
Abi terbaring di rumah sakit dengan selang infus yang menempel dipergelangan tangannya. Sementara Umi hanya membutuhkan bantuan pernapasan saja.
Tepat sebelum kehilangan kesadaran, Umi teringat menelpon ambulan. Dan ya, mereka ditemukan oleh perawat saat kondisi sudah tak sadarkan diri.
Sementara itu, Arya sedang menempuh perjalanan menuju Bandung. Saat melihat berita di televisi tentang Pastur tua yang ternyata adalah kakek Prince, Arya langsung berangkat ke Bandung.
"Mas yakin. Kakek Prince penyebab Trauma, Abi dan Umi?" Tanya Fitri masih tak percaya.
"Aku tidak akan lupa. Aku memang sudah sembuh dari trauma menakutkan itu. Tapi, aku tidak akan lupa nama dan wajahnya." Jelas Arya penuh raya yakin.
Fitri terdiam. Pikirannya berkelana penasaran dengan apa yang terjadi pada Isma dan Prince. Baru saja mereka ingin bahagia, kini harus terusik lagi.
'Semoga semua berita itu hanya kebohongan. Dan aku percaya pada Prince.' Batinnya.
"Sayang, sebagai Psikolog, apa tanggapanmu tentang pengakuan kedua orangtua Prince?" Tanya Arya.
"Aku rasa mereka berbohong, Mas."
"Apa yang membuat sayang merasa mereka berbohong?"
"Cara bicara mereka. Pengakuan mereka. . . seakan dibuat-buat..." Tutur Fitri mencoba mengingat kembali ucapan dan cara bicara kedua orangtua Prince.
Kembali ke rumah sakit.
Keadaan Umi sudah mulai membaik. Umi bahkan sudah bangun dan sudah melepas alat bantu napasnya. Sedangkan Abi, masih belum siuman.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Umi lemah dengan masih berbaring menatap kearah Abi.
"Detak jantungnya masih tak beraturan. Kadang sagat lemah, kadang juga sangat cepat. Hal itu membuat aliran darahnya tidak stabil. Semoga saja, suami ibu akan baik-baik saja." Jelas Dokter itu.
Umi mengusap pelan dadanya. Mencoba menenangkan hatinya. Umi beristighfar sebanyak mungkin.
'Ya Allah, lindungi putriku. Kuatkan dia, jaga dia selalu. Aamiin.' Batin Umi mendoakan keselamatan untuk Isma yang masih tak ada kabar.
Dan di sinilah Isma. Masih menangis dalam pelukan suaminya. Prince juga menangis dengan terus menjelaskan dan mencoba membuat Isma percaya padanya.
"Mereka ingin memisahkan kita, sayang. . . Percayalah. Mas sangat mencintai sayang. . . Dan kita harus selalu saling berpegangan tangan yang erat dan saling percaya. . ."
Hati Isma mulai luluh. Dia ingat kembali ancaman yang pernah Amanda ucapkan padanya. Isma juga teringat ancaman Mama padanya yang mengatakan akan memastikan Amanda dan Prince akan bersatu kembali.
Isma istighfar dalam hatinya. 'Kenapa aku melupakan itu. Kenapa aku melupakan ancaman mereka. Ya Allah, betapa lemahnya aku, yang begitu cepat menyimpulkan sesuatu yang ternyata tidak ada kebenarannya.' Sesalnya dalam hati.
Perlahan tangannya yang tadi digunakan untuk memukul suaminya, kini beralih melingkar ditubuh Prince.
Merasakan tangan istrinya sudah melingkar erat ditubuhnya. prince kembali mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku. . ." Ucap Isma terisak sambil membenamkan wajahnya didada Prince.
Air mata yang lebih hangat menetes dipipi Prince menembus puncak kepala Isma. Inilah air mata ketulusan cintanya, kehangatan kasihnya pada wanitanya itu.
"Jangan meminta maaf, sayang. Cukup peluklah aku, jangan membenciku, jangan memintaku menjauh darimu." Ucap Prince.
Isma mendongakkan kepalanya. Dan matanya membola saat melihat darah di leher Prince.
"Mas, leher Mas berdarah. . ." Teriaknya histeris.
Sebelah tanganya menyapu pelan darah di leher Prince, lalu dengan cepat Isma bangkit. Dia berencana mencari sesuatu yang bisa menghentikan darahnya.
Tapi, langkah terhenti. Prince menarik kembali tubuh Isma dalam pangkuannya.
"Mas, aku mau cari obat. . ." Protesnya khawatir.
"Obatnya ada disini. . ." Ucap Prince menyentuh bibir Isma.
Isma bingung, dia tidak mengerti maksud Prince yang mengatakan obat dengan menyentuh bibirnya.
"Maukah sayang menyembuhkannya dengan bibir, sayang." Ucap Prince dengan suara yang entah mengapa membuat Isma merinding.
