
"Kenap bapak sampai memukul Fazil seperti itu? Jika sampai kejadian ini didengar oleh orangtuanya, jabatan bapak bisa bahaya. Bisa bisa bapak di pecat." Tutur pengawas sekolah.
"Aaahh, apa peduliku. Hari ini juga aku akan mengeluarkan ketiga berandalan itu dari sekolah. Aku juga akan menyebar rumor buruk tentang mereka pada semua sekolah di Negeri ini agar mereka tidak bisa bersekolah lagi." Celotehnya emosi.
"Sebenarnya apa yang membuat bapak bisa se emosi ini menghadapi mereka. Jika memang hanya karena foto foto itu, kita bisa tes keasliannya. Bisa sajakan foto foto itu editan. Mereka itu anak anak baik dan pintar pak. Mungkin saja ada oknum yang iri pada mereka dan sengaja menyebar berita bohong seperti ini." Pak pengawas berusaha memperbaiki keadaan.
"Tahu apa kamu. Mereka menghina saya. Mereka mencemooh saya dan bahkan semua ucapan kasar mereka masih saya ingat dengan baik." Tetap dengan kebenciannya.
"Tepatnya kata kasar seperti apa yang mereka ucapkan. Dan apa yang menyebabkan mereka mengucapkan kata kata itu, pak." Tanya Pengawas sekolah yang masih tetap membela Fazil, Rara dan Feisal.
"Saya ini kepala sekolah disini. Apa hak kamu mengadili saya seperti ini. Keluar kamu dari ruangan saya."Teriaknya mengamuk. Dia mulai melempar barang barang yang ada di ruangannya.
__ADS_1
Melihat amukan pak kepsek, pengawas itu pun keluar dari ruangan itu. Dia pun langsung mengabarkan kejadian itu pada pihak yang berwajib, agar segera menyelesaikan masalah ini. Dia sangat takut sekolah ini bisa saja di tutup tiba tiba oleh Prince Wijaya jika tahu anak anaknya dituduhkan pada suatu kasus yang tidak tentu kebenarannya.
Sementara itu, tiga kembar sudah tiba di rumah. Mereka disambut oleh bik Tifah. "Kenapa pulangnya cepat, Den, Non?" Tanya Tifah heran, karena mereka pulang sekolah sangat awal dari seharusnya.
Tidak ada jawaban selain senyum getir dari Rara yang baru merasakan perih di pipi kirinya. Tifah yang menyadari itu langsung mendekati Rara. "Pipi non Rara kenapa? Ini kok seperti bekas tangan?" Memeriksa pipi Rara yang berusaha disembunyikannya.
"Rara ditampar guru di sekolah, bik." Sahut Fazil sambil menaruh tasnya di atas sofa, lalu dia pun ikut duduk di sofa itu.
"Kenapa sampai ditampar begini? Non Rara melakukan kesalahan apa?" Berlari mengambil alat kompres.
"Sini non, bibik kompres pipinya." Menempelkan batu es yang berbalut kain di pipi Rara. "Nyonya sama Tuan belum tahu tentang hal ini?" Tanya Tifah khawatir.
__ADS_1
"Entahlah bik. Mungkin sudah." Jawab Fazil.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Coba cerita sama bibik. Takutnya nanti tuan dan nyonya bertanya pada bibik, eh bibik malah tidak tahu apa apa!" Ujarnya.
"Nanti biar aku yang jelaskan sama Ayah dan Bunda, bik. Jadi, bibik tidak usah khawatir ya." Fazil mencoba menenangkan kekhawatiran bik Tifah.
Sementara itu, Prince dan Isma yang baru saja tiba di bandara Kuala Lumpur, terdiam membaca pesan dari sekolah anak anaknya. Mereka mencoba tetap tenang, dan segera menuju hotel tempat mereka menginap selama di Kuala Lumpur.
"Ini tidak benar kan, mas? Tidak mungkin anak anak…" Ucapannya terhenti, saat Prince menggenggam erat tangannya.
"Percayalah sayang, anak anak tidak seperti apa yang kita lihat dalam foto foto ini." Memperlihatkan lagi foto anak anaknya pada Isma. Dia ingin Isma melihat jelas apa yang ada dalam foto tersebut.
__ADS_1
"Semua karena salahku, mas. Sejak mereka SMA, aku jarang memberi perhatian. Aku bahkan tidak…" Pelukan erat Prince membuat Isma tidak lagi mampu meneruskan ucapannya.
"Jangan menyalahkan dirimu, sayang. Ini bukan salah kamu. Anggap saja ini ujian buat kita, atau mungkin teguran dari Allah, karena selama ini kita sudah mulai lalai dengan kemewahan dunia yang diberi-Nya." Menenangkan Isma yang menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada anak anaknya.