
Jam makan siang, Rina merengek minta dibelikan kerak telor. Dia bertingkah sangat manja hari ini. Bahkan setengah harian ini, Bimo selalu diminta tetap diruangan Rina.
Beruntunglah, Bos mereka adalah suami dari sahabat baik mereka. Jika tidak, sudah pasti mereka akan mendapat teguran.
"Sayang, kerak telor biasanya adanya pagi atau gak sore. Siang-siang gini mau cari dimana?"
"Gak mau tau. Pokoknya aku maunya makan kerak telor." Rengeknya.
Bimo menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tida gatal. Itu hanya pelampiasan rasa kesal saja.
"Pergilah carikan. Tidak baik menunda keinginan saat ngidam." Seru Prince yang masuk ke ruangan PA nya itu.
"Bos. Ada yang bisa saya bantu?" Sambut Rina yang kini sudah kembali dalam mode on.
Sedangkan Bimo hanya diam berdiri sedikit menundukkan kepalanya.
"Tidak ada. Saya hanya mau pamit pulang lebih awal." Ucapnya, sambil menepuk pelan bahu Bimo.
"Selamat ya Rin atas kehadiran dedek nya. Semoga kandunganmu selalu sehat." Ucap Prince dengan bahasa yang santai.
"Terimakasih, Bos. Tapi. . . Bos tahu dari mana saya mengandung?" Tanya Rina heran.
Prince hanya tersenyum. Dia sebenarnya hanya menebak saja. Karena melihat tingkah Rina yang berbeda dari biasanya. Prince juga menebak dari raut wajah Rina yang tampak lelah, dan agak pucat.
Ya, Prince tahu itu. Jangan lupa. Dia pernah menghabiskan waktunya dengan wanita hamil di masa lalu.
"Bim, pergilah temani Rina membeli kerak telor. Di pasar Tanah Abang ada kok." Saran Prince.
"Kejauhan Bos. Lagi pula, saya harus kembali kerja. . ."
Mendengar Bimo mengatakan kejauhan, Rina merengut kecewa. Dan Prince melihat hal itu merasa senang dan lucu.
'Ya Allah, aku ingin menemani Isma saat nanti dia mengandung.' Batinnya.
"Pekerjaan bisa dilanjutkan besok. Memanjakan istri akan mempermudah segala urusan. Percayalah." Bisik Prince di telinga Bimo.
Bimo tersenyum senang. Dia merasa seakan mendapat saran dari seorang sahabat bukan atasan.
"Bos ke Bandung hari ini?" Tanya Rina.
"Iya. Kenapa Rin"
"Sampaikan salam saya pada Isma. Saya sangat merindukan Isma."
"Insya Allah. . . Nikmati hari kalian." Ucapnya.
Lalu Prince pun berlalu meninggalkan pasangan itu.
Rina dan Bimo pun juga langsung berangkat menuju pasar Tanah Abang.
Begitu tiba di pasar, Rina tidak jadi membeli kerak telor. Dia malah membeli beberapa jajanan pasar.
"Mas aku mau risol, mau mpek-mpek juga." Celotehnya menunjuk jenis makanan yang diinginkannya.
"Buk, tolong risolnya lima, mpek-mpek nya juga lima." Ucap Bimo pada ibuk penjual.
"Kuahnya yang banyak ya, Buk." Sambung Rina.
Selesai membeli gorengan. Rina mengajak Bimo membeli ice cream. Lalu membeli gulali, dan juga membeli sosis goreng.
"Sayang, ini banyak banget. Nanti mubazir kalau gak habis." Protes Bimo.
"Habis kok Mas. Aku kan lapar." Tegasnya.
Bimo menghela napas dalam, kemudian mereka kembali berjalan berkeliling di pasar.
"Mas, aku mau ayam goreng, ikan bakar juga. Eh, mau udang bakar juga. . ." Pintanya.
Bimo membelalakkan matanya. Lalu sebentar dia menundukkan kepalanya.
"Ya sudah yok kita cari rumah makan di dekat sini."
"Gak mau. . . Aku mau yang itu. . ." Menunjuk kedai tempat makan yang berdinding spanduk pecel lele.
"Di sana mana ada udang panggang."
"Ada, itu di sebelah sana. . ." Rina menunjuk kearah tempat menjual berbagai macam lauk untuk makan.
Dengan langkah malas, Bimo mengikuti langkah Rina yang semangat menuju tempat di mana ayam goreng, ikan bakar dan udag bakar serta lauk pauk lainnya berjejer rapi hanya ditutupi kertas bening.
"Siang buk." Sapa Rina.
__ADS_1
"Siang mbak? Mau beli lauk apa?" Tanya ibu itu.
"Ayam goreng, ikan bakar sama udang bakarnya, buk." Sahut Bimo yang kini sudang berdiri di samping Rina.
