
Azan zuhur berkumandang bersahutan. Fitri menyarankan Prince untuk menjadi imam sholat berjamah bersama.
"Jangan Teh, saya belum siap." Tolak Prince.
"Kalau keberatan karena saya ikut menjadi makmum, saya bisa sholat sendiri kok." Sambung Isma.
"Baik teh, saya siap. Saya wudhu dulu." Tegasnya.
Prince mengikuti Fitri nenuju tempat wudhu. Sedangkan Isma pun berlari menuju kamarnya untuk mengambil mukena dan berwudhu.
Hatinya terasa sagat senang. Wajahnya semakin merona. Ada kebahagiaan tersendiri yang datang menghapus perasaan amarah dan cemburunya.
Hal yang sama pun dirasakan Prince. Dia merasa sangat tenang setelah berwudhu.
Kini Prince sudah siap berdiri di atas sajadahnya. Isma dan Teh Fitri berdiri sejajar di belakang Prince.
"Allah hu akbar. . ." Ucap Prince saat takbir rotul ihram.
Diikuti oleh Isma dan Fitri. Lalu, sholatpun berlangsung dengan khusuk.
Dan di akhir, Prince pun memanjatkan doa memohon hingga air matanya menetes.
Isma pun melakukan hal yang sama. Dia juga berdoa dengan setulus hati.
Skipp. . .
Saat ini di ruang tamu, Isma, Prince dan teh Fitri duduk terdiam. Tidak ada yang berniat memulai percakapan. Sampai akhirnya dengan segenap keberaniannya, Prince memulai pembicaraan.
"Teh, sebenarnya. . . Tujuan saya datang kesini. . ." Prince menghentikan ucapannya.
Sebentar dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna emas dari saku celananya.
"Ini, ada cincin yang saya pilih untuk disematkan di jari manis Isma." Memberikan kotak itu pada Fitri.
Isma terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca, tidak menyangka dengan apa yang barusan didengar dan dilihatnya.
"Kamu melamar Isma?" Tanya Fitri untuk lebih menyakinkan.
"Iya teh." Jawab Prince tegas dan semangat penuh keyakinan.
"Coba kamu katakan langsung padanya." Saran Fitri.
Prince menghela napas panjang.
'Bismillah. . .' Batinnya.
Ditatapnya Isma yang sejak tadi terdiam menundukkan kepalanya itu.
"Isma Ramadhani, maukah kamu menjadi bidadari halalku?" Ucapnya lembut penuh harap.
Pipi Isma semakin merona. Dia merasa gerah tak menentu. Ada luapan kebahagiaan yang mengisi relung hatinya.
'Ya Allah, apa ini nyata? Atau ini hanya mimpi? Apa yang harus aku lakukan?' Batinnya.
__ADS_1
Isma benar-benar tidak tahu harus menjawab bagaimana, sampai akhirnya terlintas dipikirannya sebuah ide.
Diraihnya kotak gold kecil itu, dibukanya perlahan.
'Indah sekali. . . Apakah cincin ini cocok di jari manisku?' Batinnya lagi.
Prince menunggu dengan cemas dan penuh harap. Begitu juga dengan Fitri.
"Apakah cincin ini cocok di jari manisku?" Tanya Isma pada akhirnya.
Prince bingung. Dia tidak tahu ukuran jari manis Isma. Cincin itu dipilihnya berdasarkan ukuran jari kelingking miliknya.
"Maafkan aku Isma, aku memilihnya tanpa bertanya apakah cincinnya akan muat di jarimu atau tidak." Jawab Prince.
Mendengar jawaban itu, Isma tersenyum geli. Bukan itu maksud pertanyaannya.
"Prince, bukan itu maksud Isma." Sahut teh Fitri yang memahami arti senyum Isma.
"Lalu?" Tanya Prince heran.
"Apakah kamu yakin, Isma pantas untuk bersanding denganmu?" Sambung Fitri menjelaskan.
"Iya. Kamu satu-satunya yang aku inginkan dan yang paling pantas berada disisiku." Jawab Prince samangat.
Isma masih tersenyum, dia senang dan juga merasa lucu mendengar jawaban Prince.
"Lalu, akan ku pakai cincin ini." Ucap Isma sambil memasang cincin itu ke jari manisnya.
Prince tersenyum lega. Dia berdiri menghampiri Isma dan hampir saja memeluk Isma kalau saja Isma tak segera menghindar.
