Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
AMARAH. . .


__ADS_3

Pukul 10 pagi, suasana rumah kembali sepi. Bimo dan Rina sudah kembali Ke Jakarta, karena harus segera bekerja. Begitu juga dengan Fitri dan Arya, mereka juga sudah kembali ke Jakarta.


Abah juga sudah berngkat ke kantor. Dan Umi sedang pergi ke rumah salah satu warga yang mengadakan syukuran sunatan anaknya.


Tinggallah Isma dan Prince berdua saja di rumah. Prince duduk di atas tempat tidur, matanya fokus menatap layar laptop. Dia sedang mengerjakan pekerjaan kantornya.


Dan Isma, sejak tadi berbaring nyaman berbantalkan paha suaminya sambil membaca novel Online.


"Mas, suka baca novel gak?"


"Mmhh, gak begitu suka. Tapi, pernah baca beberapa novel dulu."


"Mas pernah pacaran?"


"Pernah."


Isma mengerutkan dahinya dan mempoutkan bibirnya mendengar jawaban suaminya itu.


"Berapa kali?"


"Mmmhh. . . Lima kali."


"Hhuuhh" Isma bangkit. Dia menjauhkan diri dari Prince.


"Mau kemana?" Tanya Prince dengan mata yang tetap fokus menatap layar laptop.


"Nonton Tv." Sahutnya, sambil melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah.


Prince hanya mengangguk. Dia benar-benar sedang fokus memeriksa laporan keuangan bulan lalu yang baru saja dikirim Manejer keuangan.


"Kenapa laporan ini gak singkron sama laporan yang di buat Bimo...?"


Prince sengaja meminta Bimo membuat laporan keuangan juga, berdasarkan laporan pengeluaran dan pemasukan yang selalu prince kirim padanya setiap kali manajer kuangan memberi laporan per minggu.


"Gak beres, ini." Rutuknya.


Dia mulai curiga pada Manejer keuangan yang memang baru bekerja selama lima bulan terakhir.


"Jangan-jangan laporan sebelumnya juga gak beres. . ."


Prince membuka lagi file laporan keuangan empat bulan sebelumnya. Ya laporan-laporan itu tidak begitu diperiksa oleh Prince, karena dia percaya saja pada manajer keuangan itu.


Kecurigaannya mulai terlintas beberapa minggu lalu, karena kemerosotan pemasukan yang terlalu jauh dari bulan-bulan sebelumnya.


Sejak itulah, Prince mulai meminta bantuan Bimo untuk ikut membuatkan laporan keuangan berdasarkan laporan mingguan yang diterimanya dari manejer keuangan.


"Gak bisa gini... selama ini dia bermain dengan ku?" Gertak Prince setelah memeriksa empat laporan lainnya.


Ditutupnya laptopnya segera. Konsentarasinya mulai buyar sejak Isma tak lagi disisinya. Lalu dia pun melangkah menuju ruang tengah, diamana Isma sedang menonton Tv.


"Sayang, kamu marah ya?" melingkarkan tangannya di pundak Isma dari arah belakang.

__ADS_1


"Gak kok. Aku bosan aja, lagian mas juga bekerja, kan? Aku gak mau ganggu." Jelasnya cuek.


Prince melangkah, lalu duduk di sebelah istrinya.


"Mas gak bisa konsentrasi kerja, kalau sayang gak ada di dekat mas." Bujuknya, lalu dia berbaring dipangkuan Isma.


Isma kaget, dia belum siap menyambut kepala Prince yang kini sudah berada di atas pangkuannya.


"Mas maunya sayang selalu ada disamping, mas. Meskipun mas sedang bekerja." Rengeknya sambil ngeduselin wajahnya di perut Isma.


"Mas, ngapain. . . Geli tau. . ." Proter Isma dengan mencoba menghentikan kegiatan bermanja suaminya.


"Kan yang geli sayang, kalau mas mah suka. . ." lanjutnya.


"Indah pernikahan itu hanya di tiga bulan pertama aja, mas." Tutur Isma.


"Terus, bulan berikutnya gak boleh indah lagi gitu?" Tanya Prince.


"Bukan itu maksudnya." Isma mencubit hidung suaminya.


"Terus apa dong?"


"Ujian demi ujian akan berdatangan." Sambungnya.


Prince menghentikan kegiatan bermanjanya. Dia kini sudah duduk kembali. Ditatapnya dalam mata Isma.


"Genggam tangan mas, tetaplah disamping mas, jangan pernah hilang dari pandangan mas. Ujian apapun itu, jika kita selalu bersama, mas yakin kita akan siap dan mampu melewati semuanya, sayang." Ucap Prince menegaskan.


