Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
"IBADAH MALAM"


__ADS_3

Bogor, Hotel.


Isma sudah siap membersihkan diri. Kini dia sedang menunggu Prince yang sedang mandi. Isma sudah siap dengan mukenanya dan juga sudah membentang dua sajadah.


5 menit kemudian.


Prince kembali dari kamar mandi dengan sudah memakai pajamas.


"Huhuhuhu. . ." Senandungnya sambil menyisir rambut.


"Sayang. . ." Panggilnya. Namun, panggilan itu terhenti saat melihat Isma sudah memakai mukena.


"Mas, ini sarung sama pecinya. Kita sholat dulu." Ajaknya.


Prince tersenyum, ada perasaan sedikit kecewa. Tapi dia juga bahagia, karena bidadarinya selalu mengingatkan dirinya untuk sholat dua roka'at sebelum tidur.


"Sayang. . . I love you." Ucap Prince sambil memasang sarung dan pecinya.


Kemudian mereka pun larut dalam khusuknya sholat. Betapa indahnya kebahagiaan yang kini sedang mereka rasakan.


Usai sholat Prince tidak lupa berdoa, setiap doa nya di aamiin kan oleh Isma, hingga akhir doa nya.


Begitu selesai berdoa, Prince membalikkan badannya menghadap Isma. Isma segera mengambil tangan Prince untuk di ciumnya. Begitu Isma mencium tangan suaminya, keningnya juga dikecup oleh suaminya.


Cukup lama Prince mengecupnya, dia juga membacakan doa nya. Isma tersenyum merona sambil ikut membaca doa yang dilantunkan suaminya.


Ya, Isma senang, ternyata suaminya juga sudah mengetahui tentang doa sebelum beribadah di malam hari untuk penyatuan cinta mereka.


Usai melantunkan doa itu, Prince pun merangkul tubuh Isma. Dibawanya ke atas tempat tidur. Perlahan Prince melepas mukena Isma.


Isma diam, seluruh tubuhnya gemetar. Pipinya merona, namun bibirnya tak sanggup untuk tersenyum. Isma bahkan menahan napasnya, dia lupa cara bernapas.


"Sayang. . . Bernapaslah." Bisik Prince dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Isma.


Isma pun langsung menarik napas sebanyak-banyaknya. Tapi, begitu bibir Prince mendarat di bibirnya, Isma kembali menahan napasnya.


Padahal ini bukan pertamakali mereka berciuman. Tapi, entah mengapa Isma merasa ini benar-benar berbeda. Ada rasa takut, senang dan juga sedih.


"Tenanglah, sayang. . . Mas akan melakukannya dengan perlahan dan dengan penuh kasih. Jangan takut. . ." Ucap Prince.


Lalu, perlahan dia membaringkan tubuh Isma, ditatapnya wajah malu dan takut Isma yang terlihat menggemaskan dan begitu imut.


Dibelainya lembut rambut Isma, perlahan Prince mulai mencium kening Isma, mata, hidung, pipi dan terakhir Prince mengecup bibir Isma.


Sebentar Prince berhenti, dia memposisikan dirinya tepat di atas Isma dengan menjadikan tangannya sebagai tumpuan menahan berat badannya.


Kemudian Prince mengecup lagi bibir Isma, sementara dengan perlahan Isma mulai mengalungkan tangannya di pundak Prince. Merasakan tangan Isma yang sudah melingkar erat di pundaknya, Prince pun akhirnya memperdalam ciumannya.


Dan tanpa disadarinya, kini tubuh besarnya sudah menindih Isma yang mulai menghela napas pelan. Isma menahan rasa indah itu dengan sekuat yang dia bisa.

__ADS_1


"Bersuaralah, sayang. . ." Pinta Prince.


Isma menggeleng, "Cukuplah hanya kita berdua yang mendengar suara indah ini, Mas." Ucapnya terengah-engah.


"Tapi, sayang tersiksa menahannya." Ujar Prince yang juga terengah-engah menahan gejolak indah kerinduan dan cintanya pada pacar halalnya itu.


"Tidak, aku bahagia malam ini, Mas. Sangat bahagia. . ."


Prince tersenyum, lalu melanjutkan kegiatannya. Dengan cepat dia melepas pajamasnya, kemudian perlahan membantu Isma melepas pakaiannya.


Isma mengalihkan pandangannya dan memejamkan matanya erat-erat saat dia merasa tangan Prince mulai membuka pakaiannya. Dan Prince tersenyum senang terlebih saat akhirnya dia berhasil melepas pakaian Isma.


Prince kembali melanjutkan tugasnya, dan saat itu, setetes bulir bening menetes di ujung mata Isma. Tangannya melingkar erat di pundak Prince.


