
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Gabriel kembali ke rumah bersama Rara. Bujukan dan rengekan Rara membuatnya luluh.
Gabriel senang tinggal bersama Isma dan Prince. Hanya saja, dia tidak enak hati, menyadari kejahatan Mamanya waktu itu pada Isma. Gabriel malu menerima semua kebaikan dan kasih sayang dari Isma.
"Kak, mandi dulu. Barengan saja sama Fazil dan Feisal. Rara biar mandi sendiri." Seru Isma dari dapur.
Dia sedang menyiapkan makan malam, sementara anak anak bermain di ruang depan.
"Iya Mom." Serunya.
"Sekarang saatnya mandi." Berlari kecil menuju kamar mandi.
Fazil dan Feisal ikut berlari bersama Gabriel. Sedangkan Rara berjalan lesu menuju kamar mandi di kamarnya.
"Kenapa aku nggak bisa mandi barengan kak Gabriel?" Rutuknya kesal.
"Rara perempuan. Mana boleh anak perempuan mandi bareng ank cowok." Teriak Isma dari dapur.
Dia mendengar rutukan Rara yang sepertinya dengan sengaja mengeraskan suaranya.
"Tapi, Ayah sering kok ikut mandi bersama bunda." Teriaknya.
Mata Isma mebola. Beginilah kelakuan si Rara. Ini semua karena Prince yang sering menemuinya saat mandi.
"Itu berbeda sayang. Sudah jangan membahas itu, atau kamu mau Bunda yang mandikan?" Seru Isma salah tingkah.
"Gak mau. Mendingan mandi sendiri." Berlari masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Isma menggelengkan kepala. Dia masih teringat ucapan Rara. Ternyata selama ini Rara mendengar pembicaraan Prince yang mengajaknya mandi bersama.
"Assalamu'alaikum." Prince sudah pulang.
Isma hanya menjawab salam suaminya dalam hati. Dia terus melanjutkan acara memasak tanpa menyambut suaminya seperti biasa.
"Assalamu'alaikum, ya Humairoh..." Mengulangi salamnya dengan menghampiri Isma.
Sementara humairohnya masih diam dan fokus memasak.
"Sayang, Mas sudah pulang." Meletakkan tas diatas meja makan.
"Iya. Mandi dulu sana." Jawabnya singkat dan cuek.
Prince tidak terima dicuekin begitu. Dia langsung menghampiri Isma dan memeluknya dari belakang.
"Mas jangan sering sering seperti ini dihadapan anak anak." Ucapnya datar.
"Kenapa?" Pura pura tidak paham.
"Rara, dia mau mandi bersama gabriel. Aku melarangnya, terus dia malah bilang gini... Ayah sama bunda sering mandi bareng, kenapa aku tidak boleh?" Mempraktekkan cara bicara Rara.
Prince tertawa. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Lalu mematikan kompor.
"Mas, adek belum selesai masak?" Protes Isma.
"Lanjutkan nanti. Mas sangat merindukan sayang." Menggendong tubuh Isma.
__ADS_1
"Mas, lepas. Nanti dilihat anak anak." Memukul pelan dada bidang suaminya.
"Sebelum mereka melihat, Mas mau menculik sayang." Membawa Isma masuk ke kamar mereka.
Begitu tiba di kamar, Prince langsung membaringkan tubuh Isma diatas tempat tidur.
"Sayang, Mas mau ya. Nanti kita mandi bersama." Memohon.
"Tapi jangan lama lama. Nanti dicariin anak anak gimana?"
"Iya, bentar kok. Janji." Mencium bibir Isma.
"Mas, menurut Mas, kenapa Gabriel tidak mau tinggal disini?" Tanya Isma.
Pertanyaan itu membuat Prince menghentikan kegiatannya. Dia duduk dan menghela napas sebentar. Isma pun ikut duduk di samping suaminya. Sambil menunggu jawaban dari Prince, Isma melepas kemeja Prince.
"Mungkin karena dia tidak sama keyakinan dengan kita." Jawabnya asal.
Sebenarnya, Prince tahu alasan Gabriel tidak ingin tinggal bersama mereka. Hanya saja, dia tidak mau mengatakan itu pada Isma. Karena nantinya, Isma akan merasa sedih dan bersalah saat mengetahui penyebabnya.
"Sekarang, lupakan dulu sejenak masalah itu. Ada masalah yang lebih mendesak dan parah dari itu sayang." Menggelitik perut Isma.
Alhasil, Isma tertawa geli. Prince memanfaatkan itu untuk melancarkan aksinya.
"Baca doa dulu." Protes Isma.
"Sudah sayang, mas sudah baca doanya sejak tadi masih di jalan." Rengeknya manja.
__ADS_1
"Iiihhh, ada ada saja." Mencubit pelan hidung suaminya.