Isma tersenyum haru, dia pun menghambur dalam pelukan suaminya.


"Aku tidak akan pernah hilang dari pandagan, mas. Selama mata mas masih terus menatapku dengan tatapan penuh cinta, dan rindu." Ucap Isma.


Prince mempererat pelukannya. Lalu perlahan Prince meraih dagu Isma sehingga Isma mendongak menatapnya.


Pipi Isma basah oleh aliran air mata. Prince tersenyum melihat air mata itu, air mata cinta, rindu dan kebahagiaan.


"Bolehkah Mas mengecup bibir sayang?" Tanya Prince.


Isma tidak menjawab melainkan memejamkan matanya. Prince tersenyum senang, dia yakin itu pertanda Isma mengizinkannya.


Tanpa menunggu lama, Prince meletakkan bibirnya tepat di bibir Isma. Dia merasakan Isma gemetar, tangan Isma semakin erat menarik kemeja bagian punggungnya.


Prince memberikan kecupan hangat, kemudian meraup perlahan bibir Isma untuk beberapa detik. Kemudian Prince menghentikan kegiatannya.


Isma melonggarkan tarikannya pada baju Prince, dan tanpa membuka matanya, dia menyembunyikan wajahnya didada suaminya. Isma merasa malu, malu yang juga membuatnya bahagia.


"Sayang malu ya..?" Goda Prince dengan mengeratkan pelukannya.


Bukannya menjawab, Isma malah semakin dalam menyembunyikan wajahnya.


"Mas dulu pernah lima kali pacaran. Dan tadi adalah ciuman pertama Mas." Tuturnya.

__ADS_1


"Bohong. . ." Protes Isma.


"Serius, sayang. . . Mas gak bohong."


"Yang mas mencium bibir Amanda di kantor waktu itu, apa?"


Prince membolakan matanya, di lepasnya pelukan. Lalu dia menatap mata Isma dengan tatapan heran.


"Kamu tahu dari mana? Apa Amanda memberitahumu?" Tanya Prince penasaran.


"Maaf, Aku gak sengaja lihat rekaman cctv ruangan, mas. Jadi nemu video itu." Ucapnya datar.


"Sayang, itu dia yang nyosor duluan. Mas gak balas kok, bahkan mas merasa jijik." Jelasnya.


"O ya?"


"Iya, sayang. Percaya deh sama Mas." Memelas manja.


Isma tersenyum. Di sentuhnya bibir suaminya itu, lalu tanpa terduga Isma memberinya kecupan. Hal itu sontak membuat Prince membelalakkan matanya.


"Sekarang, Aku satu-satunya yang boleh menyentuh. . ."


Belum selesai Isma berucap, Prince sudah membungkam mulut Isma dengan bibirnya. Tidak lama, hanya sekedar kecupan saja.


"Sayang lah, pemilik seluruh jiwa dan ragaku yang Allah ciptakan dengan sempurna ini." Sambung Prince dengan gaya arrogant andalannya.


Isma tersenyum bahagia, begitu juga dengan Prince.


'Ternyata pacaran setelah menikah itu, benar-benar indah dan menyenangkan. Tidak ada yang melarang, tidak berdosa tetapi malah mendapat pahala.' Batin Prince membenarkan apa yang dulu Isma ucapkan padanya.


Drriitttt. . . Drriiitt. . .


Hp Isma berdering, ada panggilan dari Amanda. Prince yang melihat itu langsung meraih Hp Isma dan segera menjawab panggilan dari Amanda.


"Jangan pernah menghubungi istriku lagi." Bentak Prince.


"Prince, sayang. . . Aku kangen sama kamu." Rengek Amanda.


"Selagi aku memberi peringatan baik-baik, pergilah Amanda. Jangan sampai aku menyakitimu."


"Sayang, aku hanya ingin menanyakan kabarmu. Aku sangat merindukanmu." Rengeknya manja.


Prince menutup panggilan itu. Di non-aktifkannya Hp Isma, lalu di lemparnya kesembarang arah. Hp itu jatuh berserakan di lantai.


Isma terkejut, dia tidak menyangka Prince menjadi semarah itu pada Amanda.


"Mas peringatkan juga sama sayang. Jangan pernah menjawab panggilan dari Amanda. Jangan pernah menemuinya. Jangan pernah menghiraukannya." Tegasnya dengan ekspresi wajah sangat serius.


Isma hanya mengangguk pelan, tangannya sedikit gemetar karena terkejut saat Prince membanting Hp miliknya.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2