Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Pembatalan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 10,30. Cahaya matahari yang masuk menembus dinding kaca kamar membuat tidur Rina terusik. Hingga membuatnya membuka mata secara perlahan. Begitu matanya terbuka, bibirnya pun tersenyum.


"I love you, My Husband." Bisiknya pelan, lalu mencium kening Bimo.


Betapa bahagianya Rina yang kini meringkuk indah dalam dekapan penuh kasih suaminya. Matanya tak henti menatap wajah itu, wajah yang membuatnya merasa seakan dunianya akan runtuh tanpa lelaki ini.


Perlahan tangannya menyentuh alis, mata, hidung dan bibir Bimo. Dan tanpa disadarinya, Bimo menikmati sentuhan lembut itu. Karena sebenarnya Bimo juga sudah bangun, hanya saja masih enggan membuka matanya.


"Aku lapar. . ." Ucap Bimo dengan masih memejamkan mata.


Ucapan itu entah mengapa membuat Rina merona dan langsung mencoba menjauhkan diri dari Bimo. Tapi sebelum itu terjadi, Bimo lebih dulu mengurung tubuh Rina di bawahnya.


Rina memejamkan matanya erat-erat. Bimo tersenyum senang melihat Rina. Perlahan dia mengecup kening Rina cukup lama dan dengan penuh kasih.


"Jangan memikirkan yang tak perlu di pikirkan. Pernikahan kita adalah nyata. Dan aku mencintaimu Rina, istriku sayang." Ucapnya sambil memberi kecupan di bibir Rina.


"Sekarang, pergilah mandi. Kita makan diluar." Sambungnya. Dan kini Bimo sudah memakai lagi handuknya yang tadi tergeletak begitu saja di lantai.


"Aku akan mandi di bawah."


Saat itu Rina langsung bangun. Dia masih terbungkus selimut. Matanya terlihat sendu saat mendengar Bimo mau mandi di kamar mandi bawah.


"Hmm, apa kamu mau kita mandi bersama?" Menghampiri Rina.


Dibelainya rambut panjang indah yang hanya dia lelaki beruntung dapat melihat dan menyentuhnya itu.


"Kalau kita mandi bersama… aku tidak bisa menjamin keselamatan istriku tercinta ini…" Bisiknya menggoda.


Mata Rina membelalak ngeri. Lalu dengan cepat dia keluar dari selimutnya. Dengan langkah sedikit tertatih, Rina pun menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Rina benar-benar menggoda saat memakai gaun malam itu." Punjinya begitu melihat jelas gaun malam mini dengan bahan yang sedikit terawang itu membungkus tubuh istrinya.


Sementara pengantin baru yang tengah dimabuk cinta itu menikmati hari cuti mereka.


Di Bandung, Isma tengah sibuk memberikan pengarahan pada tukang pengrajin yang bekerja di Mebel miliknya.


Ya, Mebel Isma telah berdiri sejak dua tahun lalu. Awalnya hanya Mebel kecil dengan dua orang pengrajin saja. Tapi kini Isma bahkan sudah berhasil membagun ruko dua lantai untuk Mebelnya, dengan sebelas pengrajin dan lima orang karyawan.


Toko Mebel Isma memproduksi semua peralatan rumah, mulai dari kursi, meja, lemari, pintu dan peralatan lainnya.


"Mbak Isma, stok kayu jati yang kita pesan di batalkan." Lapor karyawannya.


"Dibatalkan? Kenapa tiba-tiba?"


"Tadi pak Sukir telepon. Dia mengatakan, Semua stok kayu jati yang siap termasuk pesanan kita sudah diborong semua oleh orang kaya dan mereka membayar 5x lipat." Jelasnya.


Isma hanya mengangguk pelan. Sebentar dia menghela napas. Lalu meraih Hp nya yang sejak tadi tergeletak di atas meja kerjanya.


"Tiga belas hari lagi, mbak."


"Berapa kurangnya?"


"Sepuluh lemari lagi mbak. Tapi, stok kayu jati kita masih sedikit dan hari ini penggunaan sisanya saja."


"Baiklah. Saya akan coba menemui pak Sukir langsung." Tekatnya.


"Apa perlu saya temani, mbak?"


"Tidak usah. Saya pergi sendiri." Ujarnya, lalu Isma berlalu mengemudikan mobilnya menuju toko kayu tempat biasa Isma berlangganan memesan kayu .

__ADS_1


"Pak Sukir harusnya bisa memikirkan sedikit saja tentang Saya yang sudah hampir dua tahun berlangganan." Ucap Isma begitu berhadapan langsung dengan pak Sukir.


"Maaf neng Isma. Tapi, saya sebenarnya juga terpaksa. Saya butuh banyak uang juga untuk biaya operasi anak saya." Jelas pak Sukir menyesal.


Isma hanya bisa terdiam. Tidak ada yang bisa di ucapkannya lagi. Ditatapnya wajah lelah, khawatir dan menyesal pak Sukir.


"Baiklah, kalau begitu seharusnya saya yang minta maaf karena datang-datang langsung marah." Ujar Isma.


"Tidak neng Isma. Sungguh saya yang seharusnya minta maaf."


Isma tersenyum, ditatapnya pak Sukir dengan keadaan kaki lecet dan berdarah, sendal yang dipakainya sudah sangat lusuh, jari-jemari tangannyapun melepuh.


Kemudian dia mengeluarkan uang sebanyak tiga lembar berwarna merah dari dalam dompetnya.


"Ini uang untuk beli sandal dan juga beli obat. Tangan pak sukir harus diobati, agar tidak impeksi." Mengulurkan uang kearah tangan pak Sukir.


"Tidak usah neng. Saya sudah. . ."


"Terima saja pak. Anggap sedekah dari saya." Memberikan uang itu ke tangan pak Sukir, lalu mencium punggung tangan pak sukir.


"Saya pamit, pak." Melangkah meninggalkan pak Sukir.


Sedangkan pak Sukir terdiam. Dia merasa sangat bersalah karena membatalkan pesanan Isma hanya karena ingin mendapatkan banyak uang.


"Neng, sebentar…" Berlari mengejar Isma.


"Coba hubungi orang ini, neng. Dia pemilik perkebunan pohon jati yang saya jual ini." Menyodorkan kartu nama.


Dengan senang hati Isma mengambil kartu nama tersebut. Kertas kecil itu bertulisan GIOK Holding, CEO Vino Anggara juga tertera no Telepon dan alamatnya di sana.

__ADS_1


"Kenapa rasannya familiar ya?" Ucapnya pelan sambil mencoba mengingat.


Bersambung. . .


__ADS_2