Tangan Bimo sudah penuh dengan kantong plastik belanjaan Rina. Dan Rina masih mau lagi dan lagi.
Bukan tidak boleh, Bimo senang kalau istrinya bannyak makan. Tapi, masalahnya Bimo takut makanan yang di beli ini akan dibuang. Karena dia tahu, Rina tidak begitu suka dengan semua makanan yang di belinya.
"Berapa, Mas. Satu-satu semuanya?" Tanya ibu itu sambil memasukkan satu ayam goreng ke dalam kantong plastik yang sudah dilapisi koran bekas.
Baru saja Bimo hendak mengangguk dan membuka mulutnya untuk mengatakan iya, eh Rina langsung menyela.
"Lima, buk." Jawabnya semangat.
"Sayang, kebanyakan. Untuk siapa? Apa sayang belikan untuk orang kantor juga?" Protes Bimo.
"Mas, aku lapar. Mas gak tau iihh... Aku habisin kok, tenang aja." Protesnya kesal.
"Lima semua, berarti jumlahnya lima belas, mbak?" Ulang ibu itu memastikan.
"Iya buk." Sahut Rina semangat.
Dan Bimo hanya bisa menghela napas. Sedangkan Rina bahagia karena mendapatkan semua yang diinginkannya.
"Menyesal mengikuti saran Bos untuk membawa Rina ke sini." Rutuknya pelan nyaris tak terdengar oleh Rina.
"Adek mau makan di gazebo taman. Jadi suasananya sejuk giman gitu." Tuturnya bahagia.
"Baiklah tuan Putri." Jawab Bimo lesu.
"Mas gak suka? Ya sudah kalau gitu balik ke kantor aja." Ucapnya kecewa.
"Sayang. . . Mas bukannya gak suka. Hanya saja biasanya sayag lebih suka makan di tempat yang tertutup. Mas hanya khawatir."
"Iya iihhh. . . Terserah." Ujarnya.
Rina sudah naik ke mobil dengan wajah cemberutnya itu. Bimo pun ikut masuk. Dia tahu istrinya kini tengah mengandung. Dan kelakuannya akan selalu berubah-ubah.
Sementara itu, Prince baru saja tiba di rumahnya. Dia pulang hanya untuk menjenguk kakek.
"Sayang, anak Mama. OMG, kamu pulang sayang!" Sambut Mama dengan girangnya.
Dia memeluk erat tubuh putra semata wayangnya itu dengan penuh rasa kerinduan.
Mata Widia membulat saat merasa Prince membalas pelukannya. Pikirnya, Prince telah kembali padanya dan meninggalkan Isma.
"Mama selalu sehat sayang. . ." Melepas pelukan.
Ditatapnya wajah Prince penuh kasih dan kerinduan. Air matanya mulai menetes, merasa haru saat Prince akhirnya menanyakan kabarnya setelah tiga tahun lamanya Prince membencinya.
"Maafkan Prince ya Ma. Selama ini Prince acuhkan Mama." Ucap Prince lembut sambil menghapus air mata di pipi Mamanya.
Dan kembali Widia mendekap tubuh Prince erat. Dia sangat bahagia, akhirnya putranya kembali ke pelukannya.
"Jangan meminta maaf sayang. Mama sedih mendengarnya." Ucapnya.
Prince tersenyum lega. Ya, selama ini dia menjauhi Mamanya karena takut akan terpengaruh kembali untuk meninggalkan islam. Karena pada saat itu, Prince belum merasa teguh dan kuat untuk berpegang pada islam.
Tapi, sekarang Prince sudah yakin dan sangat mantap akan islam. Dan dia juga sudah menguatkan hati untuk tidak terpengaruh dengan keyakinan lamanya dulu.
"Kakek bagaimana, Ma?"
Widia melepaskan diri dari pelukan Prince.
"Kondisi Kakek semakin membaik. Hanya saja, sejak dirawat dirumah, Kakek jadi jarang bicara. Dia hanya diam dan tak mau membuka matanya." Tutur Widia sedih.
Prince hanya diam, lalu dia mengajak Mama nya untuk menemui Kakek. Dan begitu tiba di kamar Kakek. Prince kembali diam. Matanya berkaca-kaca. Hatinya sakit dan juga marah.
Segalanya seakan berputar dalam ingatan Prince. Dia menatap Kakeknya penuh tanya.
"Kenapa Kakek melakukan itu?" Tanya Prince lirih.
Kini dia duduk di pinggir tempat tidur Kakek. Sedangkan Mama hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan putranya itu.
"Prince sangat mencintai Isma, Kek. Prince tidak sanggup jika harus berpisah dengannya walaupun hanya sebentar." Ucap Prince miris.
