Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Masjid Korea


__ADS_3

Saat ini sedang musim semi di Korea. Bunga bermekaran. Cuaca sangat cerah, tidak terlalu panas dan juga tidak dingin.


Isma berlari kecil menyusuri jalanan yang penuh dengan bunga sakura, Prince mengikutinya dari belakang sambil memvideokan istrinya itu.


Sesekali Isma berputar dan menyambut bunga-bunga yang berguguran.


"Ini seperti di drama Korea. . ." Teriaknya bahagia memberitahukan pada Prince.


"Sayang bahagia?" Tanya Prince.


Isma mengangguk sambil tersenyum. Kemudian kembali berlari.


Mereka sekarang berada di Korea. Di Negara yang sangat indah, kental budayanya dan juga sangat ramah penduduknya.


"Mas, aku mau makan ice cream…" Mendekati Prince lalu menunjuk bus ice cream di seberang jalan sana.


"Ok, sini tangannya."


Isma memberikan tangannya, Prince menggenggam tangan itu dan merekapun menyeberang jalan sambil bergandengan tangan.


Begitu sampai, Prince memesankan satu cup jumbo ice cream vanila kesukaan Isma.


"Mas, gak beli?" Tanya Isma mendapati Prince hanya membayar untuk ice creamnya saja.


"Satu berdua saja. Supaya romantis seperti di drama-drama gitu." Ujar Prince dengan santainya.


Mereka mencari tempat duduk untuk menikmati ice creamnya. Begitu sampai di kursi yang ditata di pinggiran jalan, Isma langsung melahap ice creamnya dengan membawanya kebalik cadarnya.


"Sini. . . Mas bantu pegangin cadarnya sayang." Saran Prince yang langsung mengambil alih ujung dan bagian tengah cadar Isma.


Kini kedua tangan Isma fokus memegang ice creamnya, sedangkan Prince hanya kebagian memegangkan ujung kain cadar Isma.


"Mas mau?" Unjuk Isma menjulurkan ice cream kearah Prince.


Prince membuka mulutnya, lalu Isma pun langsung menyuapkan ice cream tersebut pada Prince.


"Gimana? Enak, kan?"


"Manis, semanis sayangnya Mas." Goda Prince yang diacuhkan oleh Isma.


"Sayang makan ice creamnya pelan-pelan. Pasti belepotan itu mulutnya."


"Biarin aja. Gak kelihatan juga, kan ketutup cadar." Bantahnya dengan terus menikmati ice creamnya.


Setelah ice cream habis. Isma dan Prince melanjutkan jalan-jalan mereka menuju Masjid. Karena sebentar lagi waktu zuhur akan tiba.

__ADS_1


"Masjid ini selalunya hanya aku lihat di Tv. Kali ini aku bisa menginjakkan kaki di Masjid ini." Celoteh Isma senang.


"Masjid ini mulai dibangun tahun 1974 dan mulai digunakan tahun 1976 ini merupakan perpaduan atas donasi pemerintah Korea, serta uang pembangunan masjid dari patungan negara-negara Islam lainnya." Jelas Prince bersejarah tentang Masjid di Korea ini.


"Berarti, Islam telah ada sejak lama dong di Korea?" Tanya Isma.


"Iya sayang. Islam ada sejak Masjid ini berdiri. Hanya saja, saat itu mereka sangat minoritas, hingga tak banyak diketahui." Jelas Prince.


"Alhamdulillah ya Mas, sekarang Islam sudah mulai tersebar di Korea. Sudah banyak yang islam meski masih tetap minoritas." Ucap Isma.


"Iya, sayang. Sekarang sudah berkembang pesat dari sebelumnya. Bahkan ada beberapa artis Korea yang juga akhirnya masuk islam." Tutur Prince.


"O ya? Wah Daebakk. . ." Ucap Isma menggunakan bahasa Korea yang sejak tadi sering didengarnya dari orang sekeliling saat melihat sesuatu yang luar biasa.


"Sayang tahu artinya apa?" Tanya Prince.


Sebentar Isma tersenyum, kemudian dia menarik tangan Prince untuk segera masuk ke Masjid.


"Aku tidak tahu artinya. Tapi sepertinya bukan umpatan. Jadi aman." Ujarnya


Prince tersenyum mendengar penjelasan Isma. Kemudian dia berlari kecil agar bisa mensejajarkan langkah kakinya dengan istrinya itu.


Sementara Isma dan Prince melaksanakan sholat zuhur. Di Jakarta, Rina dan Bimo tengah dihadapkan dengan persoalan kantor yang amat sangat melelahkan.


Banyaknya kesimpang siuran data, administrasi yang kacau dan laporan bulanan, mingguan dan harian yang berceceran membuat mereka terpaksa menunda jam makan siang.


"Maafkan saya mbak. Kemarin saya cuti beberapa hari. . ." Ucapnya terbata-bata.


