
Dua minggu kemudian.
Kondisi Abi sudah membaik. Hanya saja dia tidak pernah mau bicara pada Umi. Abi bahkan tidak mau di rawat oleh Umi. Yang kini merawat Abi adalah Fitri dan Arya.
Ya, Fitri telah kembali dari tugasnya di Palembang, lebih awal. Begitu mendapat kabar tentang keadaan Abi dan kepergian Isma bersama Prince, Fitri langsung kembali ke Jakarta.
Kini Abi sedang bermain bersam Arsyid dan Arya. Senyum Abi selalu terlihat saat bersama cucu kesayangannya itu. Sedangka Umi, hanya melihat dari kejauhan.
Hati Umi sedih, karena Abi selalu mendiamkannya dan menolak saat Umi membantu untuk mandi, makan dan memberi obat. Tapi, melihat senyum Abi sedikit mengobati rasa sedih Umi.
Fitri datang menghampiri Umi dengan membawakan segelas air putih.
"Umi." Sapa Fitri.
Dengan cepat Umi menghapus air di sudut matanya. Lalu Umi tersenyum senang pada Fitri.
"Umi melamun lagi?" Tanya Fitri.
Hanya senyum yang terlihat di wajah Umi. Sebentar Umi mereguk air putih.
"Apa Umi terlalu egois? Apa Umi telah menyakitiki Abi terlalu dalam?" Tanya Umi pelan.
Fitri tersenyum lembut. Dipeganggnya tangan Umi.
"Keputusan Umi sudah benar. Hanya Abi yang terlalu berlarut dalam dendamnya."
"Tapi mungkin Abi tidak akan seperti itu, kalau saja Umi tidak memintak Isma pergi. . ."
"Umi justru sudah mengambil keputusan yang tepat. Abi akan sangat tambah menyesal andai Umi tidak meminta Prince membawa Isma pergi. . . Karena, jika suatu saat Abi sembuh, Abi akan menyadari betapa egoisnya Abi karena memisahkan Isma dari Prince. Tapi, karena keputusan Umi tepat, Abi akan berterimakasih pada Umi." Hibur Fitri.
"Kamu yakin, Abi akan berterimakasih pada saat Abi sembuh?"
"Insya Allah yakin Umi." Memeluk tubuh Umi.
"Kamu yakin, saat Abi sembuh Abi tidak membenci Umi, atau mungkin malah bertambah benci. . ." Ucap Umi sedih.
"Tidak Umi. Aku bisa melihat pancaran mata Abi. Abi rindu sama Umi. . . Abi juga merindukan Isma. Jadi, tugas kita saat ini. . ." Fitri berhenti sejenak, lalu mengeratkan pelukan pada mertuanya itu.
"Aku, Mas Arya dan Arsyid, kami akan berusaha merawat Abi dan menyembuhkan Abi dari traumanya. Tugas Umi. . . Doakan agar Abi segera diberi kesembuhan, dan hatinya lembut serta lapang untuk menerima Prince menjadi keluarga kita." Tuturnya.
Umi tersenyum haru. Dikecupnya penuh kasih puncak kepala Fitri.
Sementara itu, di Jakarta. Ya, sebenarnya selama ini Prince tidak membawa Isma ke Korea. Mereka tetap di Jakarta. Prince hanya ke Korea sesekali saja untuk urusan perusahaan.
Pagi ini, Prince bersiap berangkat ke kantor. Sedangkan Isma tengah memasak sarapan nasi goreng udang kesukaan suaminya itu.
"Sayang, kamu masak apa?" Tanya Prince menghampiri Isma.
Dipeluknya tubuh Isma dari belakang.
"Mas, adek lagi masak. Jangan ganggu. . ." Protesnya.
Tapi, Prince tidak menghiraukan protes istrinya. Dia masih terus memeluk Isma dan malah meletakkan dagunya di pundak Isma.
__ADS_1
"Mas, geli ah. . . Udah sana duduk dulu. Bentar lagi sarapannya jadi." Saran Isma.
"Sarapan Apa?" Tanya Prince.
Cup. . .
Satu kecupan di pipi Isma pun berhasil. Lalu, Prince benaran pindah untuk duduk di kursi meja makan.
"Nasi goreng udang ke sukaan Mas sudah jadi. . ." Ucap Isma.
Dia meletakkan sepiring nasi goreng dihadapan suaminya. Awalnya Prince tersenyum senang. Tapi, begitu bau harum dari nasi goreng menyentuh hidungnya, Prince merasa mual.
"Hhueekk. . . Hhueekk. . ." Prince berlari menuju wastafel.
Isma bingung, sebentar dia mencium dan merasai nasi goreng buatannya.
"Gak ada apa-apa, enak kok." Ucapnya heran.
"Hhueekk. . . Hhueekk." Prince muntah lagi berkali-kali.
Isma menghampiri suaminya, membantu mengeluskan punggungnya.
"Mas kenapa? Apa mungkin masuk angin?" Tanya Isma.
Prince menggeleng sambil membersihkan sisa muntah dibibirnya.
"Sayang. . . Perut mas mual. Bau udangnya gak enak. . . Apa udangnya masih bagus? Aah, mungkin udangnya sudah kadaluarsa." Ucapnya lemas sambil memeluk tubuh Isma.
