
"Wah Daebak. Aku melihat langsung loh wajahnya Keni. Benar benar diluar dugaan." Celoteh Rara saat tiba di rumah.
"Diluar dugaan bagaimana?" Tanya Feisal penasaran.
"Wajahnya sangat…"
"Rara, sini dulu, nak." Panggil Isma lembut, sengaja untuk menghentikan ucapannya.
"Iya, bunda. Bentar ya, Fei."
Feisal penasaran setengah mati dan mencoba menebak kelanjutan kalimat yang akan Rara ucapkan. "Sangat cantik, kali ya. Tapi, Rara bilang diluar dugaan. Kalau memang sangat canti, harusnya tidak usah ada kata diluar dugaan." Pikirnya.
Setelah berpikir keras dan Rara masih belum kembali, akhirnya Feisal memutuskan untuk menemui Fazil di kamarnya.
"Bro, lagi ngapain?" Tanya Feisal yang langsung berbaring ditempat tidur Fazil.
"Baru saja mau baca Qur'an." Jawab Fazil yang akhirnya duduk disebelah Feisal.
__ADS_1
"Bro, lo yakin mau nikah sama si Keni?" Tanya Feisal ragu ragu.
"Iyalah. Memangnya kenapa?" Fazil membuka ponselnya.
"Dari kesaksian Rara, sepertinya wajah Keni diluar dugaan, bro." Tuturnya.
"Gini Fei, aku sudah memikirkan semua itu sejak awal, bahkan jauh sebelum aku yakin untuk menikahi Keni. Dia jodoh Istikhorohku. Aku yakin itu. Jadi, nggak masalah mau wajahnya jelek, rusak sekalipin tidak apa. Yang penting dia adalah wanita sholehah." Jawab Fazil.
"Iya juga sih bro. Aku juga tidak menginginkan wanita yang cantik wajah tapi minus akhlak. Keni sangat beruntung mendapatkan pria seperti kamu."
"Aku yang beruntung bisa menjadikan dia bidadari surgaku. Dan kamu, juga akan menemukan segera bidadari surga itu." Fazil ikut berbaring di sebelah Feisal.
Satu bulan kemudian.
Hari yang sangat bahagia. Fazil dan Keni sudah melangsungkan akad nikah pagi tadi di kantor KUA. Dan sekarang saatnya resepsi dimulai.
Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan. Isma dan Prince menyambut kedatangan para sahabat dan kerabat juga teman teman dan karyawan perusahaan mereka. Sementara Rara dan Feisal menyambut teman teman mereka dan mempersilahkan duduk dan makan, juga untuk menikmati acara resepsi tersebut.
__ADS_1
Lalu, tibalah saatnya kedua mempelai datang untuk duduk dikursi pelaminan mereka. Fazil terlihat sangat tampan memakai stelan jas warna gold, dan Keni juga terlihat sangat cantik mengenakan gaun gold yang sangat indah seperti gaun putri disebuah kerajaan.
Acarapun terus berlangsung. Para tamu undangan yang akan segera pulangpun, bergantian memberikan selamat pada pengantin. Lalu berfoto bersama.
Skiippp…
Usai acara resepsi selesai, Keni langsung menuju kamar Fazil yang juga akan menjadi kamarnya. Dia diantar oleh Rara. Sementara Fazil masih mengobrol dengan beberapa teman, termasuk Azam, dan juga kak Gabriel bersama pasangannya.
"Selamat ya bro. Gue benar benar minta maaf sama loe. Karena dulu gue benar benar kekanak kanakan." Ucap Azam.
"Santai, Zam. Aku sudah bilang, selamanya kita sahabat." Lalu mereka saling berpelukan untuk sesaat.
"Gue pulang ya, bro. Selamat menikmati malam pertama." Goda Azam, lalu kemudian pamit pulang bersama papa dan mamanya.
Kini tinggal Gabriel. Dia langsung memeluk erat tubuh Fazil. "Zil, maafkan kakak. Karena tidak bisa menepati janji untuk membahagiakan Rara." Ucap Gabriel.
"Tidak apa, kak. Rara sudah sangat bahagia sekarang. Kakak kapan akan bahagia juga. Jangan terus terusan merasa bersalah. Kami semua sangat menyayangi kakak, selamanya. Kasih sayang ayah dan bunda juga tidak pernah berubah. Masih sama seperti dulu." Fazil menghibur Gabriel agar tidak terus terusan meresa bersalah pada mereka.
__ADS_1
"Terimakasih, Zil. Kalian benar benar orang yang luar biasa." Sekali lagi, Gabriel memeluk Fazil, lalu dia pun pamit untuk langsung kembali ke Kalimantan, setelah berpamitan pada Ayah, bunda, Feisal dan juga Rara.
Fazil menghela napas lega. Karena acanya telah benar benar selesai. Kini saatnya Fazil menemui Keni.