Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Season 2 (Chap 1)


__ADS_3

Hai hai semua yang masih setia membaca novel ini. 😍😉


Thor akan membuat kisah ini berlanjut. Tetap di Novel yang sama dan judul yang sama. Hanya saja, kali ini akan lebih banyak menceritakan tentang Fazil, Feisal dan Almahyra.


Semoga teman teman tetap suka sama kisah keluarga bahagia ini. Jangan lupa Like, koment dan vote ya teman teman. Karena kalianlah Thor selalu semangat dalam menulis dan tetap lanjut berkarya.


Terimakasih. 😍😍😄




4 tahun kemudian.



Fazil sedang asik menonton kartun Upin dan Ipin yang menjadi tontonan kesukaannya. Sedangkan Feisal merengek dalam gendongan Isma, karena tidak mau mandi pagi. Dan Rara dengan segala kepintarannya sedang menyiapkan tas sekolahnya.



Diantara ketiganya Rara yang paling mandiri. Dia selalu melakukan apa apa sendiri, kecuali memakai jilbabnya. Itu satu satunya hal yang tidak bisa dia lakukan sendiri.



Sementara Fazil, seorang anak yang terlalu terobsesi ingin menjadi seperti karakter kartun yang ditontonnya. Sehingga dia memiliki banyak koleksi mainan dan juga pakaian yang bertema kartun kesukaannya.



Feisal si manja. Kerjaannya hanya menangis setiap kali disuruh mandi. Baik itu mandi pagi, ataupun mandi sore. Dia paling manja dan tidak suka diganggu oleh kedua saudaranya yang kadang suka usil.



Prince masih sibuk bekerja seperti biasa. Dia bahkan tidak lagi sempat membantu Isma menyiapkan anak anak. Dia selalu terburu buru berangkat ke kantor. Hanya di akhir pekan saja Prince bisa membantu Isma merawat anak anak.



"Zil, matikan Tv nya. Ayok sini bunda pakaikan baju dulu." Panggil Isma dari dalam kamar Feisal.


__ADS_1


"Iya Bunda." Sahutnya dan langsung berlari menemui Bunda.



Begitulah mereka. Sesibuk apapun, jika Bunda sudah memanggil atau memerintahkan sesuatu, mereka akan segera melakukannya. Bunda adalah nomor satu bagi mereka.



Entah bagaimana cara Isma menerapkan itu pada ketiga anaknya. Hanya memang sejak kecil, Isma selalu ada dan memberi mereka pengertian agar mematuhi kedua orangtua. Dan tentunya kunci terakhir, adalah doa. Sebab doa ibu tidak ada penghalangnya.



"Rara, sudah siap belum, nak. Jilbabnya bawa sini, bunda bantu memakainya." Memanggil Rara yang baru saja selesai memakai seragamnya.



"Bentar Bunda. Rara ambil jilbabnya dulu." Sahutnya.



Sementara Rara masih mencari jilbabnya Fazil sudah tiba dikamarnya. Fazil dan Feisal berbagi kamar bersama. Hanya Rara yang terpisah, karena dia perempuan satu satunya.




Lalu Isma pun memakaikan seragam pada Fazil dengan aman. Tidak lupa, Isma juga merapikan rambut Fazil.



"Sudah, anak bunda sudah ganteng. Tinggal memakai sepatu. Tunggu di meja makan ya, nak. Kita sarapan dulu." Ucap Isma sambil memberi kecupan dipipi Fazil.



"Siap Bunda." Segera menuju meja makan.



"Anak bunda yang manja ini, mau di gendong?" Tanya Isma pada Feisal yang duduk diam diatas tempat tidurnya dengan menjuntaikan kakinya.

__ADS_1



"Tidak. Aku jalan sendiri saja." Ucapnya dengan perlahan turun dari tempat tidur.



"Pintar. Cium bunda dulu." Mendekatkan pipinya pada Feisal. Lalu Feisal memberi ciuman pada bundanya.



"Feisal manja." Ledek Rara yang sudah tiba didekat mereka.



"Bunda..." Rengeknya mengadu.



"Rara, gak boleh gitu." Memperingatkan pada Rara untuk tidak menggoda Feisal.



"Maaf bunda." Memberikan jilbabnya.



Isma tersenyum, lalu memberi kode pada Feisal agar segera menuju meja makan.



"Bunda berhentilah memanjakan Feisal. Dia kan cowok, masak cengeng." Celoteh Rara.



"Bunda tidak memanjakannya. Hanya saja, dia tidak akan mau mandi kalau tidak bunda bantu. Kalau bunda biarkan saja, bisa bisa kita semua terlambat kesekolah." Jelas Isma sambil merapikan Jilbab Rara.



"Selesai. Tuan putri Rara terlihat sangat cantik hari ini." Puji Isma dengan memberinya ciuman di pipi.

__ADS_1



Betapa bahagianya Isma setiap hari. Mengurusi anak anak yang terkadang rewel, terkadang manja semuanya. Dan kadang suka cuek cuekkan juga. Semua itu adalah anugerah terindah dalam hidupnya.


__ADS_2