
"Sayang, sudah siap?" Tanya Prince pada Isma yang sedang merapikan cadarnya.
"Sudah, Mas. Kita langsung berangkat ke Bandara?" Mengambil tas kecil sandang miliknya.
"Mampir ke rumah Mama bentar. Katanya kakek sakit." Menggandeng tangan Isma.
"Kakek sakit? Sakit apa Mas, sudah berapa lama?" Tanya Isma tidak sabaran.
"Kebiasaan banget sayang tu kalau nanya sekaligus." Mencubit lembut pipi Isma yang berlapis kain cadarnya.
"Hehehe, maaf. Adek khawatir Mas."
"Kakek sakit biasa, demam. Sudah hampir satu minggu." Jelasnya.
"Kenapa Mas gak pernah cerita kalau kakek sakit?"
"Mas juga baru tahu tadi malam, sayang. Makanya sekarang kita jenguk kakek dulu, setelah itu baru kita terbang ke Korea." Jelasnya.
Isma mengangguk, kemudian merekapun langsung menuju rumah Mama. Begitu sampai, mereka langsung masuk ke kamar kakek tanpa menghiraukan Mama dan Papa yang juga tidak peduli dengan kedatangan mereka.
"Isma, sayang." Panggil kakek.
"Iya, kek." Mendekati kakek.
__ADS_1
"Semoga kamu selalu dalam lindungan Allah. Bayi-bayinya juga bisa lahir normal dan sehat." Ucap kakek sambil menggenggam erat tangan Isma.
"Aamiin ya Allah. Kakek juga harus cepat sembuh." Tersenyum menatap wajah sendu dan lelah kakek.
"Prince, jaga Isma dengan baik. Sebentar lagi kalian akan menjadi orangtua. Insyaa Allah langsung punya tiga anak yang harus dijaga, dididik dan di berikan cinta kasih sepenuh hati." Tutur Kakek.
"Iya kek. Kakek juga cepat sembuh." Memeluk tubuh kakek yang bersandar ditempat tidurnya.
"Ya, kakek akan segera sembuh dan tidak akan sakit sakit lagi." Ucapnya sambil tertawa mengelus punggung Prince dan mengerlingkan mata pada Isma.
"Salam buat Abi dan Umi mu, sayang." Menatap Isma penuh kasih.
"Iya, kek." Mengelus pelan punggung tangan kakek.
"Ya sudah. Kalian pergi sana. Nanti malah ketinggalan pesawat." Mengusir Prince dan Isma dari kamarnya.
Isma hanya mencium punggung tangan kakek saja. Lalu, mereka meninggalkan rumah itu tanpa sepatah katapun terucap untuk Mama dan Papa.
"Mas malu sama sayang." Ujar Prince.
"Malu kenapa, Mas?"
"Sikap Mama dan Papa yang masih saja belum juga bisa menerima kita." Ungkapnya sedih.
__ADS_1
"Tidak usah terlalu dipikirkan, Mas. Adek yakin, akan tiba saatnya Mama dan Papa menerima adek sebagai menantu mereka." Hiburnya.
"Sebentar lagi, bayi bayi kita akan lahir. Adek berharap merekalah yang akan menjadi perantara untuk Mama dan Papa menerima kita." Sambungnya.
"Semoga saja ya sayang." Mencium punggung tangan Isma.
Belum lagi tiba ke bandara. Prince mendapat telepon dari Mama yang mengabarkan kakek telah meninggal.
"Kenapa Mas? Mama bilang apa?" Tanya Isma penasaran.
"Kakek sudah meninggal sayang." Ucapnya sedih.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun." Air mata Isma menetes begitu saja, tubuhnya terasa lemah hingga Isma bersandar di bahu Prince.
"Kakek sudah mendapatkan maaf dari Abi dan Umi. Kakek pasti bahagia dan lega sekarang, sayang." Mencoba menghibur Isma dan dirinya sendiri.
"Harusnya kita tidak meninggalkan kakek terlalu cepat tadinya." Sesal Isma.
"Allah yang telah mengatur segalanya sayang. Saat ini, kita doakan yang terbaik untuk kakek." Mengelus puncak kepala Isma.
Mobil Prince melaju menuju rumah Mama. Meski tubuhnya terasa lemah dan gemetar saat mengetahui kakek telah meninggal, Prince masih bisa mengendalikan mobil dengan baik dan dengan melaju kencang.
"Mas pelan pelan saja. Jangan terlalu ngebut, perut adek mual." Protes Isma saat mobil terlalu melaju kencang.
__ADS_1
Prince mendengarkan keluhan Isma. Mobil akhirnya melaju dengan kecepetan sedang.
BERSAMBUNG...