
3 Bulan kemudian.
Pagi ini Isma benar benar sibuk. Prince tidur lagi setelah sholat subuh. Dia kecapek an karena harus bergadang membantu Isma menenangkan Rara yang sedang sakit, sehingga menangis semalaman.
Kini Rara juga ikut tertidur bersama ayahnya. Sedangkan Fazil dan Feisal bermain di tempat tidurnya. Dan Isma menyiapkan sarapan, mencuci pakaian anak anak dan juga membereskan rumah.
Mereka sudah tidak mempekerjakan pembantu sejak bulan lalu. Karena ada yang menaruh perhatian pada ketiga sikecil. Pembantu itu hampir membawa kabur ketiga anak mereka. Sejak hari itu, Isma tidak lagi mau mempekerjakan siapapun meski orang yang sudah dikenalnya.
"Mas, sarapannya sudah siap." Menghampiri Prince dan membelai rambutnya, menghapus keringat didahi suaminya.
"Mas masih ngantuk. Nanti saja sarapannya." Rengeknya manja menyelipkan kepala kepangkuan Isma.
"Ya sudah, Mas tidur lagi saja." Kembali membelainya.
"Selamat pagi jagoan Bunda..." Menyentuh tangan tangan mungil yang kini sibuk bergerak dan sesekali membawa jari jari itu kemulut mereka.
"Jangan makan jarinya." Mencegah jari mungil itu masuk ke mulut mereka.
"Ini saja..." Memberikan mainan karet yang aman untuk mereka hisap.
__ADS_1
"Sayang, kita ke Bandung saja ya. Supaya bisa dibantu Umi." Rengeknya masih memejamkan mata.
"Yakin? Mas benaran mau kita tinggal di Bandung dulu?" Menyelidik.
Prince diam sejenak. kemudian dia duduk dan langsung memeluk erat tubuh Isma.
"Mas sayyyyaaaaaang kalian semua. Tapi, kalau setiap malam mereka rewel, Mas gak sanggup." Kembali merengek.
Isma hanya tersenyum mendengar keluhan suaminya itu. Wajar saja dia mengeluh seperti itu. Sudah hampir dua minggu ini Prince tidak pergi bekerja. Dia selalu membantu Isma mengurus ketiga jagoan mereka.
Berbeda dengan Prince dan Isma. Keluarga satu ini jadi semakin sering bertengkar semenjak menjadi orangtua.
"Lalu menyiapkan sarapan. Eh belum jadi sarapannya Azam sudah menangis minta susu. Ribet Mas kalau jadi perempuan itu. Kalau kalian mah enaknya saja." Sambungnya masih terus menggerutu.
Semua omelan itu berawal, dari Bimo yang bertanya untuk program lagi. Eh malah kena semprot kan jadinya.
"Mas itu kalau ngomong ya mikir dulu. Mas mau enaknya saja. Nanti kalau mengandung, aku juga yang harus menanggung semuanya. Belum lagi melahirkan dan lanjut menyusui, kemudian mengasuhnya..."
Ucapannya terhenti saat Bimo memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Sayang tidak boleh bicara sembarangan seperti itu. Mas hanya bertanya sayang. Kan waktu itu kamu juga yang menginginkan adek untuk Azam." Tuturnya.
"Iya, aku memang mau. Tapi rasaya belum kuat untuk menanggung rasa tidak nyaman pada perut." Celotehnya.
"Ya sudah, kalau gitu Mas minta maaf. Jangan marah marah terus dong." Bujuk Bimo.
Rina hanya tersenyum dan membalik tubuhnya untuk berhadapan dengan Bimo.
"Maafkan aku, Mas. Aku mudah marah akhir akhir ini." Ucapnya menyesal.
"Iya, tidak apa. Mas akan selalu siap mendengarkan semua celotehan sayang." Mengecup kening Rina.
Rina terharu, segera dia menghambur dalam pelukan suaminya.
Sementara itu, di rumah sakit Vino sedang menatap kumpulan semut yang sedang mengangkut makanan.
"Andai aku bagian dari kalian. Aku pasti akan bahagia. Tidak memikirkan apapun, hanya perlu mencari makan dan membuat tempat singgah." Ucapnya pada kumpulan semut semut merah itu.
Dari kejauhan seorang perawat memperhatikan Vino dengan perasaan prihatin dan kasihan.
__ADS_1