
Bandung.
Dengan ditemani Arya dan Fitri, Prince kini duduk berhadapan dengan abi dan umi. Sedangkan Isma disuruh Abi untuk tetap di kamarnya.
"Kamu dulu pernah datang ke sini, kan?" Tanya Abi memulai pembicaraan.
"Iya Abi. Saya dulu pernah datang." Jawabnya agak sedikit gugup.
"Apa tujuan kedatanganmu sekarang sama dengan waktu itu?" Tebak Abi.
Sebentar Prince mengatur napas dan memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Iya, Abi. Kedatangan kali ini masih dengan tujuan yang sama. . . Hanya saja, saat itu saya seorang non muslim..."
"Sekarang apa keyakinanmu?" Sela Abi.
"Saya Mualaf, abi."
"Sudah berapa lama?" Sambung Umi yang mulai penasaran.
"Tiga tahun terakhir, Umi."
"Apakah keluargamu menyetujui keputusanmu?" Tanya Umi lagi.
Prince kembali mengatur napasnya. Kali ini Prince mulai khawatir, takut jawaban yang akan di katakannya membuat umi dan abi kembali mengusirnya seperti waktu itu.
"Awalnya mereka tidak menyetujui. Tapi, seiring waktu. . . Sekarang mereka mulai sedikit-sedikit menerimaβ¦" Jelasnya gugup.
Sejenak suasana menjadi sunyi. Fitri dan Arya pun hanya saling menatap. Mereka juga khawatir, terlebih abi tidak memberikan respon apa-apa.
"Apa kalian berdua menyetujui Isma menikah dengan pria ini?" Tanya umi pada Fitri dan Arya.
Keduanya pun mengangguk semangat.
"Iya, abi. Kita setuju. . ." Jawab Fitri semangat.
"Atas dasar apa kalian setuju?" Timpal Abi.
Sebentar keduanya saling bertatapan.
"Menurut Fitri, Prince pria yang bertanggung jawab abi. Fitri yakin dia akan menjaga Isma dengan baik." Jelas Fitri.
"Kamu yakin akan tetap istiqomah pada islam, meski suatu saat Isma meninggalkanmu?" Tanya abi pada Prince.
"Insya Allah, abi." Tegasnya.
"Apa kamu siap menikahi Isma hari ini juga?" Tanya abi.
Fitri dan Arya membelalakkan mata, mereka kaget mendengar tantangan dari abi yang terdengar sangat serius.
"Siap, abi." Jawab Prince yakin.
"Baiklah. Malam ini, ba'da isa saya nikahkan kamu dengan Isma."
"Abi, apa tidak terlalu buru-buru? Bagaimana dengan semua surat menyuratnya. Apa abi mau Isma menikah siri dengan Prince?" Protes Arya.
__ADS_1
"Kalian bisa mengurus suratnya hari ini. Sekarang baru pukul 10,25. . . Jadi masih ada waktu sekitar 7 jam lebih." Jawab abi santai.
"Baik abi, saya akan mengurus semuanya." Sambung Prince.
Tidak ada kata tidak dalam kamus Prince. Dia akan berjuang demi menghalalkan pujaan hatinya yang telah ditunggunya selama ini.
Arya daa Fitri hanya bisa ikut mengangguk untuk membantu Prince menyelesaikan tantangan dari abi.
"Kalau begitu, saya pamit, abi. Mohon doanya." Ucap Prince sambil menyalami abi dan tersenyum pada Umi.
Arya pun ikut pamit bersama Prince. Sedangkan Fitri melangkah menuju kamar Isma untuk meminta semua data diri Isma, termasuk Ijazah, KTP dan surat lainnya yang menjadi syarat untuk mendaptarkan pernikahan ke Kantor Urusan Agama (KUA).
"Kenapa buru-buru Teteh?" Tanya Isma heran.
"Abi mau kalian menikah nanti malam ba'da isa." Tutur Fitri sambil membantu Isma menyiapkan segala berkas surat yang dibutuhkannya.
"Malam ini?" Ulang Isma.
Fitri mengangguk. Sejenak dia menatap mata Isma yang mulai berkaca-kaca.
"Secepat ini, Teh?" Ulangnya masih tak percaya.
"Kalian sudah terlalu lama menunggu untuk ini, dek. Ini adalah buah dari kesabaran kalian yang menyerahkan segala urusan hati pada Allah." Ucap Fitri sambil menyapu air mata yang sudah menetes di pipi Isma.
"Alhamdulillah ya Allah. . ." Ucap Isma dengan tangisnya yang semakin menjadi.
Sebentar dia bersujud syukur, mengungkapkan rasa bahagia yang kini memenuhi relung hatinya.
