Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Season 2 (Chap 8)


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu, sejak kepergian Gabriel ke Kalimantan. Tentunya kepergian Gabriel merubah suasana hati Rara. Dia yang biasanya paling ceria, suka jail dan bawel, mendadak menjadi pendiam. Rara yang paling tidak betah berdiam di kamarnya, kecuali untuk tidur malam, kini malah betah mengurung diri di kamar.


"Fazil, Rara kenapa?" Tanya Feisal menghampiri Fazil yang sedang asyik bermain game.


"Tau ah, tanya aja sendiri." Jawabnya malas.


"Loe jadi saudara jangan cuek cuek amat kali, Zil." Ketus Feisal yang beranjak menuju dapur.


Fazil hanya menoleh sebentar pada Feisal. Kemudian melanjutkan bermain game.


"Assalamu'alaikum." Seru Isma yang baru tiba di rumah.


"Wa'alaikumsalam, Bunda." Sahut Fazil dan Feisal berbarengan.


Isma melangkah masuk, dilihatnya Fazil sedang asik bermain game di komputer. Sementara Feisal baru saja dari dapur membawa segelas air putih.


"Bunda haus?" Tanya Feisal.


Isma mengangguk. Dia duduk di sofa belakang kursi tempat Fazil bermain game.


"Ini bunda minum dulu." Memberikan segelas air putih pada Isma.


Feisal pun ikut duduk di sebelah bundanya. Sementara Fazil mulai menghentikan gamenya.


"Kalian sudah makan?" Tanya Isma menatap bergantian wajah jagoannya itu.


"Aku sudah, Bunda. Fazil sama Rara belum." Tutur Feisal.


"Kenapa belum makan? Ini sudah jam 1 siang loh, nak." Ucap Isma khawatir.


"Iya Bunda, ini Fazil mau makan." Membalik kursinya supaya bisa menatap wajah bunda.


Isma pun tersenyum melihat kedua wajah putranya itu. Sebentar dia menepuk pelan pipi Fazil dan Feisal bergantian. Lalu, Isma melangkah menuju kamar Rara.

__ADS_1


Sementara Fazil melangkah menuju dapur untuk makan. Dan Feisal, melanjutkan bermain game yang tadi dimainkan Fazil.


"Kalau sampai kalah, gue bilangan rahasia loe ke bunda." Teriak Fazil dari dapur.


"Tenang aja, gue ahli main game ini kali." Serunya lantang, menyombongkan diri.


"Eeh, paling bentar lagi juga kalah." Rutuk Fazil mengejek.


Benar tebakan Fazil, saudara kembarnya itu benaran kalah. Kini dia memasang wajah khawatir. Takut Fazil benar benar akan mengatakan rahasianya pada bunda.


"Eh bro, kok diam? Kalah ya?" Goda Fazil.


Feisal melangkah menuju dapur, wajahnya memelas dan dia mulai mengiba pada Fazil.


"Loe kalah? Serius? Ampun dah, loe Fei. Game gue..." Rutuk Fazil sambil menggemu makanan dalam mulurnya.


"Sorry..." Ucap Feisal menyesal.


"Fei, gue udah level 50 Tau. Masak iya, gue harus ulang dari level 1 lagi..." Memeriksa gamenya yang saat ini bertuliskan 'game over'


"Loe kan bisa main permainan lain. Kenapa harus game gue..." Makinya kesal sambil mengutak atik keyboard komputernya.


"Sorry Zil. Gue gak sengaja." Berlutut dihapadan Fazil.


"Please, jangan aduin gue ke bunda." Memohon serius.


"Kalau loe bisa kembaliin ke level 50..."


"Bisa. Gue balikin ke level 50." Sahutnya semangat.


"Hari ini. Waktunya sampai pukul 10 malam." Tantangnya.


"Apa? Loe gila kali, Zil. Mampus dong gue. Lima hari deh, gue janji." Menawar.

__ADS_1


"No. Hari ini atau gue aduin bunda, loe udah mulai pacaran." Gertaknya mengancam.


"Zil, jangan. Please..." Memasang wajah memelas.


"Eh, eh... Feisal, kenapa berlutut gitu?" Tanya Isma yang baru saja keluar dari kamar Rara.


"Bunda!" Segera berdiri dan menghampiri bunda.


Fazil hanya menggelengkan kepala, kemudian kembali ke dapur melanjutkan makan siangnya. Sedangkan Feisal mulai mengarang cerita untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Fazil marah karena kamu membuat gamenya kalah?" Selidik Isma.


"Iya bunda. Tapi, Fazil bilang tidak apa apa. Dia bisa main lagi dari awal." Kilahnya.


"Aneh, tidak biasanya Fazil mudah memaafkan seperti itu." Ujar Isma bingung.


Ya, Fazil adalah tipe yang mudah memaafkan, tapi dengan syarat, orang yang membuat kesalahan harus langsung memperbaiki kesalahannya saat itu juga. Jadi wajar Isma merasa aneh saat Feisal mengatakan Fazil tidak marah atau memintanya memainkan gamenya sampai pada tempat saat dia bermain.


"Ya sudah, kalau begitu. Bunda mau pergi lagi. Kebetulan tante Rina menelpon, katanya bunda di suruh ke rumahnya sekarang." Pamitnya pada Feisal.


"Baik Bunda. Hati hati..." Melambaikan tangan kearah bunda.


"Insya Allah sayang." Berlalu menghilang dibalik pintu.


Feisal kembali ke depan komputer. Dia menatap sedih layar komputer itu, lalu mengusak rambutnya dan memberi sedikit jambakan.


"Fazil... Arrgghh... Hiksz..." Mulai duduk di kursi dan membuka game itu.


"Awas aja nanti. Ada saatnya loe juga akan jatuh cinta. Ingat saja, aku akan langsung melapor pada bunda." Rutuknya sambil memulai main game.


"Gue dengar...!" Seru Fazil dari dapur.


"Bodo." Teriaknya kesal. Dan kembali fokus pada game yang dimainkannya itu.

__ADS_1


__ADS_2