
Drriitt. . . Drriiittt. . . Drrriiittt. . .
Suara itu membangunkan Prince. Diraihnya Iphonenya yang diletakkan di atas nakas. Di layarnya tertera *Mama*.
Segera Prince memindahkan kepala Isma yang berbatal di lengannya. Perlahan Prince bangkit dan melangkah keluar dari kamar.
"Ada apa, Ma?" Tanya Prince segera setelah menjawab panggilan.
"Sayang. . . Kakek. . ." Ucapnya sambil menangis.
"Kakek kenapa, Ma?"
"Kakek sakit."
"Innalillahi. . ." Sahut Prince dengan masih tak percaya.
"Kakek dimana sekarang, Ma?"
"Di rumah sakit, kakek kritis." Jelas Mama sambil terisak.
"Kapan kakek ke rumah sakit, Ma. Kenapa Prince gak di kasih tau?"
"Mama sudah menghubungimu, tapi kamu tidak menjawab panggilan Mama. Kakek tiba-tiba saja pingsan pagi tadi, jantungnya kembali lemah." Jelasnya.
"Di rumah sakit mana, Ma?"
Mama menyebutkan alamat Rumah sakit pada Prince. Lalu setelah mengetahui alamatnya, Prince pun langsung mengakhiri pembicaraannya dengan Mama.
Prince kembali ke kamar, dilihatnya Isma masih tertidur lelap. Lalu matanya beralih menatap jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 15,00 sore.
"Sayang. . . Bangun. Sudah sore, bentar lagi asar."
Prince mengelus lembut pipi Isma untuk membanginkannya.
"Mmhh, sudah sore?" Tanya Isma yang perlahan membuka matanya.
"Iya. . . Bangun yok."
Isma mengusap wajahnya, lalu dia pun duduk. Prince tersenyun melihat wajah ngantuk Isma yang ceberutnya sangat menggemaskan.
"Sayang. . . Kalau ke Koreanya di tunda. . . Sayang kecewa nggak?"
"Memangnya Mas mau kemana?"
"Kakek sakit. Mas harus ke Jakarta sekarang." Jelasnya.
"Kakek sakit? Innalillah. . . ya udah yok, kita ke Jakarta. Aku siap-siap sekarang." Ucapnya, dengan langsung nenarik handuk menuju kamar mandi.
Sedangkan Prince tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat Isma yang bergegas dengan keadaan masih mengantuk.
Sambil menunggu Isma bersiap, dia menelpon Rina.
📱"Iya, Bos. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rina.
__ADS_1
📱"Booking satu kamar di hotel, Bogor."
Rina tersenyum senang mendengar itu, rasanya dia ingin menggoda pengantin baru itu. Namun, keinginan itu harus di tahan, karena yang bicara adalah Bos.
📱"Lengkap dengan semua pernak-pernik untuk pengantin baru?" Tanya Rina datar, padahal dalam hatinya tertawa geli.
📱"Terserah. Yang penting siapkan segera."
📱"Baik, Bos."
Tanpa mengucap salam lagi, Prince sudah mengakhiri pembicaraan itu. Dan tanpa di sadarinya, pada saat itu Isma keluar dari kamar mandi.
Isma melihat Prince seakan menutup telepon saat mengetahui dirinya sudah kembali dari kamar mandi.
"Ss…sayang, sudah selesai?" Tanya Prince dengan sedikit gagu.
Hal itu menambah kecurigaan Isma. Dia mulai bertanya-tanya siapa yang ditelpon suaminya sampai harus sembunyi begitu.
"Sudah, Mas. Tapi, bentar lagi 'asar. Bagaimana kalau kita sholat 'asar dulu, baru berangkat ke Jakarta." Saran Isma.
"Iya sayang. Mas juga mau mandi dulu. Sayang siap-siap pakai mukenanya. Kita sholat berjamaah." ucapnya sambil mengelus lembut pundak Isma.
Wudunya gak batal ya. Isma kan memakai baju. Jadi Prince menyentuhnya di bagian yang berlapiskan baju.
"Siapa yang ditelponnya. Segitu rahasiakah pembicaraan mereka? Atau mungkin. . ." Ucap Isma mencoba menerka.
"Astaghfirullah. . . Aku mikir apa sih. Ya Allah." Sambungnya sambil mengusap wajahnya.
Lalu Isma pun mengambil mukena da sajadah. Dibentangnya sajada suaminya dan juga sajadahnya. Lalu, Isma memakai mukenanya.
5 menit kemudian.
