Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Bocah malang


__ADS_3

"Apa yang bisa aku bantu, Vin?" Mendekati Vino.


"Aku rasa ini akan sangat berat untukmu. Terlebih untuk Isma." Ucapnya pelan.


"Apa itu? Katakan."


"Aku minta tolong untuk merawat Gabriel. Sementara aku ingin menyembuhkan diriku. Jujur aku terkadang mengalami gangguan pada pikiranku. Aku bahkan sempat hampir melukai Gabriel." Ungkapnya.


Sejenak Prince terdiam, ditatapnya tubuh mungil Gabriel yang berbaring lelap diatas tempat tidur.


"Aku akan menjagakan Gabriel. Tapi, aku mungkin akan meminta bantuan pihak panti asuhan. Maafkan aku Vino. Aku tidak mungkin membawa Gabriel pulang bersamaku. Aku tidak ingin membuat Isma tersakiti." Jelas Prince.


"Terserah apa yang ingin kamu lakukan, Prince. Aku hanya tidak ingin tanganku melukai anak yang tidak bersalah itu." Menatap kedua telapak tangannya yang pernah hampir mencekik leher Gabriel.


"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" Merangkul bahu Vino.


"Aku akan berobat. Aku ingin sembuh. Tolong kirim aku ke rumah sakit jiwa. Palsukan namaku, jangan sampai keluargaku tahu tentang aku." Masih dengan tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Baiklah aku akan membantumu." Memberi pelukan pada Vino. Dan Vino menangis pada akhirnya.


Hari itu juga, Prince mengirim Vino ke rumah sakit dengan menggunkan data palsu. Prince juga meminta pihak rumah sakit untuk hanya mengizinkan dia menjenguk Vino.


Sedangkan Gabriel, diantar oleh Bimo kesalah satu pantiasuhan di Bogor. Gabriel menangis mengiba saat Bimo meninggalkannya dengan pengasuh panti.


Meski baru bertemu Gabriel hari ini, Bimo mulai merasa menyukai anak itu. Ya, bocah itu sangat penurut, baik dan juga penyayang. Diperjalanan menuju Bogor tadi, Gabriel mengungkapkan tentang rasa sayangnya pada Prince dan rasa bersalahnya pada Isma.


Masih sangat kecil untuk bisa mengerti tentang hal itu. Dan yang lebih menyayat hati, ketika Gabriel bertanya sebenarnya dia anak siapa? Bimo hampir menitikkan air mata saat itu.


'Bocah yang malang. Semoga kelak bahagia nak. Jadilah anak baik dan sukseslah dimasa depanmu.' Batin Bimo mendoakan.


Arsyid juga sudah pulang bersama Umi dan Abinya. Sedangkan Umi dan Abah Isma, baru saja meninggalkan rumah. Mereka segera kembali ke Bandung karena Abah sudah harus bekerja. Tadinya Umi mau tetap di Jakarta membantu Isma merawat bayi bayinya. Tapi Isma tidak mengizinkan.


Bukannya tidak ingin di bantu oleh Umi. Hanya saja, tidak mungkin membiarkan Abah sendirian di Bandung. Lagi pula, mulai besok Prince sudah meminta pembantu baru untuk membersihkan rumah, masak dan membantu mencuci pakaian.


Jadi Isma dan Prince cukup hanya fokus merawat ketiga buah hati mereka.

__ADS_1


"Katanya sebentar. Ini sudah hampir seharian mereka pergi." Rutuk Rina yang sudah tidak sabar ingin segera pulang.


"Mungkin ada masalah serius di kantor." Sahut Isma.


Rina terdiam sesaat. Ingin rasanya dia mengatakan tentang kecurigaannya terhadap Prince pada Isma. Tapi, mengingat kondisi Isma yang baru saja selesai melahirkan, Rina mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Isma.


"Yah, semoga saja benar urusan kantor." Celotehnya pelan.


Isma hanya tersenyum. Lalu dia kembali menatap wajah Fazil dan Feisal yang mulai terlelap dalam pangkuannya.


"Azam sering rewel saat malam hari?" Tanya Isma pada Rina.


"Tidak juga, Is. Hanya terkadang kalau dia ngompol dan merasa lapar." Tuturnya.


"Aku khawatir, nanti malam adalah malam pertama aku sama Prince mengurus Fazil, Feisal dan Rara."


"Apa saat di rumah sakit mereka rewel di malam hari?" Tanya Rina.

__ADS_1


"Tidak sama sekali. Mereka tidur nyenyak sepanjang malam. Bahkan saat ngompol pun mereka tidak rewel, hanya saja mata mereka menatap dan tidak mau dipejamkan."


"Baik sekali kelakuan mereka, Is. Sebaik kelakuan Ayah dan Bundanya." Puji Rina sambil membelai lembut wajah Rara.


__ADS_2