Dia menekan dadanya yang terasa sangat sesak akibat menahan rasa dendam, benci, sakit dan juga kasih sayang pada lelaki tua yang kini terbaring tak sadarkan diri itu.
Dan Mama, dia mengalihkan pandangannya saat mendengar Prince menyebut nama Isma. Ada kebencian yang membuncak dihatinya.
"Mama kira kamu sudah melepaskan perempuan kampungan itu." Sela Mama judes.
__ADS_1
Sontak Prince menatap tajam kearah Mama.
"Dia bukan perempuan kampung, Ma. Dia Isma Ramadhani, Istriku, duniaku." Tegas Prince.
Dia tidak ingin Mamanya memandang rendah kesayangannya itu.
"Bagusan juga Amanda. . ."
"Amanda bagus untuk Mama. Dan yang terbagus untuk Prince, hanya Isma." Sambungnya menegaskan.
"Kakek, bangunlah. Bantu Prince menyelesaikan pertikaian ini. Pertikaian yang akan membuat Prince terpisah dari Isma." Ujar Prince sedih.
Drriiittt. . . Drriiittt. . .
Iphonenya bergetar. Panggilan masuk dari Mas Arya. Segera Prince menjawabnya.
📱"Assalamu'alaikum, Mas. Ada apa?"
📱"Waalaikumsalam. Kamu dimana?"
📱"Di rumah Mama, Mas. Lagi jenguk kakek."
📱"Bisa bertemu?"
📱"Bisa, Mas? Kapan?"
📱"Sekarang. Nanti aku share lokasi."
📱"Baik, Mas."
Panggilan berakhir. Prince menghela napas dalam. Pundaknya kini terasa sangat berat. Dadanya semakin sesak. Pikirannya hanya terus membayangkan senyum manja Isma.
'Sayang, Mas sangat merindukanmu.' Batinnya.
Ditatapnya sebentar wajah Kakeknya, perlahan Prince memberi ciuman dikening Kakeknya.
"Cepat sembuh, Kek. Bantu Prince. . . Prince takut Kek." Ujarnya.
Setelah itu, Prince langsung bergegas meninggalkan rumah. Mama sempat menghalanginya. Tapi, Prince meyakinkan Mama, kalau dia hanya pergi sebentar. Dan dia akan segera kembali.
Meninggalkan Prince yang tengah mengendarai mobilnya untuk menemui mas Arya. Di Bandung, Isma sedang menatap foto suaminya di kayar iphone baru miliknya.
"Mas, cepatlah datang. Adek sangat merindukan Mas. Adek mau dipeluk Mas, adek Mau tidur di pangkuan Mas." Ucapnya pada foto tersebut.
"Serindu itukah adek sama dia?" Seru Umi sambil menghampiri Isma di kamarnya.
"Umi. . ." Isma tersenyum malu melihat kedatangan Umi.
"Ini, minum dulu jamunya. Supaya adek sehat dan subur juga." Jelas Umi.
"Siap Umi. . ."
Tanpa curiga Isma langsung mereguk jamu tersebut sampai habis.
"Umi, jamunya sudah habis." Ucapnya bangga memperlihatkan gelas yang sudah kosong itu.
"Pintar. Adek selalu pintar meninum obat." Puji Umi.
Sesaat kemudian, mata Isma mendadak terasa sangat berat. Dia bahkan mulai menguap beberapa kali.
"Umi, adek ngantuk." Ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di atas kasurnya.
Begitu meyakini Isma telah tidur nyenyak. Umi membelai wajahnya dan memberi kecupan dikening Isma.
"Maafkan Umi dan Abi, dek. Kami melakukan ini demi kebaikan kita semua sayang." Ucap Umi.
Sebentar Umi menatap gelas kosong ditangannya. Dan jamu yang telah Isma minum habis tersebut, telah umi campur dengan obat tidur. Umi melakukan itu atas perintah Abi.
"Bagaimana Umi? Apa Isma sudah tidur?" Tanya Abi yang melihat dari balik pintu kamar Isma yang dibiarkan terbuka.
"Sudah Abi. Isma sudah tidur. . ." Menatap wajah Isma sendu.
"Abi, apa nggak terlalu kejam untuk Isma? Dia sangat mencintai suaminya. . ." sambung Umi.
"Justru yang Abi lakukan demi membebaskan Isma dari kejamnya perlakuan lelaki tua itu." Tegas Abi yang sudah mengalihkan pandangannya.
"Walau bagaimanapun, dalam tubuh Prince mengalir darah keturunan lelaki tua itu." Sambung Abi.
Umi hanya diam. Ditatapnya wajah lelap Isma.
'Maafkan Umi dek. Semoga Allah melembutkan hati Abi. Maaf Umi egois, Umi sangat mencintai Abi mu. Umi tak sanggup melihat Abi tersiksa karena traumanya.' Batin Umi.
__ADS_1
Bersambung. . .