
Malam ini sangat indah. Bintang bintang bertaburan dilangit. Fazil duduk di balkon kamarnya menatap keindahan itu. Lalu, tanpa disadarinya, ayah dan bunda melangkah menuju kearahnya.
"Sayang." Sapa bunda dan membuat Fazil langsung menoleh.
"Ayah, bunda. Kalian disini?"
"Apa yang sedang kamu pikirkan, nak?" Tanya Isma yang langsung merangkul pundak putranya itu.
"Hanya sekedar melamun, bunda." Kilahnya.
"Jangan berbohong. Ayah tahu kamu sedang ada masalahkan dengan Azam." Tebak Prince.
"Bagaimana ayah bisa tahu?"
"Om Bimo menceritakan semuanya sama Ayah."
"Tadi siang, Om Bimo dan tante Rina datang untuk meminta maaf atas perbuatan Azam sama kamu." Jelas Isma.
"Azam juga datang?" Tanya Fazil penasaran. Dan sebenarnya Fazil merindukan Azam. Disekolah, Azam selalu menghindarinya.
"Tidak sayang. Azam merasa sangat malu untuk bertemu kamu." Isma mengelus pipi putranya.
"Maafkan Fazil, ayah, bunda. Sebenarnya Fazil sudah berusaha meminta maaf duluan pada Azam. Tapi, Azam tidak mau mendengarkan Fazil dan dia juga tidak mau melihat Fazil." Jelasnya dengan wajah sedihnya.
"Tidak apa sayang. Wajar pertengkaran diusia kalian saat ini. Ayah yakin, nanti Azam akan kembali seperti dulu lagi. Kalian akan kembali bersahabat baik. Percayalah." Prince mendekati Fazil dan menyentuh pundaknya untuk membuat putranya itu lebih tegar dan kuat menghadapi masalah seperti ini.
__ADS_1
Sementara itu, Azam mengurung diri di kamarnya. Dia tidak mau datang ke sekolah mulai besok, selama Fazil masih berada disekolah yang sama dengannya.
"Kamu jelaskan dulu apa alasannya sama papa." Teriak Bimo dari luar kamar Azam.
"Aku malu, pa. Fazil membuatku malu dihadapan semua teman teman di sekolah." Teriaknya dari dalam kamar.
"Zam, nak, kamu tidak boleh seperti ini. Fazil pasti punya alasan melakukan ha itu sama kamu." Bujuk Rina.
"Apapun itu alasan Fazil, aku tidak peduli. Pokoknya aku tidak mau ke sekolah selama Fazil masih sekolah disana." Teriakan Azam semakin menjadi, dia bahkan terdengar mengamuk sambil membanting beberapa barang di kamarnya.
"Mas, sepertinya akan lebih baik jika kita tinggalkan saja Azam. Dia butuh waktu untuk sendiri." Rina mengajak suaminya untuk meninggalkan Azam sendirian.
Lain dengan Azam dan Fazil, lain pula dengan Keni. Saat ini dia sedang belajar di kamarnya. Tapi, pikirannya terus teringat pada Fazil. Bahkan suara Fazil terngiang ngiang ditelinganya.
Tok tok.
"Keni, boleh bunda masuk, nak?" Suara lembut itu terdengar diluar kamarnya.
"Boleh bunda." Sahut Keni.
"Lagi belajar ya, nak?" Bunda menghampiri Keni.
"Iya bunda. Apa ada yang bisa Keni bantu?" Tanya Keni pada wanita yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak ada, nak. Bunda hanya ingin memberitahukan berita gembira untukmu." Membelai lembut kepala Keni yang tertutup jilbab.
__ADS_1
"Berita gembira apa, bunda?" Mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah bunda.
"Tadi siang, ada sepasang suami istri yang datang kemari. Mereka ingin membawa kamu pergi bersama mereka ke Turki." Tutur bunda dengan sangat hati hati.
"Turki?" Ulang Keni tidak yakin dengan apa yang didengarnya.
"Iya sayang. Mereka pasangan beda negara. Istrinya orang Indonesia, sedangkan suaminya orang Turki. Mereka sudah menikah hampir 15 tahun dan belum dikaruniai anak." Cerita bunda.
"Tapi kenapa mereka menginginkan Keni, bunda. Kan ada adek adek bayi, atau pun yang masih kecil untuk mereka ajak tinggal bersama." Tanya Keni yang tidak yakin ada orang yang menginginkan untuk menjadikannya anak angkat mereka.
"Kamu benar, tapi, mereka butuh seorang anak yang pintar, cerdas dan juga sudah bisa berpikiran terbuka. Sehingga mereka bisa dengan mudah berkomunikasi tentang hal apapun itu. Karena mereka sudah tidak muda lagi, nak." Bunda menjelaskan.
"Kapan mereka akan menjemputku, bunda?"
"Jika kamu setuju, maka mereka akan langsung menjemputmu besok, nak." Bunda memeluk erat tubuh Keni.
Pikiran Keni tidak bisa berpikir jernih. Haruskah dia ikut ke Turki dengan kedua orangtua barunya yang selama ini selalu diimpikannya memiliki kedua orangtua. Tapi, bagaimana dengan Fazil. Dia baru saja bisa dekat dengan seorang teman untuk pertama kalinya. Tapi masak harus berpisah.
"Bagaimana sayang? Apa kamu setuju?"
Sejenak Keni berpikir. Lalu akhirnya dia mengangguk setuju untuk ikut bersama kedua orangtua barunya ke Turki.
"Mereka akan memberikan yang terbaik untukmu, nak. Mereka ingin kamu menjadi pewaris resmi seluruh kekayaan mereka. Tapi ingat, harta kekayaan bukanlah segalanya sayang. Yang terpenting adalah kasih sayang. Jadi, jika mereka tidak memberi kasih sayang, kamu harus cepat kembali kedalam pelukan bunda." Ucapnya memberi pengertian dan penjelasan pada Keni yang sudah seperti anaknya sendiri.
"Bunda doakan saja, semoga Keni selalu dilindungi dan benar benar mendapatkan kedua orangtua yang baik dan mencintai Keni, sama seperti bunda menyayangi Keni." Ucapnya sambil memeluk erat tubuh bunda yang selama ini dengan sabar merawatnya penuh cinta.
__ADS_1