Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Muntah


__ADS_3

Suasana hening, hanya terdengar suara mesin pendeteksi detak jantung Abi.


Rina dan Bimo duduk di sofa ruang VIP tempat Abi dirawat. Umi terus menggenggam tangan Abi erat tanpa ingin menoleh pada Isma dan Prince yang berdiri di hapannya.


"Abi, maafkan Prince. . ." Ucap Prince sambil menggenggam tangan Abi.


"Prince janji Abi. Prince akan membahagiakan Isma. Jika sampai Isma meneteskan air mata duka karena Prince, maka. . . Abi berhak mengambil Isma lagi dari Prince." Sambungnya.


Isma hanya terisak dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Sedangkan kedua tangannya melingkar erat di pinggang suaminya.


Sesekali Bimo dan Rina saling bertatapan. Ya, mereka tidak tahu apa yang terjadi. Mereka hanya sempat curiga, Isma dan Prince bertengkar, saat Prince tiba-tiba membatalkan keberangkatannya ke Bandung kemarin sore.


Dan Umi, dia juga menangis. Ditatapnya penuh cinta wajah suaminya yang terbaring tak sadarkan diri itu. Perlahan Umi mengelus wajah itu. Sedangkan air matanya masih terus mengalir.


'Maafkan Umi, Abi... maafkan Umi...' Batin Umi.


"Pergilah Prince. . ." Ujar Umi lirih dalam tangisnya.


Isma mengeratkan pelukannya. Dia menggeleng kuat, tidak ingin suaminya pergi.


"Umi. . . Tidak bisakah aku tinggal sebentar saja. Hari ini saja, Umi. Aku sangat merindukan Isma. . ." Prince memohon.


Tangis Isma pecah, dia mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Prince.


"Tidak, Mas. Jangan pergi. . . Umi jangan usir Mas Prince. Abi. . . Abi bangun. . . Abi harus tau, Mas Prince berbeda dari kakek Yudha. Mas Prince tidak akan menyakiti adek meski hanya seujung rambut. Abi. . . abi. . ." Isak Isma sambil berteriak menggoyangkan tubuh Abi.


Umi dan Prince membolakan mata mereka mendengar ucapan Isma. Sebentar Umi dan Prince saling menatap, mereka saling bertanya dalam diamnya.


Bagaimana Isma bisa tahu tentang semua itu. Dari mana Isma tahu tentang kakek Yudha yang ternyata penyebab trauma Abi?


Pertanyaan itulah yang muncul dalam pikiran Umi dan Prince.


"Dek, pergilah. . . Pergilah ikuti suamimu." Ucap Umi pada akhirnya.


Isma terdiam, dia berhenti menggoyangkan tubuh Abi. Matanya menatap sendu wajah Umi.


"Prince bawa Isma kemanapun yang kamu inginkan. Hanya satu. . . Tolong, jangan buat dia menderita. . . Bahagiakan dia selamanya. . ." Tegas Umi yang makin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Abi.


"Umi. . ."


Isma melangkah dan memeluk erat tubuh Umi. Tangisan keduanya pecah.


"Umi. . . Maafkan adek. Adek sayang Umi dan Abi. . . Tapi, adek gak bisa tanpa Mas Prince. Adek mencintai Mas Prince, Umi. . ." Tuturnya menangis dalam pelukan Umi.


Umi mengelus lembut punggung Isma, dia mendekap tubuh kesayangannya itu seakan ini pertemuan terakhir mereka.


"Jaga diri. Ingatlah, jangan pernah lupakan sholat, rajinlah membaca Qur'an. . . Jadilah istri sholehah. . ." Nasehat Umi sambil menghapus air mata dipipi Isma.


Isma mengangguk kuat dalam pelukan Umi.

__ADS_1


"Abi bagaimana Umi?" Sambung Prince.


Umi melepas pelukannya. Lalu menatap wajah Abi sebentar, kemudian beralih pada Prince.


"Umi akan merawat Abi. Isma akan bersamamu. Kamu dunia Isma sekarang, asal kamu tidak menyakiti Isma maka Umi akan pastikan Abi akan tetap baik-baik saja. Abi akan sembuh." Tegas Umi.


Air mata masih terus menetes dipipinya. Tapi Umi mampu menegaskan ucapannya. Ya, Umi sudah siap dengan segala hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi.


Tapi, Umi tidak peduli dengan semua hal buruk itu. Kebahagian Isma yang terpenting saat ini. Meski ada sedikit rasa keraguan melepas Isma bersama Prince, setidaknya selama kepergian Prince dan Isma tiga minggu lalu, Isma pulang dengan penuh kebahagiaan.


Itu sudah cukup menjadi kekuatan untuk Umi melepas Isma pada Prince.


"Terimakasih, Umi. Prince janji akan selalu membahagiakan Isma. Maafkan Prince sekali lagi. Prince akan selalu membantu dan mendoakan untuk kesembuhan Abi. Jika Umi butuh sesuatu, katakan langsung pada Prince… Umi janji, ya?"


Prince mengatakan semua hal itu sambil memeluk Umi. Lalu, Isma juga ikut memeluk Umi.


Sedangkan Rina dan Bimo masih diam ikut terbawa suasana haru yang tak mereka ketahui apa yang sebenarnya terjadi.