Melihat Isma menahan rasa sakit, Prince memeluknya erat dan mengecup keningnya penuh kasih.


"Sayang, semoga Allah meridhoi cinta kita dan disatukan hingga Jannahnya." Bisik Prince terengah.


Isma tersenyum dalam sakitnya. Senyum bahagia, dan merasa dirinya dipenuhi dengan seluruh cinta dari lelaki yang sangat dicintainya itu.


Malam itu begitu indah bagi mereka, Kamar hotel mewah itu menjadi saksi bisu perpaduan cinta dua insan yang baru menikah itu.


Dan malam itu Prince benar-benar melakukannya dengan berulang kali, hingga dia merasa kasihan melihat wanitanya yang sudah sangat lelah dan mengantuk.


Tepat sebelum mereka mengakhiri ibadah malam mereka, Prince menggendong tubuh Isma ke kamar mandi. Mereka membersihkan diri sebelum akhirnya tidur.


Skiippp. . .


Prince membuka matanya, tangannya meraba-raba di atas tempat tidur. Dia tidak menemukan tubuh Isma. Dia segera bangun. Matanya menatap sekeliling kamar mencari keberadaan istrinya.


Senyumpun akhirnya terlihat diwajahnya saat melihat istrinya tertidur di atas sajadah.


"Sayangku bahkan tidak meninggalkan dua roka'at dhuha." Ucapnya merasa malu, karena dirinya kembali tidur setelah sholat subuh.


Dihampirinya istrinya itu, dipangku tubuh itu dalam dekapannya.


"Mas. . . Sudah bangun?" Tanya Isma yang terbangun saat merasa tubuhnya sudah berada dalam dekapan suaminya.


"Sayang, maafkan Mas. Sayang jadi kelelahan gini. . ." Ucap Prince yang menyesali perbuatannya tadi malam.


Isma tersenyum, ditatapnya wajah suaminya itu dengan tatapan penuh kasih.


"Tidak perlu meminta maaf, Mas. Sudah kewajibanku sebagai istri yang sedang belajar menjadi istri yang sholehah untuk suamiku ini." Ucapnya lembut.


Prince pun tersenyum haru mendengar jawaban Isma.


"Sayang. . . Jangan pernah tinggalkan Mas. Apapun yang terjadi, tetaplah berada di samping, Mas." Ucapnya.


Isma hanya tersenyum. Ibadah tadi malam merupakan bukti cintanya pada suaminya itu.

__ADS_1


"Mas, aku lapar. . ." Rengeknya sambil mendusel manja didada suaminya.


"Ya sudah, yok kita sarapan. Sayang mau sarapan apa? Mas pesankan."


"Gak mau. Aku mau masak sendiri." Ucapnya.


Lalu dia melepaskan diri dari dekapan suaminya. Segera dia mengganti mukena menjadi hijab panjangnya.


"Sayang mau masak sarapan sendiri?" Tanya Prince heran.


"Iya. Kenapa? Ada yang salah?" Sahutnya sambil merapikan hijabnya.


"Kita di hotel sekarang, sayang. . . Ini bukan di rumah, loh." Jelas Prince.


Isma tersenyum menatap kearah suaminya.


"Mas lupa, ini hotel siapa?" Tanya Isma melangkah mendekati suaminya.


Sejenak Prince berpikir, kemudian dia pun ikut tersenyum.


"Iya, Mas tahu ini hotel punya siapa? Tapi sayang yakin mau masak sarapan sendiri?"


"Yakin. Dapur di hotel ini, aku yang design, Mas. Jadi aku mau mencoba memasak di dapur impianku." Ucapnya semangat.


"Baiklah. . . Mas lupa. Ternyata hotel ini milik sayang."


"Hmm, tapi waktu hotel ini resmi di buka, aku sudah di usir. Bahkan belum sempat mengecek dapurnya." Sindirnya mengenang kejadian tiga tahun lalu.


Prince tersenyum malu mendengar sindiran Isma. Lalu dia menarik tubuh Isma masuk dalam dekapannya.


"Salah sayang sendiri yang tidak mau menerima cinta Mas waktu itu." Protesnya sambil mengecup pipi tembem Isma.


Drrriiittt. . . Drriiittt. . .


Iphone Prince berdering. Dilayarnya tertera Nomor baru. Sayangnya Prince tidak mendengar suara getaran ponselnya.


Mereka asyik bercanda tawa saling berlari kejar-kejaran menuju dapur.


Siapakah yang menelpon Prince???


Bersambung. . .


Hai Readerku. . .


Terimakasih karena selalu setia membaca karyaku.


Terimakasih dukungan kalian semua. . .


Semoga kita selalu dalam keadaan sehat.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


Like, komen dan five rate dan Vote.


__ADS_2