Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Prince khawatir


__ADS_3

Setibanya di Jakarta, Isma langsung rebahan. Tubuhnya terasa sangat lelah. Terlebih perutnya yang mulai terasa nyilu. Sedangkan Prince langsung membongkar barang barangnya dari koper. Dia memisahkan pakaian kotor dan bersih.


Semua pakaian kotor dimasukkan kedalam mesin cuci. Sedangkan pakain bersih disusun kembali kedalam lemari.


"Mas, maaf adek gak bantuin. Adek capek." Ucap Isma lemas.


"Iya sayang tidak apa. Mas bisa melakukan sendiri kok. Sayang istirahata saja." Mendekati Isma lalu memberi kecupan dikeningnya.


Lalu, Prince pindah kedapur. Dia membersihkan area dapur yang sedikit berdebu. Maklum, selama ditinggal pembantu pulang kampung, rumah jadi kurang terawat.


Isma yang sangat ingin membereskan rumah, selalu dilarang oleh Prince. Terlebih karena usia kandungan yang semakin membesar.


Ting tong…


Bel berbunyi. Sepertinya Prince kedatangan tamu. Segera dia membuka pintu. Dan benar saja, dia kedatangan Bimo.


"Masuk Bim." Mempersilahkan Bimo masuk.


"Sendirian? Rina sehat?" Tanya Prince yang ikut duduk bersama Bimo di ruang tamu.


"Alhamdulillah sehat. Aku datang mau memberikan ini buat kalian." Sebuah undangan berwarna biru langit bergambar bayi.

__ADS_1


"Aqiqah Azam?" Membuka kertas undangannya.


"Iya. Acaranya akan diadakan dua hari lagi."


"Insya Allah kita datang. Kita juga rindu sama Azam. Apa lagi Isma, dia selalu mutar video Azam yang dikirim Rina lewat Wa." Jelasnya.


"Itu karena bayi kalian belum lahir saja. Kalau sudah lahir, Azam akan terlupakan." Celotehnya.


"Jangan lah. Azam tetap jadi kesayangan kita juga." Sambung Prince.


"Isma mana? Masih di Bandung?" Melihat sekeliling rumah yang terasa sangat sepi.


"Dulu Rina juga gitu pas udah mau dekat lahiran." Seru Bimo.


"Nah minum dulu. Seadanya. Masih pada kosong, belum belanja." Memberikan sebotol jus pada Bimo.


"Thank you." Langsung membuka dan meminumnya.


"Aku khawatir bangat, Bim. Dirumah hanya ada aku sama Isma. Aku udah saranin Isma untuk tetap di Bandung dan lahiran di Bandung. Tapi dia gak mau." Ucapnya khawatir.


"Berdoa saja Prince. Dulu aku juga gitu. Rina mau lahiran, aku sendirian bingung gak tau mau ngapain. Mau nelpon kalian, saat itu kalian mau ke Bandung." Mengingat kejadian saat Rina melahirkan.

__ADS_1


"Sebenarnya, kalau kamu memberi tahu kita bisa menunda keberangkatan ke Bandung." Jelas Prince.


"Ah, sudah lah. Yang sudah lalu biarlah berlalu. Sekarang yang terpenting, kamu harus ada 24/7 untuk Isma." Menyarankan.


"Aku pastikan. Sebelum Isma lahiran, aku akan selalu bersama dia dan gak akan ngantor. Semua pekerjaan aku kerjakan dirumah."


"Jangan sungkan memberi kabar. Ada apa apa langsung hubungi kita aja. Dan rencananya, usai aqiqah Rina mau sering sering datang ke sini."


"Benaran? Apa gak merepotkan, terlebih Azam masih terlalu kecil juga."


"Tenang saja. Aku yang akan selalu mengantar mereka ke sini." Menepuk bahu Prince.


Senyum terlihat diwajah khawatir Prince. Dia sangat khawatir dengan keadaan Isma. Belum lagi, nanti harus melahirkan tiga bayi. Prince menyarankan operasi. Tapi, Isma tidak mau. Dia ingin melahirkan secara normal.


Hal itu membuat kekhawatiran Prince dua kaki lipat. Dia tidak berani bahkan untuk hanya sekedar membayangkan rasa sakit yang akan dialami Isma saat melahirkan tiga bayinya.


"Santai, jangan terlalu menjadi beban. Kasihan Isma. Kalau dia melihat kamu khawatir seperti ini, dia akan ikut khawatir." Ucap Bimo.


Prince hanya mengangguk dan kembali tersenyum. Benar kata Bimo saat ini yang perlu dilakukan hanya doa dan terus bersama Isma hingga proses melahirkan tiba.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2