Sebelum meninggalkan rumah sakit, Prince mencium kening Abi. Dia juga meminta doa restu dari Umi. Isma pun melakukan hal yang sama, hanya Prince tidak menangis, dia hanya merasakan sedih saja. Tapi, Isma menangis terisak.


'Maafkan adek, Abi. Maafkan Adek. . .' Batin Isma.


"Pergilah, bahagiakan Isma. Biarkan Umi merawat Abi." Ucap Umi lagi saat melepaskan kepergian Prince dan Isma.


"Umi, semoga Abi segera diberi kesembuhan. Maaf Rina juga harus pergi. Jika terjadi sesuatu hubungi Rina segera Umi." Pamit Rina.


Rina mengangguk, lalu memberikan pelukan untuk Umi. Dan setelah Bimo menyalami Umi, mereka pun akhirnya menyusul Isma dan Prince yang kini sedang menyelesaikan segala administrasi perawatan Abi.


Skiipp. . .


Mata Isma sembab, sesekali air mata masih menetes dari pelupuk mata sembabnya itu.


Tangannya menggenggam erat pergelangan Prince, dan kepalanya bersandar dibahunya.


"Mas, apa adek terlalu egois? Abi akan baik-baik saja, kan?"


Prince memberi kecupan di puncak kepala Isma. Tidak bisa memberi pelukan, karena satu tangannya fokus mengendalikan setir mobil.


"Kita berdoa, semoga Allah memberi kesembuhan untuk Abi. Dan. . . Semoga Allah melembutkan hati Abi untuk merestui hubungan kita."


Isma mengangguk mengaminkan doa dan harapan suaminya.


Sementara itu, Rina dan Bimo yang mengemudikan mobil mereka tepat di belakang mobil Isma dan Prince, masih terus saling melempar pertanyaan.


"Mas, sepertinya semua ini ada hubungannya dengan kakeknya, Bos." Ujar Rina.


"Mas rasa juga begitu, sayang. Tapi, kenapa begitu? Kakek Yudha merestui pernikahan mereka, Abi dan Umi juga merestui. . . Lalu, kenapa Umi meminta Bos membawa Isma pergi?" Ulangnya menyampaikan lagi pertanyaan yang sudah diucapkan berulang kali.


"Nanti aku tanyakan saja langsung sama Isma. Aku benar-benar penasaran." Sambungnya.

__ADS_1


Kembali pada Isma dan Prince.


"Sayang, kita berhenti dulu, ya. Lagian bentar lagi juga adzan zuhur."


"Iya, Mas. Berhenti di Masjid depan saja." Saran Isma.


Benar, mobil mereka kini parkir di halaman Masjid besar kota Bandung. Rina dan Bimo juga ikut berhenti.


Begitu mobil berhenti, Prince berlari keluar dari mobil. Dia langsung menuju sudut pagar Masjid dan muntah.


Isma yang melihat hal itu segera berlari menghampiri suaminya.


"Mas kenapa?" Tanya Isma khawatir.


"Nggak tau sayang, tiba-tiba mas mual. . . Huekk, huekk. . ." Prince muntah lagi.


Bimo datang membawakan sebotol air mineral. Prince pun langsung meminumnya. Kemudian Rina memberikan tissu untuk Prince membersihkan kerah kemejanya yang terkena percikan muntahnya.


"Hhuueeekkk. . . "


Prince muntah lagi. Rina yang melihat itu pun ikut muntah bersama.


Kini, Isma membantu Prince menepukkan punggungnya. Dan Bimo mengurusi Rina. Dia membawa Rina menjauh dari Prince dan Isma.


"Mas, apa perut mas sakit? Kepala mas pusing?" Tanya Isma khawatir.


"Sa…yyaang. . . Rasanya mual sekali. Mas gak kuat. Hhuueekk. . ." Ucap Prince terbata-bata.


Isma memanggil Bimo. Dia meminta bantuan Bimo untuk membawa Prince kembali ke mobil.


Prince sudah berhenti muntah, namun dia merasa sangat lemas. Bagaimana tidak, Prince bahkan memang tidak makan sejak kemarin.


Bimo meninggalkan mobilnya di parkiran Masjid, dan mereka membawa Prince menggunakan mobilnya menuju puskesmas terdekat.


Begitu sampai di puskesmas, seorang dokter langsung memeriksa keadaan Prince.


"Tuan Prince tidak apa-apa. Hanya saja, perutnya kosong tak terisi." Jelas Dokter itu.


Isma menatap tajam wajah lemas Prince. Ya, dia mengerti Isma menatap marah padanya. Tapi, apa boleh buat memang kesalahannya karena tidak sempat makan kemarin.


"Baiknya, Tuan Prince mencari makanan dan segera mengisi perutnya. Jika masih terus terlambat makan, maka akan merambat pada lambung anda, Tuan." Tutur Dokter itu.


"Terimakasih, Dokter. Suami saya memang selalu lupa makan. Dia selalu asik dengan pekerjaannya." Sahut Isma sambil menatap marah pada suaminya.


Prince hanya tersenyum getir. Salahnya memang karena tidak menjaga pola makan dengan baik.


Merekapun akhirnya meninggalkan puskesmas dan kembali ke Masjid setelah menyempatkan mengisi perut yang keroncongan itu.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2