
Arya dan Prince kini berada di salah satu cafe. Mereka saling duduk berhadapan sambil menyeduh jus yang berada dihadapan mereka.
Tidak ada yang bicara. Arya diam sambil memikirkan cara untuk menyampaikan sesuatu pada Prince. Sedangkan Prince diam dengan berbagai kekhawatiran yang berputar mengganggu di kepalanya.
"Prince. . . Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan. . ."
Prince tetap diam. Kekhawatiran semakin menggerogoti hatinya.
"Tinggalkan Isma." Tegas Arya.
Sekali lagi, Prince tetap diam. Dia sudah menebak hal ini saat Arya mengantarkan Isma ke Bandung.
"Kondisi Abi sangat sulit, Prince. Tekanan darah Abi selalu tinggi. Jantungnya tak bekerja dengan baik. Setiap kali Isma menceritakan tentang kamu. . . Abi terpaksa menahan rasa sakitnya…" Tutur Prince mulai bercerita.
"Lalu, kenapa aku harus meninggalkan Isma, Mas?" Tanya Prince pura-pura tidak tahu tentang trauma Abi.
Sebentar Arya mengatur napasnya. Dia akan menceritakan asal dari trauma Abi. Ya, mungkin Prince belum tahu tentang ini. Pikirnya.
"Puluhan tahun yang lalu. . . Aku, Abi dan Umi. . . Kami, ah. . . Bukan hanya kami. Tapi… kakek, nenek, bude, pakde. . ."
Arya tidak melanjutkan ceritanya. Dadanya terasa sesak. Peristiwa itu begitu menakutkan dan menyakitkan untuk di ingat.
Prince menundukkan kepalanya, dia menahan air mata yang akan tumpah. Prince juga menahan rasa dendam dan amarah pada kakeknya.
"Aku tahu tentang itu, Mas." Sahut Prince dengan masih menunduk.
"Kamu tahu? Tahu apa?" Tanya Arya.
"Aku tahu, kakek penyebab kehancuran kalian. Kakek yang telah berlaku tidak adil pada kalian." Jawab Prince dengan masih menundukkan kepalanya.
Tangannya mengepal erat. Tekanan emosi, ketakutan, kecewa, semua menggebu dalam dirinya.
"Aku tahu, Mas. Maaf saja tidak cukup. Tapi. . . Bukankah ini juga tidak adil? Kalian meminta aku meninggalkan Isma, sementara kami saling mencintai." Ucap Prince lirih.
"Perasaan dan kesehatan Abi jauh lebih penting Prince. Kamu lelaki hebat, kamu tampan, kaya dan memiliki segalanya. Kamu bisa mendapatkan wanita manapun yang kamu inginkan... Sedangkan Isma, aku dan Umi, kami hanya tinggal sebatang kara tanpa Abi. Abi dunia kami, dan kami adalah dunia Abi. . ."
"Kalian merasakan bagaimana sakitnya dan menderitanya saat tak lagi bisa melihat orang yang kalian cintai. Lalu, apa kalian tega melihat aku dan Isma menderita dan merasakan kepedihan seperti kalian?" Teriak Prince tersulut emosi.
Beruntunglah mereka berada di meja yang letaknya disudut, sehingga tak banyak pengunjung yang memperhatikan.
"Isma akan bersedih sebentar... kamu juga akan melupakan Isma seiring berjalannya waktu. Tapi, pernahkah kamu berpikir bagaimana sedihnya Isma jika sampai dia kehilangan Abi dan penyebabnya adalah karena keegoisannya ingin bersama lelaki yang ternyata adalah salah satu dari penyebab trauma Abi?" Tegas Arya tak kalah emosi.
"Mas, aku bukan penyebab trauma Abi. Aku berbeda. Aku mencintai Isma dan kalian seperti keluargaku sendiri. Ingat itu." Tegasnya.
Sebentar keduanya terdiam, mengatur kadar emosi yang semakin meluap.
"Tetap saja, Prince. Dalam darahmu ada darah kakekmu. Lelaki yang tanpa belas kasih, menfitnah dan menghabisi seluruh keluargaku. Aku yakin, kalau Isma tahu tentang semua ini, dia akan segera melupakan kamu." Ujar Arya pelan namun dengan nada mengejek.