"Saya juga pernah cuti. Tapi tidak pernah melalaikan pekerjaan saya. Tugas dan tanggung jawab saya tetap terlaksana dengan baik. Dan kamu. . . Hanya karena cuti beberapa hati, semuanya jadi amburadul?" Sambung Rina masih dengan teriakan nyaringnya.


"Rudi, ada baiknya sekarang kamu selesaikan semuanya. Perbaiki semua kesimpang-siuran ini. Saya tunggu hingga pukul 10 malam ini." Ujar Bimo.


"Baik, Pak. Akan saya kerjakan dan selesaikan segera. Terimakasih banyak, Pak. Maafkan saya mbak Rina." Ucapnya dengan menundukkan kepala kearah Rina dan Bimo.


Bimo hanya mengangguk pelan, sedangkan Rina malah mengalihkan pandangannya.


"Semoga beruntung. . ." Tegas Rina, kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.


Bimo pun ikut meninggalkan ruangan itu. Dia mengikuti langkah istrinya yang menuju atap.


Sedangkan staff bernama Rudi itu menatap sinis kepergian kedua atasannya. Dia merasa tersinggung dan marah akan perlakuan atasannya itu.


"Baru jadi asisten Bos aja belagu. Ingat Rina, aku akan membuat kamu menyesal pernah membentakku." Gertaknya penuh amarah dan dendam.


Dan kini Rina berdiri menatap luas dunia. Dia berdiri di atas atap gedung perusahaan.

__ADS_1


"Sayang. . ." Panggil Bimo menghampiri Rina.


Dipeluknya Rina dari belakang, di kecupnya pundak Rina.


"Jangan terlalu dipikirkan. Sayang juga harusnya gak usah marah-marah seperti tadi, semuanya bisa dibicarakan baik-baik." Bisik Bimo menasehati.


"Jadi menurut Mas Bimo aku yang salah?" Ketusnya kesal.


"Bukan begitu, sayang. Mas hanya khawatir Rudi sakit hati, terus dia dendam sama sayang, dan. . ."


"Dia memang tidak bertanggung jawab, Mas. Kok bisa cuti tanpa memberikan tugasnya pada orang lain." Rutuk Rina kesal.


"Dia lupa sayang. Namanya juga manusia biasa. Dia memang salah, tapi kita juga tidak boleh terlalu keras seperti itu." Jelas Bimo mencoba memberi pengertian.


"Gak bisa gitu, Mas. Kalau kita gak tegas mereka semakin ngelunjak." Rutuknya kesal.


"Iya, sayang benar. Tapi, Rudi juga sudah minta maaf, kan. Jadi kita berikan dia kesempatan."


Rina diam. Sebenarnya dia masih sangat kesal. Dia hanya tidak ingin di cap Sekretaris yang tak beres. Terlebih selama Prince sedang cuti.


Dan juga semenjak Prince pindah ke perusahaan di Korea, Rina dan Bimo yang menjadi kepercayaannya untuk menghendel perusahaan.


"Tugas kita berat, Mas. Aku hanya tidak ingin Bos kecewa. Dia mempercayakan semuanya sama kita berdua, dia bahkan tidak mengangkat CEO baru. Karena dia pikir jika tatanan atasan berubah, semua karyawan akan ikut terkena dampaknya." Ujar Isma.


"Ya, Mas paham."


Dipeluknya istrinya itu untuk menenangkan perasaan kesalnya yang masih belum reda.


"Sebenarnya Mas bingung dan terharu, sayang. Mas bukan siapa-siapa. Kenal Bos juga di perusahaan. Tapi dengan penuh percaya Bos meminta Mas menghendel perusahaan. Padahal, Mas dulu tidak suka dan Mas juga pernah menonjok wajah Bos." Tuturnya mulai bercerita.


"Kok bisa, Mas berantam sama Bos?" Tanya Rina penasaran.


"Iya, dulu. Bos pernah mau pecat Isma gara-gara Isma tidak mau menerima cintanya. Padahal bos baru saja menikah waktu itu." Jelasnya.


Rina mengerutkan dahinya. Dia belum pernah mendengar cerita ini. Ya, Bimo hanya menceritakan tentang Isma dan Prince yang saling mencintai saja.


"Berarti mereka sudah saling menyukai sejak lama? Kenapa Mas gak pernah cerita?"


"Mas kira Isma selalu cerita sama sayang. Bukankah kalian sahabatan?"


"Itulah kenapa aku kesal, marah dan cemburu sama Isma, Mas. Dia merahasiakan banyak hal dariku. Sedangkan Mas tahu banyak tentang Isma. Aku kira, aku merebut Mas dari Isma." Ujarnya pelan.


Perlahan Rina membalikkan tubuhnya hingga mereka saling bertatapan. Bimo tersenyum menatap wajah sedih Rina. Dibelainya pipi istrinya itu dengan lembut.


"Mas jangan tinggalkan aku, ya. . ." Ucapnya sambil melingkarkan tangannya ditubuh suaminya.

__ADS_1


Bimo mengangguk, lalu dielusnya lembut punggung Rina, diberinya kecupan di puncak kepala Rina.


Bersambung. . .


__ADS_2