Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Season 2 (Chap 11)


__ADS_3

Sarapan pagi.


Isma, Prince dan ketiga anaknya sedang menikmati sarapan pagi mereka sebelum melakukan aktivitas masing-masing.


"Ayah sama Bunda berapa lama di Malaysia?" Tanya Rara.


"Mungkin dua mingguan, sayang." Jawab Isma.


"Terus kita sama siapa di rumah?" Sambung Feisal.


"Tenang saja bro. Kan ada gue yang akan jagain kalian. Jangan takutlah pokoknya." Sahut Fazil.


"Loe mah boro boro mau jaga kita, game aja yang loe jaga. Maling masuk aja nggak bakal tau. Mata loe fokus ke komputer melulu." Rutuk Feisal.


Isma dan Prince hanya tersenyum mendengar percekcokan kecil si kembar.


"Coba saja kalau ada kak Gabriel, pasti kita akan aman." Sambung Rara yang membuat Fazil dan Feisal bereaksi seakan hendak muntah.


"Kak Gabriel udah punya pacar di Kalimantan." Fazil menggoda Rara.


"Siapa bilang. Weekk." Melempar potongan sosis kewajah Fazil.


"Apaan sih. Lempar lempar makanan segala." Rutuknya kesal sambil memakan potongan sosis tersebut.

__ADS_1


"Sudah sudah. Nanti ada bik Tifah. Dia yang akan menemani kalian di rumah selama Ayah dan Bunda di Malaysia." Tegas Prince, hingga membuat si kembar berhenti berantam.


Sementara itu, di rumhnya. Azam baru saja selesai sarapan. Dia memakai sepatunya, lalu bergegas pergi ke sekolah dengan diantarkan oleh supirnya.


"Pak nanti pulangnya tidak usah di jemput. Aku mau main ke rumah Fazil." Ucapnya saat mobil berhenti di depan gerbang sekolah.


"Baik Den." Angguknya setuju.


"Pagi bro." Sapa salah satu tim regu basketnya.


"Siap tempur hari ini?" Tanya Azam.


"Oh tentu. Aku sudah sangat siap dengan semua pertempuran ini." Menyombongkan diri. Lalu mereka melangkah bersama untuk masuk ke kelas.


"Hai, Dis. Gue udah sarapan tadi di rumah. Gimana dong?" Kilah Azam yang memang tidak suka menerima seperti itu dari cewek cewek. Terlebih ini dari Adis cewek terpopuler disekolah.


"Mh, kalau gitu untuk makan siang aja gimana?" Tetap kekeh ingin Azam mengambil makanan itu.


Azam terdiam, lalu menggaruk pelan bagian belakang kepalanya. Sementara itu, sudah banyak mata menatap kearah mereka. Jika Azam mengambilnya maka gosip tentang dirinya berpacaran dengan Adis akan semakin menjadi. Tapi, jika dia menolak, maka Adis akan sangat malu. Karena ini kali pertamanya memberikan bekal pada cowok, biasanya cowok cowok yang memberinya cokelat atau bunga.


"Udah, ambil aja Zam. Kasian Adis, kalau loe nolak tu makanan." Bisik temannya.


Azampun tersenyum. "Ok deh, nanti gue makan pas makan siang, ya." Mengambil kotak bekal itu dari tangan Adis.

__ADS_1


"Cie cie ada yang jadian nih. Mereka serasi banget, bak raja dan ratu." Goda mereka semua yang membuat wajah Adis bersemu merah. Lalu dia melangkah kekelasnya dengan langkah cepat. Sementara Azam diam saja bahkan tidak peduli dengan ucapan ucapan menggoda itu.


Lain Azam, lain pula Feisal. Pagi ini dia memakan bekal buatan Jelita untuknya. Makanan itu perpaduan buah dan telur gulung yang dihias membentuk hati. Tidak lupa, Jelita juga menulis nama mereka diatas gulungan telur itu menggunakan sous sambal dan juga kecap manis.


"Ini indah banget, Jel. Aku jadi nggak tega mau memakannya." Seru Feisal yang kebingungan mau mengambil bagian mana dulu untuk dimakannya.


"Ih, nggak usah gitu dong, Fei. Kamu harus makan, aku mau tahu bagaimana rasanya." Pinta Jelita.


"Ok deh, aku cicip ya." Perlahan Feisal mencicipi bagian telur gulung yang teroles dengan kecap manis.


"Gimana? Enak nggak?" Penasaran.


Feisal mencoba mengunyah makanan yang kini sudah memenuhi mulutnya. Seketika dia mulai merasakan rasa dari makanan itu. Dia pun mulai berakting sekan makanan itu tidak enak dan dia ingin segera memuntahkannya.


"Loh, nggak enak ya?" Khawatir, lalu ikut mencicipi masakannya. "Enak kok?" Protesnya.


"Emang enak. Memangnya siapa yang bilang nggak enak." Goda Feisal yang membuat Jelita ngambek. Dia cemberut dan tidak ingin melihat wajah Feisal untuk sesaat.


"Ih ngambek…" Membujuk Jelita dengan menggodanya.


"Malas ah, kamu ngesalin." Berdiri dan hendak melagkah menuju kelasnya. Tapi, sebelum Jelita melangkahkan kakinya, Feisal lebih dulu meraih tangannya. Jelita tertarik kearahnya dan akhirnya kembali duduk di kursi kayu yang sama dengan Feisal.


"Temanin aku makan dulu. Nanti aku antar deh kamu kekelas." Membujuk Jelita agar tidak ngambek lagi.

__ADS_1


__ADS_2