
Hari-hari berlalu begitu cepat. Isma sering menangis diam-diam saat merindukan Abi dan Umi. Dia menyembunyi kan perasaan sedihnya dari Prince.
Bukan tidak ingin berbagi. Isma tidak ingin Prince terus meminta maaf karena merasa dirinya penyebab perpisahan Isma dengan Umi dan Abi.
Isma paling tidak bisa melihat suaminya bersedih dan merasa bersalah. Sehingga terpaksa dia harus menyembunyikan semua perasaan itu.
Dan Abi, kondisinya masih sama. Ada sedikit perubahan. Abi mulai bisa melangkah tanpa kursi roda dan tanpa bantuan tongkat.
Umi merasa sangat bersyukur akan hal itu. Hubungan Abi sama Umi persis sama seperti beberapa bulan yang lalu. Tidak ada yang mau mengalah untuk meminta maaf terlebih dahulu.
Hubungan Abi dan Umi, seperti dua manusia yang tinggal satu atap di sebuah rumah kontrakan. Padatnya kesibukan membuat mereka tak saling menyapa, bahkan tak saling kenal.
Begitulah perumpanaannya. Arya dan Fitri masih tetap dengan sabar merawat Abi. Membawa Abi ke Jakarta setiap hari minggu untuk memeriksakan kondisi Abi pada Psikiater.
Danhari ini adalah jadwal mereka membawa Abi ke Jakarta. Arya sedang membantu Abi untuk masuk ke mobil. Fitri menggendong Arsyid dan membawa tas ransel berisi mainan Arsyid.
"Sayang, Umi mana?" Tanya Arya yang belum juga melihat Umi
"Umi gak ikut katanya, Mas." Jawab Fitri.
Jawaban Fitri membuat Abah salah tingkah. Fitri melihat jelas setitik kekecewaan di pelupuk matanya saat mendengar Umi tidak ikut. Ini merupakan kali pertama Umi tidak ikut ke Jakarta.
"Kenapa? Apa Umi sakit?"
"Tidak kok. Tadi sehat-sehat saja." Jawab Fitri.
"Ya sudah, kalau begitu kita beragkat tanpa Umi hari ini." Ujar Abi yang perlahan terlelap menikmati suara indah penyanyi klasik kesukaannya.
Fitri dan Arya saling menatap. Lalu mereka tersenyum senang. Ini kali pertama Abi kembali menyebut Umi setelah pertengkaran mereka waktu itu.
Di Jakarta.
Isma dan Prince sedang berada di ruangan dokter Maha Rani. Isma berbaring, sedangkan dokter Maha Rani mendeteksi detak jantung calon bayi dalam kandungan Isma.
Prince dengan setia menggenggam erat tangan Isma.
"Bayinya sangat sehat. Dan usia kandungan buk Isma sudah masuk di minggu ke 17 belas." Tutur dokter Maha Rani.
Prince dan Isma sangat senang mendengarnya.
"Mmh. . ." Dokter Maha Rani ingin menanyakan sesuatu, tapi terasa berat bibirnya untuk bicara.
"Ada sesuatu yang mau dokter bicarakan?" Tanya Prince.
Dokter Maha Rani mengangguk, lalu dia memberi isyarat agar Isma dan Prince duduk di hadapannya.
"Apa ada masalah, Dokter?" Tanya Prince khawatir.
Isma ikut duduk di sebelah suaminya. Tangannya terus mengelus perutnya itu.
"Apa buk Isma mulai merasa agak aneh pada kandung kemihnya?"
"Iya, Dokter."
"Apa yang mulai Buk Isma rasakan?"
"Mulai terasa penuh, ada rasa tekanan juga. Sehingga rasanya saya mau buang air kecil terus menerus." Jelas Isma.
Dokter maharani mengangguk, lalu dia tersenyum sedikit malu-malu.
"Apa Tuan Prince sering melakukan itu. . .?" Tanya dokter Maha Rani ragu.
Prince tersenyum malu. Lalu dia mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Saran saya, cobalah untuk ditahan dulu. Setidaknya selama tiga minggu kedepan. Karena. . . Dalam masa ini, kalau kalian melakukan itu. . . Buk Isma akan sedikit mengalami kewalahan karena tekanan pada kandung kemihnya akan semakin terasa dan dapat membahayakan bayinya juga." Jelasnya.
Isma mengangguk paham. Dia biasa saja mendengar penjelasan dokter Maha Rani. Sedangkan Prince dia tersenyum malu-malu.
Dia malu, teringat selama ini dia tidak mendengarkan saran dokter. Dia sering melakukan itu. Dan baru berhenti dua minggu terakhir. Karena rasa mual dan pusingnya mulai berkurang.
Juga karena melihat kondisi Isma yang semakin terlihat merasa tak nyaman.
"Baik dokter. Terimakasih sudah kembali mengingatkan." Ucap Prince berusaha menepis rasa malunya.