Sebentar Isma menatap luka dileher suaminya itu. Meski ragu, Isma akhirnya mendekatkan bibirnya ke leher yang berdarah itu. Sesaat Isma bingung harus melakukan apa. Hingga akhirnya, dia menjulurkan lidanya dan menyapu darah yang ada di leher Prince.
Prince tersenyum bahagia. Rasa perih dilehernya kini benar-benar sembuh. Sapuan lidah Isma mengganti rasa perih itu menjadi rasa nikmat yang akhirnya menjalar keseluruh tubuhnya.
Dengan cepat Prince menggendong tubuh Isma menuju tempat tidur. Tidak ada protes dari Isma. Dia hanya mengeratkan lingkaran tangannya di leher suaminya.
Begitu tiba di tempat tidur, Prince membaringkan tubuh Isma dan dia ikut berbaring diatasnya. Kemudian, Prince mendaratkan ciuman di bibir Isma. Ciumannya sangat lembut namun penuh cinta, kerinduan dan ketakutan.
Ya, Prince sangat takut kehilangan Isma. Dia tidak ingin kejadian seperti tadi terjadi lagi.
Prince memperdalam ciumannya, tanpa menyadari Isma terengah kehabisan oksigen. Pikiran Prince sudah berkelana membayangkan wajah bahagia Amanda, Mama dan Papa nya yang mungkin saat ini merasa menang.
"Aaahhh. . ." Sungut Isma sambil memukul Dada Prince, karena dia benar-benar kewalahan dengan ciuman suaminya yang sudah tidak lagi selembut tadi.
Menyadari itu, Prince segela menghentikan ciumannya. Ditatapnya lekat wajah Isma yang kini memerah dengan napas tak beraturan itu.
"Maafkan Mas, sayang. . . Mas terlalu pengecut dan terlalu takut kehilangan sayang." Ucapnya sambil membelai wajah Isma.
Isma menangis, tangisnya pecah. Dia menangis sejadi-jadinya. Prince bingung. Dengan cepat dia turun dari atas Isma. Di dudukkannya tubuh Isma. Di bawanya Isma agar bersandar di dadanya.
Dan Isma masih menangis. Dia hanya menangis, tidak memukul ataupun berontak seperti tadi.
"Sayang kenapa? Mas menyakitimu, maafkan Mas. . ." Tanya Prince khawatir.
__ADS_1
Bukannya diam, Isma semakin menangis keras. Entah apa yang menbuatnya menangis sekeras itu.
'Apa dia takut karena aku menciumnya sebr**al itu?' Batin Prince.
Disentuhnya lembut bibir Isma. Dielusnya pelan punggung Isma.
"Maafkan, Mas. Mas terlalu emosi. . ." Ucap Prince lembut dengan mengecup puncak kepala Isma.
"Mas menakutkan. Mas sangat menakutkan seperti itu. . ." Rengeknya dan tangisnya yang mulai reda.
"Apa Mas mencium sayang terlalu kasar?" Tanya Prince penasaran.
Isma menggeleng. Lalu membalik wajahnya dan membenamkan didada Prince.
"Lalu apa?" Memberi pekukan hangat dengan mengelus rambut Isma.
"Iiitt. . .ii… itu nya, Mas…" Ucapnya ragu dan malu.
"Itu apa?" Tanya Prince lagi.
"Aku merasakannya dan itu menakutkan." Ucapnya cepat tanpa jeda dengan mengeratkan pelukannya di dada Prince.
Sejenak Prince terdiam, mencoba mengartikan maksud ucapan Isma. Setelah memahami itu, Prince tersenyum geli dan akhirnya tertawa malu dan gemas.
"Jangan ketawa. . ." Protes Isma malu.
Wajahnya merona sangat merah. Dia benar-benar malu, dan juga takut saat tadi merasakan itu.
"Kemarin malam sayang gak takut. Kanapa sekarang kok takut?" Tanya Prince masih menahan tawanya.
"Ya. . . Malam itu, aku gak merasakan seperti itu. . ." Jawabnya manja.
"Baiklah, Mas minta maaf karena dia bangun dan mengagetkan sayang. Sampai sayang ketakutan seperti itu." Bujuk Prince dengan kembali membelai rambut Isma.
"Setelah ini, sayang akan sering merasakannya dan membangunkannya." Bisik Prince menggoda Isma.
Isma hanya diam, menahan perasaan malunya.
"Kita sholat Isa dulu yok, sayang." Ajak Prince.
Isma mengangguk. Lalu merekapun pergi berwudhu dan melaksanakan sholat isa berjamaah.
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Readerku.
__ADS_1
Kiritik dan sarannya juga boleh. . .
Terimakasih, karena selalu menyempatkan untuk membaca kisah cinta Prince dan Isma.