Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Hey Baby


__ADS_3

Hari ini kebetulan Prince pulang lebih awal. Dan saat pulang, Isma sedang menonton Tv. Dia kaget melihat suaminya sudah pulang, sementara dia belum menyiapkan makan malam. Karena, setiap Prince lembur, dia melarang Isma memasak.


"Mas, sudah pulang?" Sambutnya bingung.


Prince memeluk tubuh Isma erat. Dia meletakkan kepalanya diceruk leher istrinya itu.


"Mmmhh, nyaman." Ucapnya.


"Adek belum menyiapkan makan malam." Jelas Isma sambil mengelus punggung suaminya.


"Ini, Mas beli pecal Lele kesukaan sayang." Mengangkat kantong plastik berisi dua bungkus pecal lele.


Prince melepaskan pelukan itu. Dia memberikan makan malam itu pada Isma.


"Mas mau mandi dulu. Sayang siapkan makan malamnya." Ucapnya sambil mengusak lembut kepala Isma.


Isma mengangguk paham. Lalu, keduanya berpisah lagi. Prince menuju kamar untuk mandi dan mengganti pakaian. Sedangkan Isma menuju dapur untuk menyiapkan makanan.


Hanya menaruh kedua bungkus nasi pecal lele itu keatas dua piring yang berbeda. Lalu, Isma menyiapkan sirup orange kesukaan Prince. Dan tidak lupa mengupaskan pete untuk lalapan.


Tidak berapa lama Isma menunggu di meja makan, Prince sudah menghampirinya. Dikecupnya puncak kepala Isma, kemudian dia duduk dikursi samping Isma.


"Sayang duduk sini." Meminta Isma duduk dalam pangkuannya.


"Berat, Mas. Kandungan adek sudah enam bulan loh." Ucapnya.


"Tidak apa. Ayok sini, Mas kangen sama istri dan anak-anak Mas." Menarik Isma untuk duduk di pangkuannya.


Isma tersenyum senang, saat Prince mengatakan rindu padanya dan juga anak-anak. Isma belum memberitahukan pada Prince, tentang bayi mereka yang kembar tiga. Persis seperti yang diinginkan Prince selama ini.


"Wwuaaakkhh… benar, ternyata Bunda makin berat." Ujarnya saat Isma duduk di pangkuannya.


"Anak-anak Ayah sudah pada besar juga ya, di dalam perut bunda." Menyentuh Perut Isma.


Dan pada saat tangan Prince menyentuh perut Isma. Terjadi tendangan dari dalam. Prince kaget, sedangkan Isma tersenyum senang.


"Loh, dedeknya nedang sayang!" Seru Prince bahagia.


Dia kembali menyentuh perut Isma dan terjadi tendangan lagi. Merasa penasaran, Prince akhirnya menyelipkan tangannya kedalam baju Isma. Tangannya kini menyentuh langsung permukaan perut buncit Isma.


"Wuahh, anak-anak Ayah akan menjadi pemain sepak bola?" Tanya Prince.


Sekali lagi terjadi tendangan, dan kali ini tendangannya sangat kuat dari dua sebelumnya.

__ADS_1


"Hei, baby. Jangan terlalu keras menendang perut Bunda. Nanti Bunda akan merasa sakit." Protesnya.


"Mungkin yang terakhir baby boy." Ucap Isma.


Prince tersenyum saja, tanpa mengerti kalau Isma sebenarnya memberi kode, bahwa anak mereka ada tiga.


"Semoga saja. Tapi, mau baby boy or girl... Ayah akan sangat senang."


Satu kecupan dipipi Isma. Lalu, Prince melanjutkan keacara makan malam mereka.


Dia mulai menyuap nasinya. Bukan untuk dia, tapi untuk Isma. Dengan sengan hati Isma menerimanya.


"Sekarang Mas yang makan. Adek suapin!" Seru Isma hendak menyentuh makanannya.


Tapi sebelum itu terjadi, Prince langsung menghalangi tangannya agar tidak menyentuh makanan.


"Kenapa, Mas? Apa tangan adek kotor? Atau Mas tidak mau adek suapin?" Tanya Isma merasa heran dan sedikit tersinggung.


