Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Season 2 (Chap 30)


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit Fazil dan Tifah langsung keruangan tempat Prince dan Isma dirawat. Begitu pintu ruangan itu dibuka, Fazil mendapati keadaan kedua orangtuanya yang sangat memprihatinkan.


"Ayah, bunda." Fazil memeluk dan mencium kening ayah dan bundanya bergantian.


Isma terbaring dengan bantuan alat pernapasan terpasang dihidungnya. Selang infus juga terpasang dilengannya. Wajah Isma juga terdapat banyak goresan. Termasuk kepala Isma yang juga diperban.


"Bik, ambilkan sesuatu yang bisa menutupi rambut bunda." Pinta Fazil yang tidak ingin rambut bundanya terlihat.


Saat ini Isma tidak memakai kerudungnya, dokter melepaskan saat menjahit bagian puncak kepala Isma yang terluka. Dan kini hanya perban saja yang nenutupi kepala Isma.


"Ini Den." Tifah memberikan selendang yang memang selalu dibawanya dan ditaruh di bahunya.


Segera saja Fazil memakaikan selendang itu dikepala bundanya, sehingga Isma kembali memakai jilbab dan terlihat cantik dimata Fazil.


"Maafkan Fazil karena telat datang menjenguk bunda." Mencium lagi wajah Isma.


Kemudian, mata Fazil tertuju pada ayah yang kondisinya lebih baik dari pada bunda. Prince tidak mrmakai alat bantu pernapasan. Dia juga tidak mengalami luka dibagian kepalanya. Hanya ada selang infus dan sedikit goresan di bawah matanya.


"Ayah, bangun. Ayah harus memeluk bunda supaya bunda bisa lebih tenang dan nyaman." Bisik Fazil ditelinga Prince. Air matanya mulai menetes hingga mengenai pipi Prince.

__ADS_1


Tifah juga ikut menangis melihat keadaan majikannya yang sangat memprihatinkan itu.


Sementara itu, Fitri, Arya dan Arsyid sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mereka sedikit berdebat tentang mengabari Feisal dan Rara.


"Aku rasa kita jangan mengabari Rara dan Feisal dulu, Umi. Kita lihat dulu nanti seperti apa keadaan Uncle dan Aunty. Kalau keadaan mereka sangat kritis, aku yang akan langsung mengabari mereka. Tapi, kalau ternyata tidak begitu mengkhawatirkan, sebaiknya jangan diberi tahu mereka."Jelas Arsyid pada Umi dan Abinya.


Setelah berkenderaan kurang lebih 30 menit, Keluarha Arya tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruangan tempat Isma dan Prince dirawat. Saat mereka masuk keruangan itu, Fazil sedang membaca Qur'an, tangannya menggenggam erat jemari Isma. Sedangkan Tifah duduk disebelahnya.


"Fazil!" Fitri lansung memeluk keponakannya itu.


"Sodakollahul 'aziim." Fazil menyudahi bacaannya. Lalu membenamkan wajahnya dibahu Tantenya itu.


"Maafkan kami datang terlambat." Mengelus punggung Fazil.


"Yang sabar ya nak." Giliran Arya yang memeluk Fazil.


"Terimakasih Om." Jawab Fazil.


"Semoga Uncle dan Aunty baik baik saja." Ucap Arsyid.

__ADS_1


"Kalian tidak mengabari Rara dan Feisal tentang keadaan Ayah bunda, kan?"


"Tidak, Zil. Dan sebaiknya jangan dikabari dulu. Kasihan mereka jika tahu keadaan uncle sama aunty seperti ini." Saran Arsyid.


Fazilpun setuju. Kemudian dia kembali pamit untuk pulang dulu, mengambil pakaiannya, sekaligus jilbab untuk bunda.


"Aku akan mengantarmu." Arsyid pun ikut bersama Fazil untuk pulang mengambil pakaian.


Sementara Abi dan Uminya, juga bik Tifah tetap dirumah sakit menemani Prince dan Isma.


"Tuan Arya, tadi suster memberikan ini pada saya." Tifah memberikan secarik kertas yang didapatnya dari suster.


"Apa ini, bik?" Membuka kertas yang dilipat itu. "Astaghfirullah." Ucap Arya setelah mengetahui tulisan dikertas itu.


"Apa mas?" Fitri mendekat. Begitu melihat tulisan dalam kertas itu, dia langsung membekap mulutnya.


"Suster mendapatkan ini dari mana, bik?" Tanya Arya.


"Katanya kertas itu ditemukan dalam genggaman tangan Tyan Prince." Jelas Tifah.

__ADS_1


Tulisan itu berupa ancaman. (Hari ini adalah kemantianmu. Jnngan mencoba untuk menyelamatkan diri.) Begitu tulisan itu. Entah siapa pengirimnya.


"Aku tidak tahu ternyata selama ini ada orang yang sangat membenci Prince dan Isma." Ujar Fitri merasa tidak percaya.


__ADS_2