
Prince kini berdiri di lantai paling atas gedung hotel. Matanya nenatap ke bawah memperhatikan para tamunya yang menunggu acara peresmian dimulai.
Hembusan angin menampar wajahnya, rambutnya bergerak pelan mengikuti arah angin. Sejenak Prince mengalihkan pandangan pada telapak tangannya.
"Maafkan aku Isma. Aku benar-benar mencintaimu. Aku terobsesi untuk memilikimu." Ucapnya lalu menundukkan kepalanya.
Tanpa disadarinya, Isma melangkah mendekatinya.
"Bos, acara akan segera dimulai. Semua orang menunggu." Ucap Isma pelan dengan nada Formal dan lebih tenang.
Perlahan Prince menoleh. Ditatapnya wajah dihadapannya, namun Prince tak dapat menatap wajahnya untuh, karena Isma menundukkan pandangannya.
"Maafkan aku, Isma. Jika tindakan ku hanya membuat kamu selalu merasa tidak nyaman, maka aku akan mencoba untuk tidak lagi mengganggumu." Ucapnya penuh penyesalan.
"Tidak apa, bos. Saya sudah menulis surat pengunduran diri. Saya juga sudah menyalin semua berkas dan file untuk sekretaris baru bos. Jadi, saya juga minta maaf karena berhenti sebelum kontrak berakhir."
Sebentar Prince terdiam. Hatinya hancur mendengar penjelasan Isma. Ada perasaan takut dan sedih dalam hatinya. Prince takut tidak mampu melewati harinya tanpa kehadiran Isma.
"Baiklah, jika itu keputusan terbaik." Tegas Prince tanpa ada nada kesedihan sedikitpun.
"Kamu pulanglah. Saya akan menyelesaikan acara ini tanpa kamu. Seringlah berkunjung ke sini. Semua fasilitas di hotel dan wonderland gratis untuk kamu sampai kapanpun. Karena ini adalah hasil ide, karya dan mimpimu. Saya mengizinkan projek ini hanya untuk Isma Ramadhani." Tegas Prince sambil melangkah hendak meninggalkan Isma.
__ADS_1
"Bos. . . Izinkan saya mendampingi bos menyelesaikan acara ini." Teriak Isma yang masih berdiri di tempatnya.
Langkah Prince terhenti seketika mendengar teriakan Isma.
"Pulanglah. Aku tidak ingin melihatmu." Ucap Prince tanpa menoleh.
Ucapan itu sontak membuat hati isma terenyuh sakit. Namun, sejenak Isma terdiam, lalu bibirnya tersenyum.
"Terimakasih ya Allah. Engkau memberi kan rasa sakit ini sebagai kekuatan untuk hamba bisa dengan mudah melupakannya." Ucapnya.
Lalu tanpa ketahuan siapapun, Isma meninggalkan Bogor. Dia mengemudikan mobilnya menuju Jakarta. Dalam ingatannya, senyum lucu dan suara si kecil Arsyid sudah membuatnya rindu dan ingin segera bertemu.
"Arsyid sayang, tunggu aunty."
Bimo juga sudah berusaha menghubungi Isma, tapi HP Isma mati. Bimo kini semakin khawatir. Dia mengkhawatirkan Isma yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
Terakhir Bimo melihatnya bersama Prince. Tapi saat Prince memulai acara peresmian tadi, Isma sudah tak terlihat. Rasanya Bimo ingin menannyakan perihal menghilangnya Isma pada Prince.
"Tidak. Bos terlalu sibuk." Ucap Bimo menepis keinginannya untuk bertanya.
"Bim, aku tidak menemukan Isma dimanapun!" Seru Rina sambil melangkah kearah Bimo.
__ADS_1
"HP nya dimatikan. Aku khawatir terjadi sesuatu sama Isma."
"Bagaimana kalau kita coba cari di dalam hotel. Siapa tahu Isma kelelahan dan tak sengaja ketiduran di salah satu kamar hotel." Saran Rina.
"Kamu benar. Yaudah yok." Ajak Bimo dengan menarik lembut pergelangan tangan Rina.
Rina tersenyum senang, sementara Bimo penuh khawatir.
'Ya tuhan. . . Ini serasa adegan film india, romantisnya.' Batinnya.
"Semoga kita bisa menemukan Isma." Ucap Bimo yang tak didengar oleh Rina.
Rina terhanyut dalam perasaan senangnya karena tangannya dengan tangan Bimo sekarang saling bergandengan erat.
Dan tanpa mereka sadari, sebenarnya sejak tadi Prince memperhatikan gerak-gerik kedua karyawannya itu. Prince tahu mereka mencari Isma, tadinya Prince ingin memberitahukan, tapi Rina dan Bimo bahkan tak bertanya.
"Aneh. Semoga saja keduanya berjodoh." Ucap Prince sambil tersenyum.
Ya, akhir-akhir ini Prince sering memperhatikan Rina. Sehingga dia mulai menerka, kalau Rina sedang jatuh cinta pada Bimo. Hanya saja, Bimo b**o* tak merasakan hal itu. Ya, karena Bimo sibuk memperhatikan Isma.
"Aku harap, kalian berakhir bahagia. Tidak seperti kisah cintaku yang sangat rumit ini." Ujarnya pelan.
__ADS_1
Bersambung. . .