
Dua minggu kemudian.
Isma dan Prince sudah bisa kembali ke rumah. Mereka dijemput Haris dan Tifah. Sementara Fazil saat ini sedang berada di sekolah.
"Pak Haris, Fazil masih disekolah kan?" Tanya Isma.
"Iya Nyonya."
"Kenapa sayang?" Prince heran melihat Isma yang tiba tiba khawatir.
"Kita ke sekolah Fazil yuk, mas." Ajaknya.
"Kenapa sayang?" Prince merangkul Isma untuk menenangkan kekhawatirannya.
"Mas, aku mau memastikan dia baik baik saja disekolah barunya. Aku takut dia menyembunyikan sesuatu dari kita. Bisa saja dia dibuly di sekolah barunya." Celotehnya.
"Tenang saja Nyonya. Den Fazil baik baik saja di sekolah. Dia punya banyak teman dan disukai semua guru." Jelas Haris.
"Pak Haris yakin?" Kali ini Prince yang bertanya.
"Saya yakin, tuan." Jawab Haris.
"Dengar tu sayang, Fazil punya banyak teman sekarang. Jadi, sayang jangan khawatir ya." Memeluk Isma.
__ADS_1
Meskipun pak Haris mengatakan Fazil baik baik saja dan punya banyak teman, Isma masih tetap khawatir. Dan entah mengapa, memang hatinya selalu mengkhawatirkan Fazil. Mungkin karena Fazil yang kurang dalam bersosialisasi. Sementara Rara dan Feisal lebih unggul dalam bersosialisai.
Di sekolah.
Begitu bel tanda jam istrihat berbunyi. Semua siswa berlarian keluar kelas. Ada yang langsung menuju kantin, ada yang menuju perpustakaan, ada yang menuju lapangan basket, volli, dan ruangan kesenian. Berbeda dengan Fazil, dia merebahkan kepalanya diatas meja, lalu menutup rapat matanya.
"Fazil, kenapa kamu selalu tidur saat jam istirahat. Apa kamu tidak bisa tidur saat malam hari?" Tanya Keni penasaran.
"Kamu sendiri kenapa tetap disini?" Fazil balik bertanya tanpa membuka matanya.
Sejenak Keni terdiam. Dia sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Fazil. "Aku puasa." Jawabnya ragu.
"Kamu puasa setiap hari?" Fazil mulai tertarik dengan perbincangan itu.
"Memangnya kenapa kalau aku puasa setiap hari?" Keni sedikit kesal.
"Aku tidak punya orangtua." Jawab Keni dengan nada agak tinggi. Lalu dia mulai menulis dibuku PR nya.
"Kamu yatim piatu?" Fazil bertanya dengan hati hati.
"Aku tinggal di Panti." Jawabnya. Fazil baru tahu ternyata Keni tinggal di panti.
"Lalu, apakah pengasuh panti tidak memberimu uang jajan?"
__ADS_1
"Ada kok. Pengasuh panti sangat baik dan menyayangi kami semua." Tegasnya.
"Lalu, kenapa kamu berpuasa setiap hari?"
"Uangnya aku tabung." Keni belum pernah menceritakan tentang semua ini pada siapapun selama dia ber sekolah. Tapi, entah kenapa sangat mudah baginya menceritakan pada Fazil tentang siapa dirinya.
"Wah, hebat ya kamu. Untuk apa uangnya kamu tabung?" Fazil semakin penasaran.
"Untuk biaya kuliahku nanti. Aku sudah mengumpulkan uang sejak kelas Lima SD sampai sekarang." Ungkapnya.
Fazil terdiam mendengar semua cerita Keni. Dia kira Keni anak orang kaya. Karena tampilan Keni sama sekali tidak terlihat seperti seorang anak yang tidak punya kedua orangtua. Mungkin karena Keni menggunakan uang jajannya untuk membeli perlengkapan sekolah yang pantas dan nyaman.
"Jangan jangan kamu juga bekerja setelah pulang sekolah?" Tebak Fazil. Dan tebakan itu membuat Keni tidak fokus mengerjakan PR nya.
"Kamu benaran kerja, kan? Kerja dimana?"
"Di toko buku." Jawab Keni jujur.
"Pasti gajinya hanya sedikit, karena kamu bekerja hanya setengah hari saja, kan?" Ucapan Fazil kali ini membuat Keni melotot marah dan tersinggung.
"Meski sedikit, tapi itu halal." Jelas Keni sedikit berteriak.
Fazil tersenyum, dia mulai memikirkan sesuatu dikepalanya. "Bagaimana kalau kamu bekerja di rumahku?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Keni semakin kesal sekaligus penasaran.
Fazil hanya tersenyum, lalu dia kembali merebahkan kepalanya diatas meja. Sementara Keni menatap penuh rasa penasaran dan juga perasaan kesal. Karena menurutnya, Fazil seakan mengejek dirinya.