Prince sudah kembali dari kamar mandi. Lalu dia bersiap memakai sarung, baju dan pecinya. Kemudian mereka sholat 'asar berjamaah.
Usai sholat, Prince berdoa untuk keselamatan dan keharmonisan rumah tangganya. Prince juga berdoa agar cepat diberi momongan.
Doa itu membuat Isma merona. Namun, matanya berkaca memancarkan perasaan haru dan juga bahagia.
Segala doa yang dipanjatkan suaminya di aamiinkan dengan khusuk oleh Isma.
Skipp. . .
Usai sholat, Isma bersiap pakaian lengkap dan hijab panjangnya. Prince juga mengganti kaos oblong dengan kemeja dan memakai celana panjang.
"Kopernya bawa gak, Mas?" Tanya Isma menatap koper yang sudah terisi penuh oleh pakaiannya.
"Gak usah. Kita balik lagi ke Bandung kok."
"Iya tau. Tapi kan gak mungkin malam ini langsung balik ke Bandung. Setidaknya malam ini kita akan nginap di Jakarta." celoteh Isma.
"Iya sayang. Nanti sampai Jakarta kita beli baju. Ok."
Mendengar itu, Isma mengerutkan dahinya tidak sependapat dengan suaminya. Di bongkarnya koper itu, lalu diambilnya beberapa baju dan hijab, kemudian dimasukkan delam tas yang lebih kecil.
__ADS_1
Prince hanya menggelengkan kepala melihat Isma. 'Perempuan selalu ribet. Mau pergi sehari, persiapan udah sekapal.' Rutuk Prince dalam hati.
"Udah, aku siap." Ujar Isma.
"Baiklah. Sini tasnya." Mengulurkan tangan untuk mengambil alih tas yang dijinjing Isma.
"Gak usah. Aku bisa bawa sendiri. Gak berat juga ini." Jawabnya.
Isma pun melangkah meninggalkan kamar, disusul oleh Prince. Tidak lupa dia mengunci pintu kamar. Lalu, Prince mengejar langkah Isma dan merebut tas itu dari tangan Isma.
"Eehh. . . Mas. . ." Protesnya saat tas sudah berhasil pindah tangan.
Prince sudah keluar dari rumah. Dia memasukkan tas kedalam mobil di kursi belakang. Sedangkan Isma masih mengunci pintu dan menulis disecarik kertas. Dia menyelipkan dibawah pintu.
"Untuk apa itu, sayang?" Tanya Prince heran.
"Pesan untuk Umi." Melangkah ke dekat mobil.
"Kan bisa beritahukan lewat telepon." Ujar Prince yang kini membuka pintu mobil untuk Isma.
Isma hanya bersungut kesal, lalu dia segera masuk ke mobil.
"Kenapa sayang? Kok kesal gitu?"
Prince kini sudah di mobil. Dan mobil mulai berjalan perlahan meninggalkan perkarangan rumah.
"Kamu kok cemberut gitu, kenapa?"
"Hp aku kan rusak. Mas lupa, kan mas yang banting."
"O iya. Maaf sayang, mas lupa." Ujar Prince sambil tersenyum malu-malu.
"Nanti kita beli yang baru." Mengelus lembut kepala Isma.
"Bukan masalah barunya. Tapi, semua nya ada di Hp itu. Fb, Ig, Email yang aktif untuk berkomunikasi dengan klien, data keuangan juga. . ." Rutuknya kesal.
"Maafkan Mas ya sayang. . . Nanti kita beli iphone yang baru." Bujuknya.
"Udah di bilangin bukan masalah iphone baru Mas. Tapi. . ."
"Facebook? Instalgram? Email? Sayang. . . Tinggal pindahkan semuanya ke iphone nya kan bisa."
"Iya bisa. Makanya kalau aku ngomong jangan di potong dulu." Celotehnya kesal.
Prince terkekeh gemas melihat temperamen istrinya yang tiba-tiba berubah jadi galak. Padahal tadi di rumah baik-baik saja.
"Aku gak ingat password nya... Mas." Sambungnya.
Prince tertawa hampir terbahak-bahak. Hal itu membuat Isma semakin bertambah kesal.
"Ganti fb, ig dan email baru saja, sayang. . . Sekalian kan. Sepaket gitu. Suami baru, Hp baru, fb baru, Ig baru dan Email baru. Ya, kan?" Goda Prince.
Dia sengaja membuat Isma bertambah kesal. Karena tingkat imutnya bertambah saat Isma sedang marah, berceloteh dan bersungut kesal.
__ADS_1
Bersambung. . .