
Hari ini tepat tiga minggu Isma berada di Korea. Dan selama itu juga dia tidak pernah menghubungi Umi ataupun Teh Fitri. Tidak ada alasan lain mengapa dia tak memberi kabar, selain hanya karena dia tidak di izinkan oleh Prince untuk melakukan itu.
Bukan tanpa alasan Prince melarang Isma berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia. Prince khawatir, sesuatu yang buruk akan terjadi saat Isma mulai menggunakan Ponsel.
"Sayang marah, ya?"
Tanya Prince saat melihat wajah sendu Isma yang enggan menatapnya.
Isma menggeleng tanpa menoleh dan dia terus melanjutkan tugasnya memakaikan dasi dileher suminya.
"Mas tahu sayang kangen Umi sama Abi. Mas juga tahu kamu kangen Arsyid. Karena Mas juga kangen mereka sayang."
Prince menangkupkan kedua tangnnya dipipi Isma yang semakin hari semakin tembem itu.
"Maafkan Mas, sayang. Mas masih belum bisa mengizinkan sayang menggunakan HP. Mas sangat khawatir. Kita tahu, banyak orang yang ingin memisahkan kita. Dan Mas gak mau itu sampai terjadi."
Ucap Prince sambil memberi pelukan hangat pada Isma sebelum berangkat kerja.
"Aku khawatir terjadi sesuatu sama Abi dan Umi, Mas. Hanya saja perasaanku tak enak." Ungkap Isma dalam pelukan suaminya.
"Dua hari lagi kita pulang, Mas janji." Ucapnya membujuk Isma yang sedang bersedih.
"Benaran? Mas yang janji." Rengeknya manja.
"Iya my Princess."
Prince melepas pelukannya. Kemudian dia memberi kecupan dikening Isma.
"Mas berangkat kerja dulu. Sayang jangan lupa makan, dan jangan membuka pintu untuk siapapun kecuali orang yang sudah kamu kenal." Pesannya.
Ya, Prince menjadi lebih protective pada Isma demi kebaikan wanitanya itu dan juga dirinya sendiri.
Prince tak ingin kejadian mengerikan terjadi lagi. Dia ingin setidaknya selama mereka di Korea, mereka bisa menghabiskan waktu berdua dengan penuh kebahagiaan.
Dan semua itu memanglah membahagiakan. Saat terbangun Prince menatap wajah pacar halalnya, kemudian mereka akan sholat subuh berjama'ah, masak sarapan berdua dan menonton Tv berdua sambil saling bermanja.
Kebahagian sederhana seperti itulah yang selalu mereka lakukan selama di Korea.
Tapi, beberapa hari ini, Prince terpaksa meninggalkan Isma sendirian di apartemennya. Prince mulai bekerja, karena ada beberapa kekacauan yang terjadi. Terpaksa Prince menghentikan cuti honeymoon nya.
Dan Isma, sendirian di rumah, menghabiskan harinya dengan belajar memasak beberapa makanan Korea. Dan terkadang Isma menjahit pakaian bayi yang dipelajarinya dari salah satu acara variety show di Tv siaran Korea.
Ya, karena sedang di Korea. Jadi semua acara Tv pun juga Korea lah. Tapi tenang, ada subtitlenya kok. Memudahkan Isma memahami bahasa mereka.
Hari semakin sore, Isma yang sedang tidak sholat, menghabiskan waktunya mengerjakan jahitan pakaian bayi nya.
Sudah ada tiga baju yang selesai di jahitnya. Sepasang kaos kaki dan sekarang Isma menjahit hanbok bayi yaitu pakaian tradisional Korea.
"Ternyata sulit dari yang aku bayangkan menjahit hanbok bayi." Ucapnya sambil mempoutkan bibirnya.
"Hhuuaaahhhh. . ."
Isma menguap. Matanya terasa sangat mengantuk. Tapi sebelum tidur dia melirik jam di pojok kiri atas Tv, yang sudah menunjukkan pukul 16.02 sore.
"Bentar lagi Mas pulang." Ucapnya yang kembali menguap.
Dan Isma kembali melanjutkan menjahit, meski matanya sudah sangat berat untuk terbuka. Hingga akhirnya Isma berbaring di sofa depan Televisi.
Meninggalkan Isma yang sudah terlelap dalam tidurnya. Di kantor, Prince baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"Prince. . . Are you okey?" Tanya Hendra yang tiba-tiba masuk ke ruangan Prince.
