Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Go to Korea


__ADS_3

Pagi harinya, Isma bersiap. Sementara Prince sedang bicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


Sayup-sayup Isma dapat mendengar pembicaraan suaminya yang sepertinya teman bicaranya seorang pria.


Aku mau semua berita kebohongan Amanda dibersihkan dari semua media.


📱Itu gampang. Tapi, bagaimana dengan pengakuan Om dan Tante?


📱Lakukan hal yang sama.


📱Akan menimbulkan konflik. Terlebih Om seorang Pimpinan perusahaan besar.


📱Itu justru bagus. Sebagai pimpinan dia harus berani bertanggung jawab atas semua kekacauan yang telah di sebar-luaskannya.


📱Mereka orangtua loe, bro.


📱Yes, I know.


📱Bagaimana kalau aku coba membujuk mereka, agar mereka memperbaiki pernyataan mereka. Kita alihkan agar mereka memaksudkan pernikahan itu adalah pernikahan loe sama Isma.


📱No. Tidak perlu melakukan apapun untuk membela mereka. Aku hanya ingin semua kebohongan itu sirna. Dan, tolong kirim semua foto yang aku kirimkan itu kesemua media.


📱Oke. Hope you and Isma will be happy forever.


📱Thanks. . .


Pembicaraan itu berakhir, Prince membalikkan tubuhnya. Dilihatnya Isma berdiri di belakangnya dengan menatap aneh kearahnya.


"Sayang, apa kamu sudah siap?" Tanya Prince menghampiri.


"Haruskah Mas membuat Mama dan Papa menjadi perbincangan Masyarakat?"


Mendapat pertanyaan itu, Prince menghela napas dalam-dalam. Diraihnya tubuh Isma untuk ikut duduk di sofa.


"Mama sama Papa akan baik-baik saja, sayang." Ucap Prince.


Dialihkannya tubuh Isma untuk duduk diatas pangkuannya.


"Yang terpenting sekarang, Mas mau sayang berhenti menangis, berhenti memikirkan orang lain. Kebahagiaan kita juga penting." Sambung Prince sambil mencubit gemas pipi Isma.


Isma merebahkan kepalanya di bahu Prince dengan melingkarkan tangannya dileher Prince.


"Maafkan aku, karena terlalu cepat menyimpulkan sesuatu tanpa mau menerima penjelasan dari Mas." Ucapnya menyesal.


"Tidak sayang. Semua itu wajar, karena sayang sangat mencintai Mas dan takut kehilangan Mas, Kan?" menyatukan hidungnya dengan hidung Isma.


Isma tersenyum. Dieratkannya pelukan dileher suaminya itu.


"Boleh aku menelpon Umi sebelum kita terbang ke Korea?" Tanya Isma.


Prince mengangguk. Diberikannya iphonenya pada Isma. Dan masih dalam pangkuan suaminya, Isma menghubungi Umi.

__ADS_1


📱Assalamu'alaikum, Umi.


📱Waalaikumsalam, dek. Ini teteh.


📱Teteh? Umi mana, teh?


📱Umi ke rumah tetangga, ada yang syukuran.


Kilah Fitri. Dia menjawab panggilan Isma dengan menjauh dari Umi dan Arya.


📱Umi memang gak pernah betah tinggal di rumah. Ya sudah, kalau gitu Teteh saja yang sampaikan pada Umi. Bilang sama Umi dan Abi, Adek mau ke Korea sama Mas Prince. Mungkin untuk dua minggu atau satu bulan.


📱Iya, dek. Nanti teteh sampaikan. Adek jaga diri. Baik-baik selalu. Jadilah istri yang nurut sama suami.


Fitri tersenyum lega. Dia senang mendengar hubungan Isma dan Prince baik-baik saja.


📱Insya Allah Teteh.


Panggilan berakhir. Fitri kembali ke kamar tempat Abi dirawat. Abi masih terbaring lemah. Umi terus membaca yasin di samping Abi.


Sedangkan Mas Arya tertidur pulas diatas sofa. Dia kelelahan. Arsyid juga terlelap dalam pangkuan Arya.


Diam-diam Fitri menaruh kembali ponsel Umi kedalam tasnya. Tidak lupa Fitri juga menghapus riwayat panggilan.


Bukan maksud ingin berbohong atau menyembunyikan sesuatu. Hanya saja Fitri tidak ingin ada yang memisahkan Isma dan Prince.


Sejak kedatangannya, Umi tidak pernah bertanya tentang Isma. Begitu juga dengan Mas Arya. Mereka tidak menanyakan ataupun menghubungi Isma. Yang mereka lakukan hanya merawat Abi, mendoakan Abi dan menunggui Abi yng belum juga siuman.


Dan Isma, percaya saja dengan apa yang dikatakan Fitri. Rasa khawatirnya hilang. Dia pun kembali tersenyum dan bermanja dalam pangkuan suaminya.