"Prince. . ." Teriak Fitri kaget.
Sedangkan Isma sudah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya tanpa menoleh lagi kebawah.
"Maaf teh, saya terbawa suasana." Ujar Prince malu.
Wajahnya kini merona merah. Dia benar-benar malu pada Fitri atas tindakannya yang hampir saja memeluk Isma.
"Itulah mengapa, Islam menganjurkan agar dua insan yang saling mencintai saat bertemu harus disertai mahramnya." Tutur Fitri.
"Iya Teh, maafkan saya."
"Cepatlah temui Abi dan Umi di Bandung. Segeralah halalkan Isma. Suapaya bisa kamu peluk. . ." Goda Fitri, yang sukses membuat Prince semakin merona.
Sementara itu, di kamarnya. Isma menangis bahagia menatap dirinya di cermin. Sesekali dia mengelus cincin yang kini melingkar di jari manisnya.
"Ya Allah, Ridhoilah pilihan hati ini. Aamiin."
Air matanya terus mengalir. Bibirnya terus tersenyum. Hatinya terus bertasbih memuji Asma Allah sebanyak-banyaknya.
Driittt. . . Drriiittt. . .
Suara HP nya. Dan itu merupakan notif pesan dari Prince melalui Watshapp.
__ADS_1
"Bos masih menggunakan nomor ini?" Ucapnya.
Isma pun langsung membuka pesan itu.
📱 Isma, aku pulang dulu.
📱 Aku kembali ke apartmen lamaku
📱 Besok pagi aku akan menjemputmu
📱 kita ke Bandung untuk menemui Abi dan Umi
📱 Selalu merindukanmu, sayang ❤❤
Betapa bahagia hati Isma membaca pesan dari Prince. Dan air matanya lagi-lagi menetes. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia.
Siang pun kini berganti malam. Isma baru saja selesai sholat isa. Dia melanjutkan membaca surah al-mulk. Surah yang selalu membuatnya tegar dan mengajarkannya untuk menerima segala apa yang telah Allah tetapkan.
Karena sesungguhnya, segala sesuatu yang ada dan yang terjadi dalam kehidupan ini, merupakan milik Allah yang Maha Kuasa atas segalanya.
Di kamar mereka, Fitri menceritakan perihal kedatangan Prince tadi siang pada suaminya.
"Bukannya Prince di Korea?" Tanya Arya sambil melipat sajadahnya.
"Prince sudah tiga hari di Jakarta, Mas. Dia datang untuk proyeknya. Dan kebetulan, Vino, suami dari mantan istrinya itu mempertemukan mereka di rumahnya." Tuturnya sambil menina bobokkan Arsyid.
"Dan Prince memantapkan dirinya untuk datang menemui Isma dan melamarnya." Sambungnya.
"Lalu, adek menerimanya?" duduk di sebelah istrinya.
"Iya. Adek menerima dengan senang hati. Mas. . . Mereka itu saling mencintai. Cinta mereka tetap tumbuh meski terpisah jarak dan waktu."
Arya tersenyum senang mendengar penuturan istrinya. Di belainya pipi wanita tercintanya itu, lalu di kecup kening istrinya itu.
"Cinta kita juga sekuat itu sayang. Tidak ada yang bisa memisahkn kita, kecuali takdir Allah dan kematian." Ucap Arya.
Fitri tersenyum bahagia. Didekapnya erat tubuh suaminya itu.
"Sayang, apa abi dan umi sudah tahu soal lamaran Prince?" Tanya Arya melanjutkan pembicaraan.
Fitri menggeleng. Dia malas bicara, karena matanya mulai mengantuk saat berada dalam dekapan suaminya.
"Semoga Abi dan Umi memberi restu untuk hubungan mereka." Ucap Arya.
Dia khawatir, Abi akan menolak keinginan Isma untuk dinikahi Prince. Terlebih, Abi masih menyimpan kenangan trauma kejadian menyakitkan puluhan tahun lalu itu.
"Kamu harus tetap kuat dek. Mas janji akan membantu kalian." Ujarnya penuh tekad dan harapan.
Bersambung. . .
Hai, Readerku semuanya. Apakah ada yang penasaran dengan Visualnya Isma dan kawan-kawan?
Jika iya, jangan lupa tulis di kolom komentar ya. 😉😉
__ADS_1