Hendra menghampiri Prince yang duduk diam di kursinya.
"No." Jawab Prince singkat.
__ADS_1
"Cerita. Gue ingin dengar cerita loe." Saran Hendra.
Meski sangat jarang bertemu Prince, Hendra tetap sahabat yang selalu menjadi orang pertama yang mendengar cerita suka duka Prince.
"Entah mengapa, akhir-akhir ini, gue merasa ada orang yang sengaja mengawasi gerak gerik gue sama Isma." Tuturnya.
"Are you sure?" Tanya Hendra penasaran.
Prince mengangguk yakin.
"Gue khawatir terjadi sesuatu sama Isma saat gue gak ada di dekat dia bro."
"Jangan pernah tinggalin dia. Bawa dia kemanapun loe pergi. Gampang, kan." Ujar Hendra.
"Maunya gue memang gitu. Dan gue rasa Korea masih aman buat hubungan kita, tapi. . ."
"Yaudah, netap aja di Korea." Sambungnya.
"Isma maunya pulang ke Jakarta, Bro. Setiap hari wajahnya sedih mulu. Gue mana tega." Tuturnya.
Hendra menghela napas, kemudian dia duduk nyaman di kursi depan meja kerja Prince.
"Teknologi canggih bro. Saat dia merasa rindu kampung halamannya, loe tinggal suruh dia video call sama keluarganya. Gue yakin dia bakal senyum lagi." Saran Hendra.
"Gue ngelarang dia menghubungi keluarganya bro. Gue juga gak ngizinin dia menggunakan Hp."
"What? Bro loe kok malah jadi over protective gitu? Ya wajar Isma sedih mulu."
"Gue punya alasan, Bro." Tegas Prince.
"Apa alasan loe?" Tanya Hendra sinis.
Sebentar Prince diam, dia bangkit dari kursinya, lalu melangkah menuju tembok kaca ruangannya. Matanya nenatap jauh ke depan sana.
"Gue takut Amanda, Mama dan Papa melacak Ponsel Isma. Mereka selalu melakukan hal-hal gila untuk membuat Isma pergi dari gue." Tuturnya.
"Loe bayangin aja. Gue baru aja nikah sama Isma, Amanda sama Mama sudah menyebar berita kebohongan di media massa yang tersebar keseluruh Indonesia. Dan loe tau apa yang terjadi sama Isma. . ." Sambungnya.
Hendra masih diam. Ya, dia tahu tentang kebohongan itu. Hendra jugalah yang membungkam semua media untuk menghentikan berita bohong tersebut.
"Bro, sebenarnya… sebelum gue mutusin berangkat ke Korea. Gue terima pesan dari teh Fitri kakak ipar Isma. Dia bilang, gue harus bawa Isma pergi jauh dari keluarganya. Dia juga mengatakan, agar gue sebisa mungkin menjauhkan Isma dari Hp. Jangan membiarkan dia nenelpon kedua orangtuanya…"
"Why? Apa alasan dia meminta loe lakuin semua itu. Yang jelas-jelas akan membuat Isma tersiksa karena merindukan keluarganya?" Tanya Hendra bingung.
"Gue juga gak tahu bro. Dan gue masih penasaran dengan pesan terakhirnya yang meminta gue untuk tidak membawa Isma kembali ke Jakarta." Sambung Prince.
Hendra kembali terdiam. Dia juga menjadi penasaran dengan hal itu.
"Izinkan gue cari tahu masalah itu. Dan gue minta loe tahan dulu untuk pulang ke Jakarta."
"Loe butuh berapa hari?" Tanya Prince.
"Mmmh. . . Tiga hari deh."
"Gak bisa bro. Gue janji sama Isma, dua hari lagi kita pulang."
Sebentar Hendra terdiam. Dia mencoba memikirkan sesuatu.
"Ok. Dua hari. Gue coba. Meski agak sulit, karena keluarga istri loe benaran asing bagi gue. Jadi tingkat keberhasilannya tipis." Tuturnya.
Prince mengangguk. Dia setuju dengan ide Hendra yang akan mencari tahu makna yang tersirat dari pesan teh Fitri.
Skiippp. . .
Prince kini sudah sampai di apartemen. Jam sudah menunjukkan pukul 17.35 Sore. Sebentar lagi azan magrib akan berkumandang.