"Teteh pergi dulu. Titip Arsyid, kalau terlalu rewel hubungi, Teteh." Pintanya.
Isma menatap kepergian Fitri dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
"Ya Allah, mudahkan urusan kami hari ini. Aamiin." Doanya penuh harap.
Prince melajukan mobilnya dengan tenang menuju Kantor Urusan Agama (KUA).
"Prince, teteh harap kamu akan selalu menjaga Isma. Jangan membuatnya bersedih." Ucap Fitri dari kursi belakang.
"Insya Allah, Teh." Jawabnya singkat tapi tegas.
"Ingat Prince. Selagi aku masih hidup, jangan pernah kamu melukai Isma. Jika sampai itu terjadi, aku tida akan segan untuk memisahkan kalian." Tegas Arya memperingatkan.
"Saya sangat mencintai Isma, Mas. Sedikitpun saya tidak ingin menyakitinya. Kecuali semua sudah menjadi takdir yang tertulis di lauhul mahfudz."
Prince menjawab dengan tenang dan yakin akan keputusannya untuk menjadikan Isma halal untuknya dan membahagiakannya.
Mendengar jawaban kesungguhan Prince memanglah tidak bisa membuat Arya dan Fitri percaya seutuhnya. Akan tetapi, setidaknya mereka merasa tenang untuk melepas Isma.
Rasanya Prince pria yang tepat untuk Isma.
'Semoga Allah memberi keberkahan pada kalian, dek.' Batin Fitri.
Sementara mereka menuju Kantor. Di rumah, Isma menghubungi Rina.
Isma π"Rin, aku akan menikah malam ini, ba'da isa."
__ADS_1
Rina π"Menikah? Dengan siapa? Kenapa terburu-buru?"
Isma π"Apa Bimo tidak bercerita tentang aku?"
Rina π"Maafkan aku, Is. Aku marah-marah hari itu."
Isma π"Lupakan. Aku juga minta maaf, tidak bercerita."
π"Aku hanya tidak tau harus mulai dari mana, Rin."
Rina π"Aku paham, sayang. Maafkan aku."
π"Jadi akhirnya kalian akan menikah malam ini?"
Isma π"Iya. Aku harap kalian bisa datang."
Rina π"Aku pasti datang. Sesibuk apapun itu."
π"Karena aku bukan kamu, Isma sayang. . ."
Keduanya tertawa dengan kalimat terakhir Rina yang menyindir ketidak hadiran Isma di hari bahagianya.
Rina π"Kamu tidak hadir dipernikahanku untuk menghindari
π bertemu Prince. Dan sekarang kalian akan menikah."
Sindir Rina menggoda Isma. Lalu keduanya kembali tertawa berasama. Kesalah pahaman diantara merekapun telah terselesikan dengan baik.
Sementara, didetik-detik menanti kebahagian Isma dan Prince. Di sebuah rumah mewah di Jakarta, sedang terjadi perdebatan kecil antar keluarga.
"Pokonya aku tidak akan pernah merestui Prince menikahi perempuan kampungan itu." Teriak wanita yang di panggil Prince dengan sebutan Mama.
"Mama pikir Papa setuju? Sejak Prince memutuskan pindah agama saja Papa sudah tidak setuju." Sambung suaminya.
"Kita harus menggagalkan pernikahan mereka malam ini, Pa. Bagaimanapun caranya." Tekadnya sudah bulat.
"Apa, om dan tante butuh bantuanku?" Saran seorang wanita berambut panjang, bertubuh tinggi dan sexi.
Dia adalah Amanda. Ia sengaja datang bertamu, untuk kembali merundingkan pertunangannya yang sempat kandas tiga tahun lalu.
"Apa kamu mau, sayang?" Tanya Mama.
"Mau banget tanten. Tapi dengan syarat. . ." Ucap Amanda.
Dia melangkah mendekat kearah kedua orangtua Prince.
"Syarat apa?" Tanya Papa tak sabar ingin tahu.
"Jadikan aku menantu kalian. Itung-itung meneruskan rencana pernikahanku dengan Prince yang terjeda karena Keyra." Jelasnya.
Sebentar pasangan suami istri itu saling bertatapan. Jauh di lubuk hati mereka, sebenarnya mereka sangat tidak menginginkan Amanda menjadi menantu mereka. Tapi, dari pada perempuan kampung itu, Amandalah pilihan terbaiknya.
"Om dan tante setuju. . ." Jawab mereka serentak.
'Satu langkah lagi, aku akan menguasai segalanya.' Batin Amanda.
__ADS_1
Bersambung. . .