Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Flashback (2)


__ADS_3

Tiga tahun yang lalu.


Tiga hari sudah Prince menetap di Bogor sejak hari peresmian wonderland dan hotel. Dan kini Prince baru saja tiba di depan rumahnya.


Keyra berlari dari dalam rumah menyambut kedatangan suaminya.


"Mas… I miss you." Rengeknya manja sambil menerjang masuk dalam peluka Prince.


"Kenapa kamu memanggilku, Mas?" Tanya Prince.


Keyra cemberut sambil melepas pelukannya.


"Kamu nggak suka?"


"Lebih baik seperti biasa, Key. Jangan memaksakan sesuatu yang tidak mungkin." Ucapnya datar sambil melepas sepatu.


"Baiklah. Maafkan aku Prince. Aku terlalu berlebihan…"


Keyra pun melangkah menuju kamar. Dia meninggalkan Prince yang bahkan tidak peduli dengan perasaannya yang terluka.


"Apa aku menyakitinya? Tapi lebih baik aku jujur Key. Aku hanya tidak mau kamu menggantungkan harapan padaku. Hatiku sudah punya pemilik. Aku pastikan hanya dia satu-satunya yang akan selalu menjadi pemilik hatiku. Maafkan aku Keyra." Ucapnya pelan menatap langkah gontai Keyra.


Malam itu terasa sangat sunyi. Keyra diam-diam menangis dibawah selimutnya, sambil mengelus perutnya yang mulai sesekali merasakan tendangan dari dalam sana.


Sementara itu, Prince di ruang kerjanya. Dia bahkan belum masuk ke kamar hanya untuk sekedar menengok keadaan Keyra. Prince mandi di kamar mandi yang ada di lantai bawah. Dia juga menyantap makan malam sendiri di ruang kerjanya tanpa mengajak Keyra.


"Tuhan, aku tidak bermaksud untuk menyakiti Keyra. Hanya saja aku tak mampu untuk mencoba berpura-pura memberi perhatian padanya." Ucap Prince di sela kegiatannya menghafalkan bacaan sholat.


"Begitu indah makna doa ini, hatiku selalu tenang membaca bacaan doa dalam sholat. Tapi. . . Haruskah aku memeluk islam, sedangkan kakek seorang Postur ternama yang disegani?"

__ADS_1


Sejenak Prince menghela napas. Dia masih terus berperang dengan batinnya. Jujur awalnya dia ingin belajar islam hannya untuk Isma. Tapi, sekarang Isma telah pergi, dan ajaibnya, Prince ketagihan dalam melaksanakan sholat.


"Ya Allah. . . Jujur aku belum percaya bahwa kau satu-satu tuhan umat manusia. Sebab sejak kecil aku diberitahu, Tuhanku adalah putra Maryam. Tapi, mengapa hati ini tenang saat aku membenarkan Engkaulah Tuhan yang menciftakan segala sesuatunya." Rutuknya bermonolog.


Kepala menengadah menatap langit-langit ruangannya. Kemudin Ditatapnya wajah Isma melalui layar Iphone miliknya.


"Engkau ciptakan dia untuk membawaku mengenal-Mu. Lalu, saat aku sudah mengenal agama-Mu, engkau jauhkan dia dari pandanganku. Tapi, kau tinggalkan rasa cinta untuknya dalam hatiku. Apakah kami akan bertemu kembali?"


Air matanya menetes membasahi buku tuntunan sholat. Wajah Isma dalam foto di layar Iphone itu membuatnya merasakan sedih yang teramat sangat.


Prince bingung, apa yang sebenarnya membuatnya begitu berani melepaskan wanita yang sangat dicintainya itu. Padahal, Prince bisa dengan mudahnya menjadikan Isma miliknya. Terlebih Prince tahu, hati Isma juga hanya untuknya.


