Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Happy (End)


__ADS_3

Vino berdiri dengan gagahnya. Stelan jas hitam dasi kupu kupu membuatnya terlihat sangat tampan. Tubuhnya sudah sedikit berisi sejak dinyatakan sembuh dari gangguan kejiawaannya.


Semua tamu undangan sudah memenuhi gereja. Dimana hari ini adalah hari pernikahan Vino dan Cindi. Ya, Cindi yang selama ini selalu merawat dan menemani Vino akhirnya berhasil meluluhkan hati Vino.


"Mas yakin, teman mas itu akan datang?" Tanya Cindi khawatir melihat antusias Vino menunggu kedatangan Prince dan Isma di depan gereja.


"Mas yakin, sayang. Mereka orang asing yang tidak sengaja menjadi shabatku." Menggenggam erat tangan Cindi untuk mengurangi rasa was was dihatinya.


Setelah menunggu hampir lima menit, mobil Prince memasuki area gereja. Prince menghentikan mobilnya tepat didepan calon pengantin.


Mata Vino berkaca kaca menyambut kedatangan Prince dan Isma. Dia melangkah mendekati mobil Isma yang diikuti oleh Cindi.


Prince turun dari mobil dengan menggendong Fazil dan Feisal. Sedangkan Isma menggendong Rara dan memegang bingkisan kado untuk Vino dan Cindi.


"Prince. Terimakasih telah datang." Memeluk Prince hati hati agar tidak membuat sikecil dalam gendongan Prince terhimpit tubuhnya.


"Selamat Vino. Semoga Tuhan selalu memberi kebahagian buat kalian berdua." Ucap Prince mendoakan.


"Terimakasih Prince." Terharu dengan segala kebaikan Prince padanya.


"Selalu bahagia, selamat ya Cindi." Isma dan Cindi juga saling berpelukan.


Lalu Isma tersenyum pada Vino yang dibalas oleh Vino dengan menangkupkan kedua tangannya.


"Terimakasih, Isma." Ucapnya.


"Kalian berdua harus saling menjaga." Pesan Isma.


Vino dan Cindi menautkan tangan mereka untuk saling berbegangan. Itulah jawaban mereka dari pesan yang diucapkan Isma untuk mereka.

__ADS_1


Usai memberi selamat pada Vino dan Cindi. Prince dan Isma segera melanjutkan perjalanan menuju Bogor. Mereka akan menemui Gabriel disalah satu panti asuhan disana.


Ini kali ketiga Isma ikut menemui Gabriel di Bogor. Isma sangat menyayangi Gabriel seperti anak sendiri. Namun, setiap kali Prince akan menjenguk Gabriel, Isma tidak diizinkan ikut. Karena Prince khawatir dengan hati Isma yang mungkin merasa tidak nyaman.


setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mobil Prince tiba diperkarangan depan panti asuhan. Ketiga buah hati mereka yang tadinya tertidur lelap, kini terbangun karena merasa mobil sudah berhenti.


"Kita sudah sampai..." Merapikan rambut Fazil dan Feisal yang berantakan. Lalu, Isma juga merapikan jilbab Rara yang hampir lepas.


Prince membantu Fazil dan Feisal turun dari mobil. Lalu membiarkan mereka berjalan sendiri di halaman luas panti asuhan. Awalnya mereka melangkah malas, tapi begitu melihat Azam di depan sana melambai pada mereka, segera saja keduanya berlari menghampiri Azam.


"Eh Rina sama Bimo sudah datang duluan." Ucap Isma.


"Padahal tadi malam Bimo bilang akan datang sorean." Sambung Prince sambil mengambil beberapa bingkisan dari bagasi mobil.


"Mau jalan..." Rengek Rara dalam gendongan Isma.


"Rara mau jalan juga?" Mencium pipinya.


"Mereka kalau ketemu Azam jadi sombong sama Ayah Bunda." Rutuk Isma.


Prince memeluknya dari berakang, dan memberi kecupan dipuncak kepalanya.


"Biarkan saja mereka bermain sama Azam. Sayang cukup bermain sama Mas saja. Semalaman." Bisiknya menggoda yang direspon dengan cubitan dikedua belah pipinya.


"Sakit sayang..." Protesnya manja.


Isma melepas cubitannya, lalu dia pun melangkah cepat menghampiri Bimo dan Rina.


"Bantuin Ayah dong Bunda. Berat ini..." Teriak Prince yang melangkah sambil menjinjing beberapa kantong plastik berisi mainan dan juga makanan.

__ADS_1


"Gabriel mana?" Tanya Isma pada Rina dan Bimo.


"Mom..." Teriak Gabriel berlari dari lorong koridor panti asuhan.


Isma tersenyum senang. Dia mengulurkan tangannya untuk menyambut Gabriel.


"Mom I miss you!" Mencium punggung tangan Isma.


Isma mengusak kepalanya lembut dan memberi ciuman di keningnya.


"Kamu sehat?"


Gabriel mengangguk yakin. Lalu dia beralih menghambur dalam pelukan Prince.


"Dadi..." Menangis terisak dalam pelukan Prince.


Tepukan hangat dipunggung Gabriel diberikan oleh Prince. Itu membuatnya merasa sedikit lebih tenang.


"Terimakasih telah datang." Ucapnya terharu dengan kedatangan orang orang yang penuh kasih dan menyayanginya.


Melihat Gabriel menangis, Rara mendekat kearahnya dan menghapus air mata di pipi Gabriel. Ya saat ini Gabriel duduk berjongkok hingga tingginya sama dengan Rara.


"Tidak boleh cedih..." Ucapnya dengan begitu lucunya.


Gabriel tersenyum dan memberi ciuman di pipi Rara.


"Maukah Rara memeluk kakak?" Tanya Gabriel.


Rara tersenyum dan langsung memeluk Gabriel. Air matanya kembali menetes. Walau bagaimanapun Gabriel sebenarnya merindukan Vino dan Keyra. Tapi dia tidak pernah bertanya tentang mereka. Biarlah rasa rindu itu dipendamnya sendiri.

__ADS_1


Kehadiran Prince, Isma, Rina, Bimo dan juga malaikat malaikat kecil ini, sudah cukup baginya. Gabriel merasa beruntung merasakan kasih dari orang orang asing yang menjadikannya bagian dari keluarga mereka.


(Tamat) END


__ADS_2