Mata Prince menatap tajam kakak iparnya itu. Rasanya ingin sekali Prince melayangkan tinjunya, jika saja tak mengingat Arya adalah kakak dari istri tercintanya.
"Jangan beritahu Isma tentang ini. . . Jangan buat Isma membenciku. . ." Ucap Prince dengan nada menyerah.
Ya, Prince memilih menyerah. Dia tidak ingin Isma tahu tentang keburukan dan berita menyakitkan itu. Dia tidak ingin kehilangan Isma selamanya.
'Sayang, mimpimu nyata. Kini Mas harus pergi dulu, tapi Mas janji akan menjemput sayang kembali.' Ucap Prince dalam hati dengan penuh tekat.
Perlahan bulir bening itu menetes di pipinya. Seulas senyum mengembang di bibirnya. Prince menatap Arya penuh harapan.
__ADS_1
Arya salah tingkah melihat Prince. Baru kali ini dia melihat bola mata yang mengatakan ketakutan dan kepedihannya, namun bibirnya tersenyum bahagia.
Prince terlihat menakutkan dan mengasihankan dengan ekspresi itu. Membuat hati Arya bergetar kasihan.
"Baiklah, saya akan menjauh dari Isma. Tapi ingat, saya tidak akan pernah melepaskan Isma. Hanya satu itu permohonan saya, Mas." Ucapnya menyerah dan kalah.
Melihat ketulusan Prince, Arya tersentuh. Dia yakin, Isma akan berlaku sama saat mengetahui kalau Abi memisahkannya dari suaminya ini.
"Izinkan aku bertemu Isma sebentar saja, Mas. Aku sangat merindukannya." Ucapnya sambil tersenyum, namun air mata semakin deras mengalir di pipinya.
"Baik. Tapi dengan syarat." Tegas Arya.
Ya, dia akhirnya harus menggunakan cara ini untuk kebaikan semuanya.
"Syarat apa, Mas?"
"Katakan pada Isma, kamu akan kembali ke Korea selama waktu yang tak bisa ditentukan. Berikan alasan apapun itu yang bisa membuatnya percaya. Maka. . . Aku pastikan, akan mempertemukan kamu dengan Isma."
"Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Sekarang Isma tertidur lelap, Abi sudah meminta Umi mencampur obat tidur dalam jamu yang diminum Isma. . ."
"Jamu apa, Mas?" Tanya Prince khawatir.
"Jamu pembersih janin…"
"Apa? Apa yang kalian lakukan? Apa kalian g*l*? Bagaimana kalau ada janin di sana. . . Ya Allah. . . Segitu nya kalian ingin memisahkan kami. Istighfar Mas. . ." Ucap Prince yang saat ini menekan dadanya.
Dia tidak habis pikir, keluarga yang taat akan agama itu malah mencoba membunuh janin tak berdosa. Ya, memasng belum tentu adanya janin itu dalam rahim Isma. Tapi, bagaimana jika ternyata ada janin yang baru hinggap di sana?
Arya terdiam. Dia sendiri tak habis pikir harus melakukan ini demi memisahkan Isma dan Prince.
"Ya Allah. . . " Ucap Prince.
Dia mulai berdiri. Digenggamnya erat pergelangan tangan Arya untuk menumpu kakinya yang kini terasa sangat lemas.
"Tolong, tolong jangan sakiti Isma. Jangan katakan apapun pada Isma. . . Aku. . . Aku akan melakukan apapun itu."
"Kirim pesan itu sekarang Prince. Jika tidak, Abi akan langsung membawa Isma ke sebuah Villa yang jauh dari jangkuan. Abi berencana akan mengurung Isma disana. Kau tahu. . . Isma tidak akan bisa membantah Abi. Dia akan tersenyum saat mematuhi Abi. Tapi dia akan menderita karena merindukanmu." Tutur Arya.
"Villa itu hanya Abi dan Umi yang tahu. Dan jika Isma sudah dibawa kesana, aku tidak akan bisa membantumu lagi."
Sebentar Prince terdiam, matanya tak lagi fokus. Dadanya terasa sesak dan sakit. Inikah arti mimpi Isma? Inikah arti ramakan peramal itu? Tapi kenapa? Kenap serumit dan semenyakitkan ini?
Entahlah, hanya Tuhan yang tahu tentang segala takdir yang telah ditetapkannya dan manusia? Mereka hanya bisa menerima dan menjalani segala ketentuan itu.