"Apakah ini yang kau maksud dengan mencintai karena Allah, Isma? Jika iya. . . Aku akan menyerahkanmu pada Tuhanmu, Allah. Aku janji akan menjemputmu lagi, saat aku sudah bisa mencintai Allah seperti kamu mencintai-Nya."


Dengan segenap rasa sedihnya, Prince mendekap erat Iphone yang menunjukkan foto Isma. Air matanya terus mengalir semakin deras. Namun, tiba-tiba terngiang ditelinganya, pesan Isma sebelum dia benar-benar pergi.


"Bos, saya harap bos akan memperlakukan Keyra dengan baik. Sebab meski bagaimanapun, dia tengah mengandung seorang bayi yang Allah titipkan melalui rahimnya."


Lalu, perlahan Prince menyelimuti tubuh itu. Dia ikut berbaring disebelahnya, dan memeluk tubuh Keyra dari belakang. Tangan Prince menyentuh bongkahan perut yang membesar itu, dan Prince merasakan ada yang menendang dari dalam sana.


Keyra terbangun merasakan pergerakan itu. Dia pun kaget mendapati Prince yang kini meletakkan telinganya tepat diatas perut buncit Keyra.


"Apakah kamu terbangun karena aku, atau karena bayi?" Tanya Prince santai tanpa merasa canggung ataupun malu.


"Ka…re..renaa, kalian." Jawabnya gugup tanpa berani bergerak.


Prince tersenyum. Senyum yang sangat manis dan terlihat tulus. Baru kali ini Isma melihat senyum Prince semanis dan setulus itu.


"Apakah dia… Boy or Girl?" Tanya Prince penasaran dengan telinganya yang masih menempel di perut Keyra.

__ADS_1


Keyra bahagia mendengar pertanyaan itu. Dia tersenyum dan perlahan memberanikan dirinya untuk mengelus kepala Prince yang berada di atas perutnya.


Prince tidak menolak, dia hanya memberikan senyuman pada Keyra. Oh, betapa bahagianya Keyra saat ini.


"Kamu maunya Boy or Girl?"


"Mmm. . . Maybe Girl… but I think Boy… ah apa aja yang penting sehat." Jawabnya.


Aduh istri mana coba yag gak akan terharu dengan jawaban suami semanis itu.


"Key, aku akan menjaga kamu dan bayi ini." Prince duduk, lalu membelai lembut rambut Keyra.


"Tapi… maafkan aku. Sepertinya aku hanya bisa menjaga kalian, sampai bayi ini lahir saja." Ucapnya jujur.


Prince tahu, Keyra tersakiti dengan perkataannya. Tapi setidaknya dia sudah berkata jujur. Terlebih, dulu Keyra mengajaknya menikah hanya untuk membantunya dari amukan orangtuanya yang tidak merestui hubungannya dengan pacarnya itu.


"Sekali lagi maafkan aku. Aku janji akan memperlakukan kalian dengan baik mulai sekarang."


"Tidak bisakah aku memiliki hatimu, Prince?" Ucap Keyra mengiba, dengan air mata yang sudah mulai menetes.


"Isma Ramadhani. Wanita solehah yang telah mengisi hatiku, Key. Aku tidak memintanya hadir, aku bahkan tidak menahannya saat dia memilih pergi. Dan, mungkin Tuhan menulis skenario lain antara hubunganku dengan Isma."


"Aku tahu. Kamu selalu menyebut namanya setiap malam." Isak Keyra sambil membalik tubuhnya, sehingga membelakangi Prince.


"Itu menyakitimu. Maafkan aku Key. Aku akan melepaskanmu dari rasa sakit ini. . ." Ucap Prince sambil mengecup puncak kepala Keyra.


"Tidurlah, lupakan masalah hati. Lukamu tak seberat kerinduanku pada Isma."


Prince memejamkan matanya, tidak lupa dia memeluk tubuh Keyra. Malam itu tidak ada yang tertidur. Mereka hanya memejamkan mata. Sementara hati dan pikiran mereka masih tetap terjaga memikirkan satu nama.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2