
"Umi, lagi ngapain?" Tanya Abi menghampiri Umi yang sedang merajut kaos kaki bayi.
"Abi…" Menyembunyikan rajutannya dalam genggaman.
"Lagi ngapain?" Ulang Abi.
Dia duduk di samping Umi. Hal itu membuat Umi semaki mengeratkan gengaman tangannya.
"Umi lagi nonton, Bi." Jawabnya ragu.
Abi tersenyum, lalu perlahan matanya beralih menatap tangan Umi yang menggengam erat menyembunyikan rajutan kaos kaki mungil itu.
"Ini apa, Mi?" Menyentuh tangan Umi.
"Ee ini cuma benang aja, Bi. Umi belajar merajut." Kilahnya.
Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Umi, akhirnya Abi membuka gengangaman tangan Umi. Abi terdiam saat melihat apa yang Umi genggam.
"Abi, sungguh Umi hanya belajar merajut saja, kok." Jelasnya khawatir karena raut wajah Abi telah berubah sendu.
"Maafkan Abi, Mi." Menunduk sambil terus berucap kata maaf.
"Abi kenapa minta maaf?" Tanya Umi dan langsung memeluk erat tubuh Abi.
"Harusnya Abi tidak membuat Isma pergi. Abi sangat merindukan Isma, Mi." Ucap Abi yang mulai menangis.
Umi ikut menagis saat Abi menyebutkan Isma. Umi sedih dan merasa bersalah saat Abi mengatakan merindukan Isma.
"Harusnya Abi tidak berusaha memisahkan Isma dari suaminya. Harusnya Abi tidak menisahkan Ibu dan anaknya." Ujar Abi dan tangisnya semakin menjadi.
"Abi, maafkan Umi. Semua karena Umi yang meminta Isma pergi. Umi yang meminta Prince membawa Isma pergi. Maafkan Umi." Tutur Umi dalam tangisnya.
Abi melepas pelukan Umi. Dipegangnya kedua pundak Umi, ditatapnya wajah Umi yang penuh dengan air mata. Perlahan Abi menyapu air mata itu menggunakan jemarinya.
"Umi sudah melakukan yang benar. Umi tidak perlu minta maaf. Umi sudah melakukan yang terbaik."
Keduanya kini saling bertatapan dengan air mata yang masih terus mengalir di pipi mereka.
"Apakah mungkin Isma bahagia, Mi?"
Umi mengangguk kuat sambil tersenyum. Lalu, dia kembali menghambur dalam pelukan suaminya itu.
"Isma sangat bahagia, Abi. Prince memperlakukannya dengan baik."
"Umi tahu dari mana? Atau mungkin, Umi sering komunikasi dengan Isma?"
"Fitri yang memberitahu. Karena Fitri selalu bertanya pada Rina tentang keadaan Isma."
"Benarkah?"
"Iya, Bi." Umi melepas pelukannya lagi.
Ditatapnya dalam mata Abi. Masih ada air yang menggenang disana. Mungkin sebentar lagi air itu akan kembali tumpah membasahi pipi Abi.
"Isma tengah mengandung sekarang, Bi."
__ADS_1
"Masya Allah... Tabarakallah…" Ucap Abi bersyukur dan bahagia.
Abi kembali memeluk Umi. Betapa bahagia mendengar kabar menggembirakan itu.
"Apakah Isma akan memaafkan Abi?"
"Tentu. Isma tidak pernah membenci kita, Bi. Kata Fitri, Rina merindukan Abi setiap saat."
"Lalu, apakah Prince juga?" Tanya Abi penasaran.
"Rasanya Abi tidak punya muka untuk bertemu Prince, Mi. Betapa memalukannya Abi. Tidak bisa menjadi contoh yang baik untuknya. Sungguh Abi malu." Sambung Umi.
"Prince memikirkan setiap hari untuk datang menemui Abi. Tapi, dia mengurungkan niatnya karena khawatir Abi akan sakit lagi saat melihat dia lagi."
"Benarkah seperti itu? Tapi, mungkin Prince tidak datang karena dia membenci Abi, Mi."
"Tidak, Bi. Prince sangat merasa bersalah karena menjadi penyebab sakit Abi."
Sejenak Abi terdiam. Lalu kemabali memeluk Umi.
"Kapan kita bisa bertemu mereka lagi, Mi?"
"Abi ingin bertemu mereka?"
"Iya. Abi ingin meminta maaf, pada mereka sebelum terlambat."
"Mereka di Korea sekarang, Bi. Perusahaan Prince sedang mengalami beberapa masalah. Dan dia sangat sibuk sekarang."
Sejenak Abi diam. Lalu dia memejamkan matanya, kembali air matanya tumpah dipundak Umi.
"Umi akan meminta Fitri memberitahukan segera pada Isma..."