Skipp. . .
Kini Isma dan Prince sedang dalam perjalanan menuju rumah Kakek. Ya, kakek ingin bertemu Isma.
Ini kali kedua Isma bertemu kakek.
"Mas, nanti ada Mama gak ya di rumah?" Tanya Isma khawatir.
Dia sangat takut pada Mertuanya itu. Bukan takut secara pisik, tapi takut ditarik paksa untuk meninggalkan suaminya.
Prince meraih tangan Isma. Digenggamnya erat tangan itu. Lalu diberinya kecupan pada punggung tangannya.
__ADS_1
"Genggam terus tangan Mas. Jangan pernah dilepaskan." Ucap Prince.
Isma mengangguk paham. Lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu Prince.
"Kita hanya menemui kakek. Setelah bertemu Kakek, kita langsung pulang." Ucap Prince.
"Baiklah. . ." Ucapnya mengerti.
Sementara Isma dan Prince sedang menuju rumah Mamanya. Rina dan Bimo baru saja tiba di rumah sakit.
Hari ini merupakan jadwal Rina memeriksa kandungannya. Perutnya sudah nampak besar. Kandungannya sudah memasuki minggu ke dua puluh.
"Pagi dokter." Sapa Rina ramah.
"Pagi buk Rina. Bagaimana kondisi hari ini?" Tanya dokter Maha Rani.
Ternyata Isma dan Rina sama-sama mempercayakan kandungan mereka pada dokter Maha Rani. Tapi, selama ini mereka tidak pernah bicara tentang itu.
Kedua sahabat itu, sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Rina juga sedikit mengurangi untuk bertemu Isma. Dia takut menceritakan cerita yang membuat Isma sedih seperti waktu itu.
"Mau lihat perkembangan bayinya?" Tanya dokter.
Rina dan Bimo mengangguk bersamaan.
"Buk Rina silahkan berbaring?"
Bimo memapah Rina dan membantunya berbaring diatas tempat tidur pasien itu.
Sebuah alat, diletakkan dokter Maha Rani di atas perut Rina. Dia menggerakkan alat tersebut. Lalu nampaklah rahim Isma dilayar monitor.
Dalam rahim itu ada bayi yang sudah memiliki bentuk bayi yang sangat lucu. Sudah terlihat jelas kepala, kuping, hidung, mata dan jari kecil kaki dan tangannya.
Rina meneteskan Air mata. Dia merasa bahagia diperutnya kini bayinya tumbuh sehat.
"Bayi yang sangat sehat." Ucap dokter Maha Rani.
Bimo menundukkan kepalanya, dia memberi kecupan di kening Rina.
"Terimakasih, sayang." Bisiknya bangga.
"Apa Buk Rina masih sering mengidam?"
"Masih tapi tidak se-ekstrim saat berusia 6-12 minggu." Jelasnya.
"Kondisi buk Rina juga sangat sehat. Seringlah mengkonsumsi sayur dan buah. Serta perbanyak minum air putih."
Rina dan Bimo sudah berpindah dan duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter Maha Rani.
Lalu, banyak saran dan juga nasehat dari dokter Maha Rani untuk Rina dan Bimo dalam menjaga kandungan agar tetap sehat dan bertumbuh dengan baik.
Setelah hampir setengah jam mendengar ceramah itu, mereka akhirnya permisi untuk pamit pulang.
"Kita mampir ke super market dulu, sayang." Fokus mengemudikan mobilnya.
"Mau beli apa Mas? Belanja bulanan masih banyak. Kulkas juga masih penuh."
"Beli buah dan sayur segar."
Rina tersenyum bahagia. Betapa perhatiannya suaminya ini.
"Aku mau buah naga sama apel aja. Kalau sayur. . . Sukanya cuma wortel sama kembang kol." Tuturnya.
"Iya sayang. Beli semua yang sayang suka. Tentunya, yang sama dengan saran dari Dokter." Tegasnya.
"Siap suamiku. . ." Jawabnya girang.
Bimo mendekatkan pipinya kearah Rina. Dia memberi isyarat agar Rina memberinya ciuman.
"Apa?" Tanya Rina pura-pura tidak mengerti.
"Sayaaangg. . . Cium." Rengeknya manja.
"Mas fokus lihat kedepan, nanti nabrak loh. . ." Rutuk Rina.
"Cium dulu. . ." Rengeknya.
Akhirnya Rina mengabulkan permintaan Bimo. Satu ciuman mendarat di pipi suaminya itu.
"Terimakasih sayang. Love you." Mengelus puncak kepala Rina.
"Love you too my husband."
Rina merebahkan kepalanya pada bahu Bimo. Hatinya terasa hangat saat berada dekat dengan suaminya.
"Sayang, apa Isma baik-baik saja?" Tanya Bimo.
