
Usai sholat subuh, Prince langsung membantu Isma untuk mengurus anak anak. Dia dengan telaten mengganti popok dan juga membedong anak anak mereka.
"Sayang, sekarang saatnya mandi." Menggendong tubuh Isma menuju kamar mandi.
"Mas adek sudah kuat jalan sendiri kok. Mas tidak perlu menggendong adek lagi." Protes Isma.
"Jangan protes. Mas akan selalu menggendong sayang sampai sayang sudah leluasa bergerak dan bisa menggendong anak anak." Meletakkan perlahan tubuh Isma dilantai kamar mandi.
Lalu Prince membantu Isma mandi. Sambil membantu Isma mandi, Prince memikirkan cara untuk memberitahu Isma tentang Vino dan Gabriel. Dia merasa tidak bisa merahasiakan itu semua dari Isma.
"Sayang, Mas boleh mengatakan sesuatu?" Membasahi tubuh Isma dengan air secara perlahan.
"Boleh, katakan Mas."
Sebentar Prince mengisi bathtub, lalu mengangkat tubuh Isma masuk kedalamnya.
"Mas, airnya akan berubah merah." Ucap Isma kaget saat tubuhnya sudah berada didalam bathtub.
"Maaf sayang, Mas lupa." Mencabut tutub bathtub, hingga airnya mengering.
Lalu Prince menghidupkan shower dan membiarkan airnya menimpa Isma seperti air hujan.
"Katanya mau bertanya?" Penasaran.
"Jadi begini..." Menggosok tangan Isma.
Prince menceritakan semuanya pada Isma tanpa ada yang terlewatkan. Isma diam mendengarkan dengan baik semua cerita Prince.
"Lalu, kenapa Mas tidak membawa Gabriel untuk tinggal bersama kita?" Tanya Isma.
"Mas tidak mau. Nanti sayang akan repot. Apa lagi kita punya tiga bayi yang harus kita rawat, sayang." Jelas Prince.
__ADS_1
"Tapi kasihan dia, Mas. Bocah seusianya ditinggalkan sendirian akibat ulah kedua orangtuanya yang tidak bertanggung jawab." Celotehnya kesal.
"Mas tau. Tapi, kebahagiaan kita jauh lebih penting sayang. Biarlah mereka mengurus anak mereka sendiri. Dan kita juga harus mengurus anak anak kita saja. Tidak usah memikirkan orang lain. Lagi pula, semua itu salah mereka sendiri" Mebasuh perlahan tubuh Isma.
"Baiklah. Maafkan adek." Menatap wajah suaminya.
"Kenapa meminta maaf?" Menyentuh wajah Isma
"Karena adek tidak akan pernah mau melepas Mas untuk alasan apapun." Ucapnya menatap dalam mata Prince.
Mendengar itu, Prince langsung memeluk erat tubuh Isma. Dia menangis terisak dipundak Isma.
"Kenapa Mas menangis?" Tanya Isma heran.
"Terimakasih karena adek tidak salah paham dan percaya sama Mas. Mas benar benar takut, adek akan marah dan salah paham karena Mas masih saja memperdulikan Gabriel." Tuturnya sambil menangis.
Isma tersenyum senang. Di elusnya lembut rambut suaminya. Lalu Isma pun memberi tepukan lembut juga pada punggung Prince.
"Adek kapan selesainya?" Menatap sambil mengiba.
"Masih lama, Mas. kemungkinan dua puluh hari lagi."
"Mhh, baiklah." Melanjutkan membersihkan tubuh Isma dari sisa sisa sabun.
Selesai mandi, Prince membawa Isma kembali ke kamar dan menggantikan bajunya. Dan si kecil masih terlelap.
"Anak anak Ayah masih tidur?" Mengangkat tubuh Fazil yang terlihat gelisah meski matanya masih terpejam.
"Eeh eh, Fazil ngompol. Bangun bangun, banjiirrr..." Goda Prince bermain dengan Fazil.
Benar saja Fazil langsung terbangun saat Prince membuka bedongannnya dan mengganti popoknya.
__ADS_1
"Feisal juga bangun?" Isma mengambil tubuh Feisal.
Feisal bangun bukan karena pipis, tapi lapar. Dia mengeluarkan lidahnya dan menghisap bibirnya.
"Feisal lapar ya nak? Iya, kita minum!"
Isma menyusukan Feisal. Sedangkan Fazil yang sudah berganti popok, sudah bergerak gerak lincah diatas kasurnya.
"Jagoan Ayah lagi senam!" Memegang tangan mungil Fazil.
"Senyum, jagoan ayah senyum..." Memberi ciuman saat Fazil tersenyum.
Sangking gemasnya, Prince langsung mengankat tubuh Fazil tanpa bedongan. Isma hampir menjerit saat melihat bagaimana cara Prince menggendong Fazil.
"Tenang Bunda. Ayah sudah hatam pelajaran menggendong bayi tanpa bedongan." Ucapnya sambil menimang nimang tubuh Fazil yang sepertinya suka dengan perlakuan ayah.
"Tuan putri belum bangun? Anak gadis kok bangunnya siang." Ucap Prince mengelus pipi lembut Rara.
"Biarkan saja dulu Rara tidur. Nanti kalau dipaksa bangun Rara ngamuk lo Mas. Dia tidak suka diganggu kalau lagi tidur." Tutur Isma.
"Begitukah?" Tanya Prince yang ketinggalan berita tentang Putri kecilnya.
"Iya. Waktu di rumah sakit. Umi sangking gemasnya karena Rara tidur terus, dibangunkan sama Umi. Nangis lah itu anak." Jelasnya.
"Ayah coba Ah..." Mulai menjaili Rara.
"Jangan." Protes Isma.
Prince tidak menghiraukan. Dia terus menggoyang tubuh munggil Rara menggunakan tangan mungil Fazil.
"Hweueukkk..." Tangisan Rara pecah menggema di seluruh ruangan. Membuat Feisal yang sedang menyusu terkejut, hingga akhirnya ikut menangis.
__ADS_1
"Maassss..." Rengek Isma menahan rasa kesalnya.
Prince tersenyum saja, dia pun langsung menggendong Rara bersebelahan dengan Fazil. Isma sibuk membujuk Feisal.