__ADS_1
Begitu masuk ke apartemen, Prince mendapati Isma tertidur lelap di sofa. Sedangkan tangannya masih memegang peralatan menjahit.
"Sayang. . . Kebiasaan selama di tinggal sendiri. Pasti tidur di sofa." Celoteh Prince sambil memisahkan alat jahit dari tangan Isma.
Di gendongnya tubuh Isma menuju kamar. Dan yang digendong hanya mengerang malas sambil mempererat pegangannya di pundak Prince. Sedangkan wajahnya dibenamkannya di dada suaminya itu.
Begitu tiba di kamar, perlahan Prince membaringkan tubuh itu. Lalu tak lupa memberinya kecupan di kening.
"Sayang. . . Bangun. Mandi dulu yuk. Gak baik tidur di waktu sore." Panggil Prince pelan sambil mengelus lembut pipi Isma.
Perlahan Isma mulai mengedipkan matanya. Begitu kesadarannya sedikit terkumpul. Matanya mulai menatap jelas wajah suaminya. Bibirnya pun menyunggingkan senyum bahagia.
"Mas sudah pulang. . ." Tanyanya dengan suara khas orang bangun tidur.
Prince mengangguk sambil tersenyum.
"Mas, Adek kangen sama Mas." Ucap Isma manja sambil memeluk lengan Prince yang mengelus pipinya.
Prince terdiam. Jantungnya dag dig dug mendengar Isma menyebut dirinya adek dengan suara manjanya.
"Kenapa Mas pulangnya telat. Adek nunggu lama tau." Sambung Isma makin manja dan menggemaskan.
"Sayang mau Mas panggil adek?" Tanya Prince yang kini berbaring di sebelah Isma.
Isma mengangguk, sambil tertawa pelan dengan ekspresi menggemaskan.
Sontak Prince mengubah posisi baringnya yang tadi di sebelah Isma, kini telah berada di atas Isma.
"Iih, Mas berat tau..." Rengeknya saat merasa tubuhnya di tindih.
"Sayang yang mulai duluan. . ." Bisik Prince hendak mencium bibir Isma.
Tapi, cepat Isma menepisnya dengan cara menendang bagian bawah Prince menggunakan lutut kakinya.
"Aahh, saa. . . yyaang…" Rintihnya merasa sakit.
"Adek sedang udzur, Mas." Jelas Isma yang sudah duduk sambil tersenyum menatap Prince yang kesakitan.
"Sayang belajar dari mana cara menendang suami seperti ini?" Tanya Prince yang sudah merasa sedikit baikan.
"Gak belajar sama siapa-siapa kok. Itu jurus otomatis untuk melindungi diri saat situasi genting." Ucapnya.
Lalu Isma mengambil handuknya dan juga handuk Prince. Dia melangkah masuk ke kamar mandi.
"Mas mau mandi sendiri atau mandi sama adek?"
Isma bertanya sambil mengedipkan matanya menggoda Prince yang merasa kecewa karena harapannya yang harus ditahan dulu, karena Isma sedang kedatangan tamu bulanan.
"Mau. . . Tapi sayang jangan nakal lagi ya. Sakit tau." Rutuknya sambil melangkah masuk ke kamar mandi.
Isma hanya tersenyum geli mehana tawa. Entah mengapa menjahili suaminya terasa menyenangkan akhir-akhir ini.
"Mas jangan. . . Ampun. Iiihhh curang tau." Teriak Isma dari dalam kamar mandi.
"Sayang yang mulai duluan. Jadi terimalah hukuman ini. . ." Ujar Prince dengan suara menggodanya.
"Hahhhaaaa. . . Iiiihhh geli, Mas. Jangan. . . Hahahha. . .Stop." Gelak tawa Isma terdengar menggema memenuhi ruang kamar mandi.
Entah apa yang mereka lakukan. Dan entah hukuman apa yang diberikan Prince pada kesayangannya itu. Yang pasti bukanlah hukuman yang menyakitkan. Karena tidak mungkin Prince menyakiti wanitanya itu meski hanya seujung kuku.
Bersambung. . .
Terimakasih dukungan Reader dan teman author semua.
Karena kalian, author menjadi tambah berani dan percaya diri untuk terus berkarya.
__ADS_1
Sayang kalian semua... 😍😍😍