__ADS_1
Rina tidak langsung menjawab. Dia sedikit merasa cemburu saat Bimo memberi perhatian pada Isma.
Sebenarnya Rina mulai risih dengan perasaan cemburunya yang tidak seharusnya itu. Tapi entah mengapa, setiap kali Bimo menanyakan keadaan Isma, Rina akan merasakan perasaan kesal dan cemburu.
"Baik. Kenapa Mas nanya?" Jawabnya ketus.
Rina menegakkan kepalanya. Dia pun menggeser duduknya menjauh dari suaminya. Pandangannya dialihkan keluar.
Bimo menggelengkan kepalanya. Ya, dia telah melakukan kesalahan. Bimo tahu Rina sangat sensitive saat dirinya membahas tentang Isma diluar konteks pekerjaan.
Tapi, apa boleh buat. Dua hari yang lalu Bimo memergoki Isma menangis diam-diam di toiket umum kantor.
Saat itu Bimo juga baru selesi dari toilet. Begitu keluar, dia melewati toilet wanita. Samar-samar Bimo mendengar isak tangis.
Karena penasaran, dia menanti wanita menangis itu keluar dari toilet. Dan benar, setelah menunggu kurang kebih lima menit. Seseorang keluar dari toilet.
Mata Bimo membola. Wanita itu adalah Isma. Dia melihat dengan jelas mata Isma sedikit bengkak dan merah.
'Kenapa Isma menangis? Apa Prince menyakitinya?' Tanya Bimo dalam hati.
Kecurigaan itu yang masih terus mengganggu pikirannya. Tidak tau harus bertanya pada siapa, makanya Bimo akhirnya bertanya pada Rina. Siapa tahu, Rina sudah tidak seperti dulu lagi saat Isma sudah menikah.
Ternyata dugaannya salah. Rina masih tetap memendam rasa cemburunya pada Isma yang jelas-jelas sahabatnya sendiri dan sudah bersuami.
"Sayang, Mas minta maaf, ya." Meraih pergelangan tangan Rina.
"Minta maaf untuk apa?" Menepis tangan Bimo.
"Sayang, Mas hanya penasaran. Mas kira kamu tahu tentang Isma karena kalian, kan sahabatan." Jelasnya.
"Isma baik-baik saja. Lagi pula ada suaminya yang menjaganya. Kenapa? mas mau menjaganya juga?"
Ssrrtttsszzz. . . .
Suara Ban mobil yang bergesekan dengan aspal. Bimo menginjak kuat rem mobinya. Dia menepikan mobil. Hatinya terasa tersentak kesal mendengar ucapan Rina.
"Mas mau membunuhku?" Teriak Rina yang hampir terhantuk pada bagian depan mobil.
"Sayang, bisa gak sih, berhenti cemburu sama Isma. Mas sudah tidak memiliki perasaan apa-apa untuknya. Hati Mas seutuhnya hanya untuk sayang." Mencoba meyakinkan.
"Iya, aku tahu. Tapi, aku hanya belum bisa mengendalikan hatiku. Rasanya takut dan menyakitkan saat Mas memberi perhatian pada Isma." Jelasnya kesal pada diri sendiri.
Bimo melepas sitbelt nya, lalu menarik paksa tubuh Rina agar masuk dalam pelukannya. Sontak saja sitbelt Rina terlepas begitu saja.
"Mas. . ." Teriak Rina kaget.
"Please, jangan pernah membandingkan diri sayang dengan siapapun. Kamu satu-satunya dan segalanya dalam hidup, Mas." Ucap Bimo ditelinga Rina .
"Hhiikkss. . ."
Rina menangis. Dia memeluk erat tubuh suaminya.
"Sayang kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Bimo khawatir.
Dia memeriksa keadaan Rina yang ternyata baik-baik saja.
"Maafkan aku, Mas. . . Hhiikkkss. . ." Kembali memeluk Bimo.
Bimo pun memberi tepukan pelan dipunggung istrinya itu. Betapa menggemaskan saat sedang cemburu seperti ini.
"Aku juga tidak tahu, kenapa aku masih sangat cemburu saat Mas membahas tentang Isma. . ." Tuturnya menyesal.
"Mas juga minta maaf. Sungguh Mas hanya bertanya saja. Tidak sedikitpun lagi tersisa cinta untuk Isma selain dari cinta sebagai sahabat saja." Jelas Bimo.
Rina mengangguk percaya. Dia masih terus terisak dalam pelukan suaminya itu.
"Kita pulang aja. Aku mau tidur." Rengek Rina.
"Baiklah, kita langsung pulang." Memberi kecupan dikening Rina.
Lalu, Bimo kembali memasangkan sitbelt untuk Rina. Setelah itu, dia langsung mengemudikan mobil menuju rumah.
BERSAMBUNG. . .
Hay hay Reader. . .👋👋
Semangat dan terus jaga kesehatan.😷😉
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
Terimakasih semuanya. . .