
Dengan lahap Isma memakan bubur buatan Rina yang langsung disuapkan oleh sahabatnya itu.
"Enak nggak? Apa terlalu asin? Aku buru-buru memasaknya." Tanya Rina.
"Enak kok. Benaran…" Jawab Isma dengan mulut penuh berisi makanan.
"Syukurlah," Kembali menyuapi Isma.
Sementara itu, suami-suami mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius di luar kamar Isma.
"Aku sudah merasakan kehadiran pria ini sejak dua minggu terakhir. Tapi, aku memang tidak mengubrisnya." Tutur Prince.
"Saya sudah mengirim foto pria itu pada teman saya. Dia seorang yang sangat mahir dan berpengalaman dalam mencari orang-orang seperti pria yang mencelakai Isma." Jelas Bimo semangat.
"Ok, aku percayakan semuanya sama kamu. Dan satu lagi, saat tidak sedang bekerja, jangan panggil aku Bos. Panggil nama saja." Tegas Prince.
"Ok…" Jawab Bimo ragu.
"Hari ini benar-benar hari yang sangat menakutkan dalam hidupku." Tutur Prince.
Bimo hanya diam mendengarkan atasannya yang terlihat ingin bercerita banyak hal padanya.
"Saat Isma jatuh, berdarah, napasnya sempat hilang…" Air mata menetes begitu saja.
"Duniaku seakan runtuh, seluruh tubuhku seperti ditusuk ribuan anak panah." Sambungnya dengan suara agak parau.
__ADS_1
"Beruntungnya Allah masih memberi keselamatan pada Isma. Aku merasa gagal menjadi suami yang baik untuknya. Aku bahkan tidak bisa melindunginya." Tangisnya semakin terdengar pilu.
Bimo memberikan tepukan lembut di bahu Prince, mencoba menenangkan Prince.
Sementara itu, di rumah mewahnya Amanda tengah menikmati harinya. Dia duduk santai sambil berjemur di pinggir kolam renangnya.
"Hahaha…" Tawanya pecah.
Dia sangat bahagia mendengar kabar Isma yang berhasil dicelakai oleh suruhannya.
Dritt… dritt…
Ponselnya bergetar, segera saja Amanda menjawab panggilan dari private number itu.
📱"Halo."
📱"What??" Teriaknya kesal.
📱"Aku akan mencari cara lain. Plan B."
📱"Terserah. Aku tidak peduli apa yang akan kamu lakukan, yang aku inginkan kehancuran Prince." Makinya berteriak.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Amanda membanting ponselnya begitu saja ke dinding. Ponsel itu jatuh dan hancur. Amanda berteriak histeris meluapkan segala kekesalan dan amarahnya, karena rencanyanya masih saja gagal.
"Kenapa bisa gagal… menyebalkan." Teriaknya kesal.
__ADS_1
Kini Amanda mondar mandir memikirkan ide untuk kembali mencelakai Isma dan Prince.
"Haruskah aku mengiba untuk mengelabui mereka?" Ujarnya pada diri sendiri.
Alisnya mulai menaik, begitu juga dengan kedua sudut bibirnya. Amada tersenyum dan anehnya senyuman itu sangat menakutkan. Dipenuhi dengan dendam dan kebencian.
Sementara itu, hari berganti. Tidak terasa sudah lima hari Isma dirawat di rumah sakit. Dan hari ini sudah diizinkan pulang.
"Apa kondisi kandungan istri saya benar-benar baik-baik saja, Dokter?" Tanya Prince.
"Sangat baik, bahkan bayi-bayi itu bertumbuh dengan sangat baik. Dan buk Isma sendiri juga sudah sangat baik. Aliran darah sangat normal, detak jantung juga normal. Hanya, pesan saya tolong untuk lebih berhati-hati, jangan sampai kembali terjadi pendarahan."
"Terimakasih banyak Dokter. Saya akan lebih memperhatikan istri saya lebih dari sebelumnya."
Mereka melangkah neninggalkan rumah sakit. Dengan sangat perlahan Prince mendorong kursi roda Isma hingga ke depan mobil.
"Mas mau angkat adek?" Tanya Isma.
Tidak ada jawaban, Prince langsung menggendong tubuh Isma yang ternyata sudah sangat berat dari sebelumnya.
"Sayang tambah berat sekarang!" Ucap Prince sambil meletakkan perlahan tubuh Isma di kursi mobil.
"Ya jelas dong Mas. Kan yang Mas gendong bukan hanya adek. Tapi tiga bayi kita juga." Jawab Isma.
"Iya Mas tau. Hanya bercanda kok." Memberi kecupan di kening Isma dan mengelus pelan perut Isma.
__ADS_1
Kemudian Prince melajukan mobilnya melintasi jalan menuju rumah mereka.
BERSAMBUNG…