Prince tersenyum, lalu memberikan kecupan dibibir Isma. Kemudian, tanpa menjawab pertanyaan itu, dia menyuap makanan untuk dirinya sendiri.


"Sayang tidak perlu mengotori tangan. Biar Mas saja yang menyuapi sayang dan Mas makan sendiri. Toh selama ini, sayang selalu menyuapi makan saat Mas makan." Jelasnya.


Lalu, Prince meyodorkan lagi makanan pada Isma langsung dari tangannya. Isma tersenyum lega. Dia tidak jadi merajuk dan melanjutkan makan malam mereka.


"Sayang tahu, setiap hari Mas selalu merindukan sayang. Rasanya ingin berhenti saja bekerja." Tuturnya sambil berbaring dipangkuan Isma.


Wajahnya dihadapkan langsung pada perut buncit Isma. Tangannya juga tidak berhenti mengelus perut Isma.


"Setiap hari kita selalu bertemu. Kenapa Mas rindu?"


"Karena, pagi hari kita hanya bisa ngobrol sebentar. Lalu, malam hari saat Mas pulang, sayang sudah tidur. Mas juga sudah sangat lelah. Jadi, Mas merindukan sayang." Rengeknya manja.


Lalu, satu tentangan yang sangat kuat kembali dirasakannya. Dan kali ini tepat mengenai pipinya yang bersentuhan langsung dengan perut Isma.


"Baby? Kok malah menendang Ayah?" Tanyanya dengan ekspresi yang sangat menggemaskan.


Isma tertawa saja melihat itu. Sebenarnya tendangan kali ini terasa sangat kuat, dan memang sakit.


"Mungkin baby marah, karena Ayah selalu sibuk kerja dan merengek mengatakan rindu." Terka Isma.


"Benarkah begitu?" Prince bangkit dari posisi duduknya. Dia turun dari sopa.


Kali ini Prince duduk dilantai menghadap perut Isma. Dia menyingkap baju Isma hingga memperlihatkan perut Isma yang terlihat semakin tipis dan keras.

__ADS_1


Perlahan Prince mendekatkan hidungnya pada perut itu. Lalu, memberi ciuman diatas perut Isma.


"Terimakasih karena anak-anak Ayah selalu menemani Bunda saat Ayah sibuk di kantor."


Prince melingkarkan tangannya di pinggang Isma. Lalu menyandarkan pelan kepalanya di perut Isma. Kemudian, dia mulai melantunkan ayat-ayat pendek agar didengar oleh penghuni rahim istrinya.


"Mas tahu?" Ucap Isma saat Prince selesai membaca surah-surah pendek.


"Apa?" Mendongakkan kepalanya.


Sebentar Isma meraih sesuatu dari dalam laci meja di belakang suaminya.


"Ini, hadiah untuk Mas." Memberikan satu potret hasil USG.


Prince mengambil dan memandangi dengan serius gambar itu. Sebentar dia mendongak lagi untuk menatap Isma. Lalu, air matanya tiba-tiba menetes. Dia mencium perut Isma berkali-kali dan mengeratkan pelukannya di pinggang Isma.


"Terimakasih sayang, kita akan punya tiga orang anak!" Serunya bahagia.


Isma mengelus kepala suaminya yang bersandar di perutnya. Air matanya pun ikut jatuh.


"Anak-anak, hey baby…" Sapa Prince sambil mencium lagi perut Isma sebanyak tiga kali di area yang berbeda.


Betapa bahagianya Prince dan Isma. Mereka benar-benar seperti mendapatkan harta karun yang banyak. Tangisan keduanya semakin menyatu dalam tautan bibir mereka yang saat ini saling bersentuhan.


Air mata masih sama-sama menetes dari ujung pelupuk mata keduanya. Tangis haru bahagia begitu indah. Hadiah yang Allah berikan terlalu indah dan luar biasa untuk mereka.


BERSAMBUNG


Hay hay Reader. . .


Semangat dan terus jaga kesehatan.


Jangan lupa


LIKE


KOMEN


VOTE


Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.


Terimakasih semuanya. . .

__ADS_1


__ADS_2