"Mmm. . . Bisa iya, bisa tidak. Tapi, yang pasti Mas akan selalu bersama sayang. Walaupun Mas kerja, sayang harus ikut." Tegasnya.


"Siap suamiku." Jawab Isma semangat.


Lalu dia mengecup kening suaminya, hidung, pipi dan terakhir mendarat di bibir.


"Sayangnya Mas jadi nakal sekarang." Goda Prince.


"Biarin. Kan halal." Ucapnya.


Prince tersenyum senang. Dibopongnya tubuh Isma ke tempat tidur.


"Mas, kita harus ke bandara. Penerbangannya sebentar lagi. . ." Proters Isma saat dirasa Prince mulai bermanja padanya.


"Kita tunda penerbangan sejam lagi. Mas mau sayang sekarang." Bisiknya ditelinga Isma yang kini sudah berada dibawahnya.


"Gak mau. Nanti aja nyampe Korea. . ." Ucap Isma dengan mendorong tubuh Prince.


Isma berhasil lepas. Segera dia merapikan kembali hijabnya. Tidak lupa Isma kali ini memakai cadarnya.


Dan Prince masih tengkurap males dan kecewa di atas tempat tidur. Meski begitu, dia juga lega karena mereka masih bisa merasakan kebahagiaan lagi dan semoga selamanya.

__ADS_1


"Mas, ayok. Aku udah siap ini." Panggilnya yang sudah melangkah menuju pintu.


"Sayang, pakai cadar?" Tannya Prince sambil mengekor di belakang Isma.


"Iya, Mas. Mulai sekarang aku mau memakai cadar." Tegasnya.


Prince mempoutkan bibirnya sedih. Dipeluknya Isma dari belakang.


"Kalau Mas mau cium bibir sayang di pesawat nanti gimana?" Rengeknya manja.


"Itulah mengapa aku akan memakai cadar setiap kita akan keluar dari rumah. Supaya Mas ku tercinta tidak mencium bibirku di depan banyak orang." Jelas Isma yang berjalan tergopoh-gopoh, karena Prince bergelantungan dipinggannya.


"Yeahhh. . . Sayang gak asyik ahh. . . Tau gitu, kita gak usah keluar rumah aja selamanya, supaya Mas bisa selalu mencium sayang. . ."


"Mas, Mas. . . Udah ah, kita harus cepat berangkat ke Bandara." Melepaskan tangan Prince dari pinggangnya.


Prince meraih tangan Isma untuk digenggamnya. Mereka pun berpegangan tangan dari sejak keluar kamar hingga sampai di lobi.


Semua karyawan memberi hormat pada Bos mereka. Setelah itu mereka berbisik memuji kemesraan pasangan baru itu dan ada juga yang berbisik mengenai gosip yang disebarkan Amanda.


"Mas, aku malu. . ." Bisik Isma yang melingkarkan tangannya di tangan Prince.


"Kenapa harus malu. Sayangkan Istri sah Prince Wijaya Pratama. Sayang juga pacar halalnya Mas." Merangkul tubuh Isma.


Kemesraan keduanya membuat beberapa karyawan histeris. Meski ada juga yang menatap tak suka pada kemesraan yang dipertontonkan pasangan itu.


"Mereka pasti mengira aku istri simpanan, Mas." Ucapnya pelan.


"Wajarlah mereka berpikir begitu." Jawab Prince datar.


"Loh kok wajar?" Protes Isma tak suka.


"Karena kita menikah tidak mengundag siapapun dan belum mengadakan resepsi, sayang. . . Jadi ya wajar mereka mengira sayang seperti itu. Terlebih karena berita kemaren." Jelas Prince.


Isma tersenyum. Kemudian dia memberanikan diri merebahkan kepalanya di dada suaminya.


"Mas jangan lepaskan tanganku, meski aku memintanya." Ucap Isma.


"Sayang juga, jangan pernah berniat untuk menghilang dari pandangan, Mas. Paham!" Mencubit hidung Isma yang tertutup cadarnya.


"Iiihhh. . . Sakit tau." Protesnya.


"Cadarmu tidak akan menghalangi keinginanku untuk menciummu." Bisik Prince.


Lalu tiba-tiba dia menempelkan bibirnya tepat di bibir Isma meski terhalang oleh cadarnya.


Prince melakukan itu di luar gedung hotel sebelum memasuki mobil.


Isma membelalak kaget, segera dia menginjak kaki Prince yang beralaskan sepatu. Meski beralas tetap sakit, karena sepatu Isma memiliki tumit yang tajam.


"Aauhh. . ." Teriak Prince kaget.

__ADS_1


Dan Isma sudah berlari masuk ke dalam mobil, meninggalkan Prince yang masih teriak kesakitan.


Bersambung. . .


__ADS_2