentar. Setelah itu kita langsung kembali ke Korea lagi." Jawabnya.


Prince mengangguk setuju. Dilepaskannya pelukan itu. Lalu, Prince berdiri dengan mengangkat tubuh istrinya. Digendongnya tubuh itu menuju kamar mandi.


"Sekarang, sayang mandi dulu."


Isma menurunkan kakinya. Dan kini sudah menapak di depan pintu kamar mandi.


"Mukena adek gimana?" Ucapnya dengan memainkan kain mukenanya berputar-butar.


Prince menggeleng. Beginilah, saat manja istrinya kambuh. Mukena saja males melepasnya sendiri.


"Sini Mas bantu buka."


Isma tersenyum senang. Dia pun berdiri diam dan membiarkan Prince melepas mukena dari tubuhnya.


"Ok selesai. Sekarang, tuan putri silahkan mandi."


Prince membekap kedua pipi Isma hingga membuat bibirnya manyun. Lalu Prince menempelkan bibirnya pada bibir manyun Isma berulang-ulang hingga tujuh kali.


"Sudah. Sekarang, mandi." Membuka pintu kamar mandi.


Isma tersenyum senang. Dia merasa sangat bahagia karena selalu dimanja oleh suaminya itu.

__ADS_1


"Semoga selamanya selalu seperti ini." Ucap Isma saat sudah berada di kamar mandi.


Bersambung. . .


__ADS_2