Prince meraih Iphone dari saku jas miliknya, lalu menuliskan sesuatu pada layar iphone itu.
((Sayang, Mas harus kembali ke Korea. Perusahaan di Korea mengalami kebangkrutan. Mas akan mengurus dan menyelesaikan semuanya terlebih dahulu. Mungkin Mas akan lama di Korea. Sayang jaga kesehatan, jangan bersedih. Jaga Abi dan Umi dengan baik.
Love you my wife.
Mas akan datang menjemputmu. Jangan mencari tahu tentang apapun. Mas tidak ingin kehilangan sayang.
'mimpimu nyata, sayang'))
Prince menulis pesan itu dengan linangan air mata dan Arya juga ikut bersedih. Dia, menepuk pelan bahu Prince mencoba menenangkan.
__ADS_1
Pesan itu terkirim pada Isma. Ya, kini Isma terlelap dalam tidurnya.
Iphonenya yang digenggam Abi pun bergetar. Segera Abi membaca pesan itu. Lalu, bibir Abi tersenyum lega.
"Umi, berikan ini pada Isma saat dia bangun. Berhentilah memberi Isma jamu. Kita akan tetap aman di sini." Ujar Abi merasa lega.
Umi mengangguk paham. Sebentar Umi melirik isi pesan itu. Ya, sepertinya Arya berhasil menjalankan rencananya.
Umi pun tersenyum, perlahan Umi mengelus lembut wajah Isma.
'Tidak mengapa sakit sebentar sayang. Berdoalah, agar Pangeranmu bisa membangunkanmu dari tidur indahmu. Umi akan merawatmu sampai sang pangeran datang." Ujar Umi.
Dan Isma, bibirnya tersenyum. Ya, dia bermimpi indah.
(*Isma kini berada di Castle yang dulu diceritakannya pada Prince. Isma bermain bersama suaminya itu.
"Mas, kenapa datangnya lama. Adek rindu tau." Memeluk erat tubuh suaminya.
"Maaf sayang. Banyak hal yang harus Mas kerjakan. Sayang sehat, kan?"
"Sehat dong. Apalagi kalau ada Mas di samping adek. Adek akan selalu sehat."
Keduanya tersenyum bahagia saling berpelukan.
"Mulai sekarang, kita hanya akan bertemu dalam mimpi. Mas hanya bisa datang dalam mimpi sayang."
"Kenapa? Apa Mas mau meninggalkan adek lagi?" Rengeknya sedih.
"Bukan meninggalkan. Hanya pergi sebentar. Mas akan menyelesikan beberapa hal. Setelah semuanya selesai, Mas akan datang dan membangunkan sayang. Setelah itu, kita akan selalu bersama selamanya."
Prince mengecup lembut penuh kasih kening Isma. Isma tersenyum senang sambil mengeratkan pelukannya.
"Kalau begitu, adek gak mau bangun sebelum Mas datang membangunkan adek."
"Jangan. Sayang harus bangun, saat Abi dan Umi membangunkan. Mas hanya akan hadir dalam mimpi sayang, apabila Mas sangat merindukan sayang dan saat sayang merindukan Mas." Jelas Prince.
"Mas tahu. . . Adek selalu merindukan Mas setiap saat. Jadi, adek akan selalu tidur." Rengeknya Protes.
"Jangan gitu. Nanti Allah cemburu. Bukankh kita mencintai karena Allah?"
"Iya." Jawabnya manyun.
"Jadi, cintai Allah saja. Maka, Allah akan menjaga rindu kita dan akan membuat kita tetap bertemu meski pun Mas tidak hadir dalam mimpi sayang."
"Baiklah. . ." Ucap Isma tanpa melepas pelukannya.*)
Dan kini, Umi mentap Isma yang tersenyum dalam tidurnya sambil memeluk erat bantak gulingnya.
"Apakah putri Umi bermimpi?" Ucap Umi gemas melihat raut wajah Isma yang sangat menggemaskan.
"Maafkan Umi, sayang. . . Maafkan Umi."
Berasambung. . .
Hay raderku yang masih setia mambaca cerita ini.
Terimakasih karena kalian selalu hadir dan membuat Author terus berkarya dengan percaya diri.
__ADS_1
Salam sayang untuk kalian semua. 😉😉
Vote, Like, Komen, five rite juga ya. 😊