
Masalah terselesaikan. Vino menepati janjinya mengirim kayu tepat waktu ke alamat Isma. Namun, ada hal yang membuat Isma heran. Transaksi pembayaran Isma di tolak oleh Vino.
"Kenapa transaksi pembayaran saya di tolak, mbak?" Tanya Isma melalui pembicaraan lewat Telepon dengan karyawan GIOK Holding.
"Perintah dari Pak Vino seperti itu, mbak Isma." Jawabnya.
"Sambungkan saya pada Tuan Vino." Pinta Isma.
Panggilan itu pun di sambungkan ke telepon rumah Vino.
"Selamat malam. Apa ini tuan Vino?" Tanya Isma.
"Saya istrinya. Mbak siapa ya? Dan ada keperluan apa sama suami saya malam-malam begini?"
Sejenak Isma terdiam, dia mencoba mengingat suara itu. Suara yang terdengar tidak asing ditelinganya.
"Saya Isma. Maaf mengganggu malam Nyonya. Saya hanya ingin memastikan tentang transaksi pembayaran kayu yang saya beli dari tuan Vino." Jelas Isma panjang lebar.
Sekarang giliran Nyonya Vino yang terdiam mengetahui siapa yang berbicara dengannya.
"Tunggu sebentar saya panggilkan suami saya..."
Tiga menit kemudian…
"Ada yang bisa saya bantu, buk Isma?" Tanya Vino yang mengambil alih ganggang telepon.
"Tuan Vino. Begini tuan, kenapa transaksi pembayaran saya ditolak? Apakah jumlah uangnya kurang?"
"Oo, jadi masalah itu. Anggap itu ganti rugi karena pembatalan pesanan buk Isma dengan pak Sukir."
"Kenapa begitu? Saya belum membayar sedikitpun untuk kayu yang dibatalkan pak Sukir."
"Baiklah, jika buk Isma ngotot mau bayar, langsung saja antarkan uangnya ke rumah saya. Nanti saya share lokasi."
__ADS_1
'Gak takut istrinya salah paham apa, ya? situ mah enak. Lah saya, kalau sampai disalah pahami, bisa di sangka pe***ok.' Rutuk Isma dalam hati.
"Tidak usah Tuan. Kirim saja no rekening istri Tuan. Saya akan langsung transper ke istri tuan Vino saja." Tegas Isma menolak.
Sengaja Isma membawa-bawa istri Vino. Mungkin Vino lupa sudah beristri, jadi Isma mengingatkan tentang dirinya beristri.
"Begini saja. Temui istri saya langsung. Saya akan aturkan pertemuannya." Saran Vino.
Isma membelalakkan matanya. Dia bertambah heran, kenapa Vino malah memintanya untuk bertemu istrinya. Maksud dan tujuannya apa coba.
Yah, Isma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Tapi apa boleh buat, lebih baik bertemu istrinya dari pada harus menemui Vino yang lebih membuatnya takut.
"Baiklah tuan. Terimakasih, selamat malam." Buru-buru Isma mengakhiri pembicaraan itu.
Sedangkan Vino tersenyum saat meletakkan ganggang telepon. Kemudian dia menghampiri istrinya yang sejak tadi menatapnya dengan penuh pertanyaan.
"Kenapa harus bertemu sama aku?" Ujarnya heran sambil menatap tajam mata suaminya.
Vino tersenyum duduk di samping istrinya. "Gabriel sudah bobok?" Tanyanya sambil mengelus pipi istrinya.
"Apa dia Isma…" Ucapannya terhenti.
"Iya, sayang. Dia Isma Ramadhani. Dialah alasan mengapa kamu, aku dan Gabriel bisa kembali bersama." Jelas Vino.
Dibelainya lembut rambut istrinya, kecupan penuh kasihpun diberikan di dahi istrinya.
"Kita harus berterimakasih pada Isma. Kamu setuju, kan?" Tanya Vino.
Istrinya mengangguk dan tersenyum. Matanya berkaca-kaca, kalau saja Vino tidak langsung mendekapnya, buliran bening dimatanya pasti telah jatuh membasahi pipinya.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud meninggalkan kamu dan Gabriel jagoan kecil kesayangan kita." Ucap Vino.
Dia mempererat pelukannya. Betapa menyesalnya saat itu dia meninggalkan dua harta berharganya itu.
__ADS_1
Sementara pasangan itu tengah saling berpelukan hangat, Jauh di negeri asing kota Seoul (Korea), seoarang Pria tinggi nan gagah tengah bermenung. Dia duduk di balkon kamarnya, membiarkan angin menerpa wajahnya.
Jam menunjukkan pukul 02,23 dini hari. Matanya enggan untuk dibawa tertidur. Sebab hatinya merindukan seseorang yang bertahun-tahun tidak terdengar kabarnya.
"Apakah kamu baik-baik saja? Ah, atau mungkin sekarang kamu telah menikah?" Ucapnya pelan sambil menatap bulan di langit sendirian tanpa bintang.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan di luar pintu kamarnya terdengar jelas, membuatnya tersadar dari lamunan.
"Tuan Prince…" Panggil wanita setengah baya itu dengan logat Koreanya.
"Ne…!" Seru Prince sambil melangkah menuju sumber suara.
"Ada panggilan dari Jakarta." Ucapnya dengan bahasa Koreanya.
"Dari siapa?" Tanya Prince dengan tetap berbahasa Indonesia.
Perempuan setengah baya itu, memahami ucapan Prince yang selalu menggunakan bahasa Indoneaia saat berada dirumah. Hanya saja, pembantunya itu kesusahan untuk belajar berbicara bahasa Indonesia.
"Vino Anggara." Ucapnya.
Tanpa menyahut ucapan pembantunya lagi, Prince langsung menekan salah satu tombol di layar Iphonenya. Rupanya dia menghubungi Vino.
"Halo, Vino. Apa Gabriel sakit? Apa yang terjadi?" Tanya Prince khawatir.
"Tenang Prince, aku bisa menjaga Gabriel dengan baik. Kau tau, aku Appa kandungnya." Tegasnya sedikit cemburu.
"Lalu, ada apa menelpon jam segini?"
"Yaa. . . Hanya ingin memberitahukan tentang. . . IS.MA." Ucapnya dengan menekankan nama Isma.
Tidak ada jawaban. Prince terdiam. Akhirnya, setelah tiga tahun, ada seseorang yang mengabarkan tentang Isma padanya.
__ADS_1
Entah mengapa matanya tiba-tiba berair, buliran air itu menetes. Bibirnya memberikan senyum yang menyiratkan rasa rindu yang teramat sangat.
Bersambung. . .