"Tidak kok Mas. Kemarin adek beli udangnya saat masih hidup. Langsung adek masukin ke kulkas. Dan tadi waktu cuci udangnya masih bagus kok." Jelasnya.
Prince muntah lagi. Isma benar-benar bingung dan khawatir.
"Ya sudah, hari ini Mas gak usah ke kantor. Nanti adek telponkan Bimo." Saran Isma.
"Hhmm, dek. . . Mas udah tiga hari gak ke kantor. Apa adek lupa. . ."
"Ah iya. Adek lupa, Mas."
Ya, sudah tiga hari Prince tidak pergi kekantor. Alasannya setiap pagi perutnya terasa mulas, kepalanya pusing. Dan pagi ini malah muntah-muntah seperti seminggu yang lalu.
"Gak apa, toh Mas juga yang punya perusahaan. Lagian kan Mas gak masuk karena sedang tak enak badan." Celetuk Isma.
"Perusahaan memang milik Mas. . . Tapi, gak baik jadi contoh yang buruk untuk karyawan." Jelas Prince lemah.
Kini dia kembali duduk di kursinya sambil menunggu Isma mengolesi roti dengan selai coklat.
"Adek bilang gak usah ke kantor, ya gak usah. Kenapa bawel. Pokoknya gak usah ke kantor." Teriak Isma menegaskan.
Mata Prince membulat. Dia heran, kenapa selama dia sakit, istrinya malah menjadi pemarah dan suka tak mau dibantah. Padahal sebelumnya sangat lembut dan manja.
"Kita ke dokter hari ini. Adek gak mau terjadi sesuatu sama Mas. Apa Mas gak pernah mikirin perasaan adek? Setiap hari Mas selalu kerja, adek ditinggal sendiri dirumah. . . Adek kan udah bilang, adek gak selalu minta banyak uang. Adek cuma butuh Mas." Celotehnya.
Prince hanya diam, padahal kepalanya pusing, perutnya juga masih mual. Eeh, malah harus mendengar ceramah istri tercintanya itu di pagi hari.
__ADS_1
"Mas habiskan rotinya. Adek mau ganti baju dulu."
"Iya, sayang. . ." Jawab Prince patuh.
Saat Isma menuju kamar, Prince hendak menyantap rotinya. Tapi, lagi dan lagi, dia merasa mual. Prince kembali muntah, lalu kembali duduk dan muntah lagi. Begitu seterusnya hingga Isma sudah siap berangkat ke rumah sakit.
"Mas, kok sarapannya gak di sentuh sama sekali?"
"Mas mual dek. Roti itu rasanya aneh." Jawab Prince lemah.
Dia kini terbaring lemah di sofa depan televisi.
"Mas kenapa sih? Kok seperti perempuan ngidam aja. Apa iya Mas lagi ngidam?" Tanya Isma.
Dia menghampiri suaminya itu. Dielusnya lembut wajah Prince yang memucat dan tampak lelah itu.
"Dek, kenapa adek marah terus? Mas benaran sakit loh, perut Mas benaran mual, kepala juga pusing." Rengeknya manja.
Tidak menjawab, Isma malah memindahkan kepala Prince untuk berbantal pada pahanya.
"Mmhh. . ." Prince menghadapkan wajahnya keperut Isma, lalu tangannya melingka dipinggang Isma.
"Mas kuat gak, kita harus ke dokter. Periksa sebenarnya Mas sakit apa?" Sambil mengelus kepala suaminya.
"Adek aja yang periksa. Siapa tahu. . . Ada dedek di sini." Menduselkan hidungnya diperut Isma.
"Geli, Mas. . ." Protes Isma berusaha menghentikan tindaka Prince.
"Sayang jagan marah. . . Mas sedih tau, kalau sayang marah." Manjanya.
Isma tersenyum. Ditundukkannya kepalanya hingga menyentuh tepat dikening Prince. Diberinya kecupan dikening itu.
"Adek gak marah, Mas. Adek hanya khawatir terjadi sesuatu sama Mas." Jelasnya.
"Dek. . . Perut Mas mules lagi." Ucapnya.
"Ya udah cepat adek antar ke kamar mandi." Berusaha mendudukkan tubuh suaminya.
Dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, Prince bangkit. Dia melangkah ke kamar mandi dipapah oleh Isma. Begitu tiba di kamar mandi, Isma meninggalkan Prince. Dia menunggu diluar.
"Mas. . . Apa iya, mungkin adek hamil." Ujarnya yang didengar oleh Prince.
"Sayang periksa, ya." Sahutnya dari dalam kamar mandi.
"Kalau ternyata tidak, bagaimana?"
"Ya gak apa-apa. Toh semua terserah Allah kapan dia mau ngasih. Tapi tidak ada salahnya juga coba periksa, gitu." Sambungnya.
"Iya juga, ya. Ya udah Mas udah selesai belum?"
"Bentar lagi." Sahutnya.
Tak berapa lama Prince keluar dari kamar mandi. Lalu, mereka segera berangkat kerumah sakit.
__ADS_1
Bersambung. . .