
Ini hari ke empat Prince di Korea. Dan benar, dua hari terakhir Prince sudah sangat jarang menelpon Isma. Bahkan hari ini hanya tadi pagi saja Prince menelpon menanyakan kabar Isma dan juga mengabarkan tentang pekerjaannya yang semakin membuatnya sibuk.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, yang artinya di Korea sudah pukul 10 malam. Isma bolak balik mengecek iphonenya. Tapi masih tidak ada kabar dari Prince.
"Ada apa, dek?" Fitri menghampiri Isma yang duduk sendirian di teras rumah.
"Tidak kak. Hanya menunggu kabar dari mas Prince."
Fitri ikut duduk di samping Isma. Lalu dia menarik kepala Isma agar bersandar dibahunya.
"Katanya pekerjaannya akan semakin berat dan membuatnya sibuk." Ungkap Isma.
"Lalu, apa yang membuat adek khawatir?"
"Ya, harusnya sekarang sudah selesai bekerja. Tapi, masih belum memberi kabar." Rengeknya sedih.
"Mungkin sudah tidur. Karena pekerjaan banyak, dia jadi lelah dan setibanya di rumah langsung tidur." Mencoba menenangkan kegundahan hati Isma.
"Apa begitu ya Teh?"
"Iya. Adek harus berpikir positif. Agar bayi bayinya nggak ikut stres loh dek." Mengelus perut Isma.
Isma tersenyum sambil bersandar di bahu Fitri. Dia bersyukur memiliki Fitri sebagai kakak iparnya. Keberadaan Fitri selalu menjadi penenang kegundahan hatinya.
"Adek harus terus berpikir positif, supaya gak jadi pasien Teteh." Mencubit hidung Isma pelan.
"Iih amit amit ya Allah. Jangan sampai adek jadi pasien Teteh." Pindah dari posisi nyamannya.
Kini Isma tidak lagi bersandar pada bahu Fitri. Dia duduk tegap sambil menatap langit yang dipenuhi bintang bintang.
__ADS_1
"Kita punya Allah yang selalu menguatkan. Selama Allah bersama kita, semuanya akan baik baik saja." Ujar Isma.
Fitri tersenyum senang. Dia bangga sama Isma yang selalu tegar dan selalu menjadi good moodnya saat lelah sepulang bekerja.
"Sekarang, Teteh punya pasien baru." Tuturnya mulai bercerita.
"O ya? Keadaannya bagaimana Teh?" Menatap Fitri.
"Sangat mengerikan."
"Seperti?" Tanya Isma penasaran.
"Dia ingin membunuh setiap pasangan yang dilihatnya." Mulai bercerita.
"Kasihan dek. Padahal dia sedang mengandung. Sangat tidak baik saat obat penenang yang terus menerus disuntikkan padanya." Lanjutnya menceritakan kisah pasiennya.
"Ya Allah, kasihan." Ucap Isma prihatin.
"Suaminya kemana Teh?"
"Dia tidak punya suami. Dia korban pemerkosaan." Jelas Fitri.
"Innalillahi… kasihan dia Teh. Keluarganya gak ada?"
"Ada. Tapi, mereka seperti gak mau peduli gitu. Soalnya, semasa pasien Teteh itu sehat, dia tidak pernah berlaku baik pada keluarganya."
"Semoga Allah selalu melindungi kita, ya Teh." Memeluk Fitri manja.
"Aamiin." Membelas pelukan Isma.
__ADS_1
"Dek, boleh Teteh bertanya?"
"Boleh Teteh. Memang pertanyaan seperti apa, kok malah pake izin segala?" Tanya Isma penasaran.
Fitri mengelus punggung Isma lembut. Lalu dia mulai mengatur napasnya untuk memulai pertanyaan yang mungkin saja akan berdampak pada Isma.
"Apa adek kenal mantan istri Prince?"
Mendengar pertanyaan itu, Isma melepas pelukannya. Dia menatap tajam wajah serius dan khawatir Fitri setelah bertanya tentang hal itu.
"Keyra. Namanya Keyra." Jawab Isma tanpa ragu.
"Suaminya merupakan salah satu pasien Teteh."
"Apa? Pasien…"
"Iya. Tapi, dia pasien konsultasi saja. Tidak sampai dirawat."
"Namanya Vino?" Tebak Isma.
Fitri mengangguk. Dan Isma menundukkan pandangannya. Tangannya mulai mengelus perutnya pelan.
"Vino mengalami gangguan kecemasan pada awalnya. Karena istrinya yang mulai mengacuhkannya. Lalu, semakin hari istrinya semakin tidak menganggap keberadaannya. Bahkan terakhir dia datang, dia menceritakan tentang anaknya yang juga ikut menjauhinya." Jelas Fitri panjang lebar.
Isma masih menundukkan pandangannya, lalu perlahan menyandarkan kepalanya lagi dibahu Fitri.
"Vino ingin bertemu Prince. Katanya ingin mengobrol sekedar melepas rasa sesak dalam hatinya."
"Saat Mas Prince pulang, kita ceritakan. Sebenarnya, anak mereka sangat menyayangi mas Prince. Tapi, karena hubungan Vino dan Keyra memburuk gara gara kedekatan itu, mas Prince memutuskan kontak dengan anak mereka." Jelas Isma.
__ADS_1
"Adek harus tetap berpikir positif. Semuanya akan baik baik saja. Teteh pastikan itu." Memberi pelukan hangat pada Isma.
Bersambung…