
Usai pembicaraannya dengan Prince melalui panggilan telepon. Prince langsung pergi ke kamar mandi untuk berwuduk. Dia pun melaksanakan dua raka'at sholat malam.
Kemudian dilanjutkan dengan membaca Qur'an. Prince membaca surah Al-Mulk. Bacaannya sangat merdu. Dua tahun belajar membaca tulisan arab, dan hasilnya luarbiasa.
Sejak dua tahun lalu, seketika dia melafazkan dua kalimah syahadat, Prince tidak lagi pernah melupakan untuk membaca Qur'an, meski hanya satu ayat sehari.
Malam ini, di atas sajadah. Prince menengadahkan tangannya. Dia bermunajad pada Allah untuk menenangkan perasaan rindu yang semakin menggebu di hatinya.
Prince mengakhiri doanya dengan membaca sholawat sebanyak 100x lalu membaca surah al-fatihah sebanyak 3x. Tak lupa Prince terus menyerukan asma Allah. Bertasbih dan tahmid pun dilakukannya.
Hatinya mulai lebih tenang, dan kini ingatannya membawanya kembali ke masa lalu.
**Saat acara peresmian selesai, tamu undangan sudah pulang. Rina dan Bimo menghampiri Prince.
"Bos, tau nggak Isma kemana?" Tanya Rina.
"Sejak acara dimulai, kita nggak bisa menemukan Isma." Sambung Bimo.
Sebentar Prince merapikan jasnya. Lalu menghela napas pelan.
"Isma sudah resmi memundurkan diri dari kantor."
"Loh kok bisa gitu?" Teriak Rina.
"Bos, jangan menyampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan, dong." Rutuk Bimo terbawa emosi.
__ADS_1
"Dia yang mau berhenti, bukan saya yang memaksanya." Jawab Prince dingin tanpa emosi.
"Dan Bos menerima begitu saja? Bos kan tau, Isma seorang pekerja yang tekun dan disiplin. Isma sekretaris terbaik di Perusahaan…"
"Saya dan Isma punya alasan sendiri tentang hal ini. Lebi baik kalian fokus pada pekerjaan kalian." Tegasnya.
Bimo tersulut emosi saat melihat Prince yang seakan gak peduli sama sekali dengan kemunduran Isma. Bahkan Prince tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Bos, pertimbangkan lagi. . ."
"Kalau kalian masih ingin tetap bertahan di perusahaan, jangan pernah membahas tentang Isma dihadapan saya." Tegasnya lagi dengan datarnya.
Mata Rina melotot kesal. Kenapa Bos memperlakukan Isma seperti ini sejak Bos menikah. Rina tidak habis pikir, dulu hubungan mereka sangat baik, bahkan sesekali orang-orang menggosipkan keduanya.
"Satu lagi, jangan pernah kalian menyebut ataupun membahas tentang saya di hadapan Isma." Sambungnya.
"Loh kok gitu, kenapa. . ." Tanya Rina.
"Baik. Saya akan mematuhi perintah Bos. Saya tidak akan pernah membahas sedikitpun tentang Isma di perusahaan ini. Begitu juga sebaliknya. Saya tidak akan pernah membiarkan Isma mendengar tentang bapak sedikitpun." Tegas Bimo sambil menggenggam erat pergelangan tangan Rina.
"Bim. . . Nggak bisa gitu. . ." Protes Rina.
Bimo mengedipkan matanya, memberi kode agar Rina berhenti membahas permasalahan ini.
"Tapi, Bim. . ."
__ADS_1
Bimo merangkul pundak Rina.
"Baiklah pak, Lebih baik kita istirahat terlebih dahulu. Permisi, pak." Ucap Bimo sambil melangkah dengan menarik tubuh Rina untuk ikut pergi bersamanya.
Prince hanya diam menatap kepergian keduanya. Setelah memastikan dia hanya tinggal sendiri, barulah ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Dadanya terasa sesak. Betapa sakit rasanya menerima kenyataan, Isma kini telah hilang dari pandangannya.
"Semoga kamu selalu bahagia Isma." Ucapnya pelan sambil mengelus dadanya yang semakin terasa pengap.
Tidak terasa bulir putih bening telah menetes dari pelupuk matanya menetes jatuh tepat ke atas sajadah.
"Rasanya baru kemarin aku kehilangan kamu, Isma. Tapi ternyata, sudah sangat lama aku memendam segala kerinduan, dan kesedihan ini."
Tangisnya semakin menjadi. Prince bukannya lemah. Dia menangis untuk menuangkan segala perasaan pengap yang ditahannya selama tiga tahun terakhir.
Tidak ada yang tahu penderitaan yang dipendamnya selama ini, karena Prince merubah dirinya menjadi pribadi yang tegas, dingin dan suka marah-marah. Dia benar-benar menjadi sosok yang ditakuti bukan lagi di segani oleh bawahannya.
'Allah, apakah ini jawaban dari doaku selama ini. Ataukah, ini bagian dari ujian untuk menetapkan hatiku akan agama-Mu? Bimbing aku ya Allah. Kuatkan hatiku untuk tetap tegar dan berpegang teguh pada agama-Mu.'
Air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya. Malam ini merupakan malam yang berat sekaligus membahagiakan bagi Prince. Sebab di tengah tangisnya, ada senyum bahagia membayangkan saat dirinya akan kembali bisa melihat Isma walau dari jauh.
'Tunggu aku Isma…' Batinnya. Tak lupa senyumnya terukir indah di wajahnya.
Bersambung. . .
__ADS_1