"Baiklah, kita tunggu sampai mereka pulang." Ucap Umi setuju.
Meninggalkan Abi dan Umi. Di salah satu Masjid, Kakek Yudha sedang belajar praktek gerakan sholat.
Meski keadaan pisiknya tidak begitu sehat, dia tetap penuh semangat mempelajari gerakan duduk antara dua sujud, rukuk dan juga sujud.
"Ustadz, bagaimana dengan bacaan sholatnya. Saya belum hafal sama sekali." Ujarnya sedih.
"Saat sholat, Baba boleh membaca sambil melihat buku tuntunan sholat saat sedang melaksanakan sholat."
"Saya tidak bisa membaca tulisan arab seperti itu."
Ustadz mengambil buku tuntunan sholat. Dibukanya buku tersebut. Lalu menunjukkan tulisan latin dibawah tulisan arab pada bacaan di buku itu.
"Untuk sementara Baba bisa membaca tulisan ini."
"Bolehkah?"
"Boleh. Karena Baba masih dalam tahap belajar."
Kakek Yudha tersenyum senang. Dia pun mulai membaca bacaan sholat sambil belajar memperagakan beberapa gerakan sholat.
Seperti saat ini Baba belajar rukuk. Dia pun membaca doa untuk rukuk. Lalu saat bangkit dari rukuk, Baba membaca bacaannya juga.
__ADS_1
"Ustadz, apa bacaan-bacaan sholat ini memiliki arti yang bagus?" Tanya Kakek.
"Sangat bagus. Semua bacaan dalam sholat adalah doa."
"Doa?"
"Iya. Saat sedang sholat, kita berdoa sepanjang sholat kepada Allah. Dan doa yang selalu kita ucapkan dalam sholat, akan menjadi benteng diri." Turut Ustadz.
"Doa-doa itu akan langsung sampai pada Allah. Dan saat itu, kita akan merasakan ketenangan yang luar biasa. Dan Allah akan menjaga kita agar tidak melakukan segala perbuatan yang tidak disukai Allah." Sambung Ustadz.
Kakek mengangguk paham. Dia benar-benar merasa takjub dengan penuturan Ustadz.
"Kenapa saya baru kenal Islam saat usia saya telah di ujung." Sesal kakek.
"Jangan menyalahkan waktu, Ba. Segala sesuatunya telah ditetapkan dengan ketentuan Allah yang disebut takdir."
Ustadz mendekati Baba. Digenggamnya tangan Baba. Lalu dia terlihat menangis.
"Sungguh, Baba adalah manusia suci. Dosa Baba telah diampuni Allah. Dan Baba masih diberi kesempatan untuk mengenal Allah. Ini luar biasa, Baba."
Ustadz menjelaskan dengan penuh haru. Ya, betapa beruntung mualaf-mualaf yang mendapat hidayah dari Allah. Saat mereka mengucap syahadat, segala dosa mereka diampuni. Dan mereka bersih layaknya bayi yang baru lahir.
Benar-benar anugerah terindah dan terbesar. Semua muslim akan sangat bahagia menyambut para Mualaf yang dengan setulus hati menyambut hidayah Allah SWT.
"Saya pernah memusuhi orang-orang yang taat pada perintah Allah. Saya bahkan membunuh mereka." Ucap Baba.
Dia menangis terisak. Tangisnya terdengar sangat pilu penuh penyesalan.
"Saya benar-benar menyesal melakukan semua itu. Saya sangat kejam dan saya tidak pantas mendapat ampunan sebesar itu, Ustadz." Ucap Kakek dalam tangisnya.
Ustadz mengelus punggung Baba. Dia mencoba menenangkan Baba.
'Ya Allah, istiqomahkan Baba akan Agama-Mu. Bukalah selalu pintu hidayahmu untuknya. Ampuni dosa-dosa kami, Ya Allah.' Ucap Ustadz dalam hatinya berdoa.
"Ustadz, benarkah saya akan mendapat ampunan?" Tanya Kakek lagi untuk lebih meyakinkan hatinya.
"Allah telah berjanji mengampuni dosa hambanya, jika mereka bertaubat dan meminta pengampunan. Jadi, yakinlah dan teruslah berdoa kepala Allah, Insya Allah Baba akan mendapat pengampunan dan Baba akan menemukan ketenangan jiwa dan raga. Percayalah!"
"Sungguh Ustadz, saya benar-benar dengan penuh kesungguhan meminta ampun segala dosa saya. Saya sangat bahagia, karena dimantapkan hati saya untuk bersyahadat."
Ustadz tersenyum senang. Baba pun mulai menghapus air matanya. Dia kembali mengambil wudu. Untuk melanjutkan lagi belajar sholatnya.
BERSAMBUNG. . .
Hay hay Reader. . .
Semangat dan terus jaga kesehatan.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
Terimakasih semuanya. . .