Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Tinggalkan Isma!


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Prince langsung meluncur menuju Bandung. Tekadnya sudah bulat. Dia benar- benar menginginkan Isma menjadi pendamping hidupnya. Dikesampingkannya perasaan Mama dan Papa nya yang seakan tidak menyukai pilihannya.


Papa dan Mamanya memang tidak mengatakan apa-apa sejak pengakuan Prince tentang hatinya yang berlabuh pada seorang gadis Muslim. Prince bahkan mengesampingkan tanggapan buruk yang akan diterimanya dari keluarga Isma.


"Tuhan, hati ini tidak meminta untuk mencintai gadis muslim. Tapi mungkin engkau yang mengarahkan hati kami untuk saling mencintai. Jadi, please. . . Jangan biarkan takdirmu menghancurkan hati kami." Ucap Prince.


Dia berdoa pada Tuhannya dan Tuhan Isma sekaligus. Prince bukan lah Pria yang taat agama. Namun, dia sering berdoa dan berdialog dengan kakeknya yang merupakan seorang Pastur.


Kembali kejalanan yang mulai lengang. Prince sudah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Prince sudah tiba di kota Bandung, tapi dia masih harus menyetir selama tiga puluh menitan untuk tiba di kampung Isma.


Dan kini Prince sudah tiba di gerbang kampung yang di tuju. Prince terus mengendara menempuh jalan kecil itu, dia mengikuti google map menuju titik pusat rumah Isma.


"Anda telah sampai pada tujuan." Suara pembicara google map memberitahukan.


Prince memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dekat sebuah rumah bercat hijau. Rumah sederhana namun tampak mewah dan indah.


Meski ragu Prince melangkah memasuki perkarangan rumah. Suasanya sangat sepi. Pintu rumah tertutup rapat, tapi lampu di teras masih menyala terang.


Dengan ragu, Prince akhirnya mengetuk pintu.


"Permisi…" Mengetuk sekali lagi daun pintu.


"Permisi..." Ulang Prince sekali lagi. Dan saat hendak mengetuk lagi, pintu itu terbuka.


Seorang wanita paruh baya membuka pintu. Dia menatap Prince dari ujung kaki hingga ujung rambut. Hal itu membuat Prince sedikit gugup.


"Siapa umi?" Tanya suaminya dari dalam.


"Tidak tau, Bah." Teriak Umi sambil terus menatap Prince yang masih berdiri dengan senyum grogi terlihat jelas di bibirnya.


"Kamu siapa? Ada urusan apa?" Tanya Umi.


"Saya Prince, tante. Saya temannya Isma dari Jakarta." Jawab Prince masih dengan perasaan yang gugup.


Sebentar Umi menoleh kearah Abah yang melangkah nendekati mereka.


"Teman Isma dari Jakarta katanya, Bah."

__ADS_1


Abah melihat Prince. Ditatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Penampilan Prince sangat rapi, karena dia masih memakai seragam kantor. Hanya saja jas hitamnya sudah di lepas. Yang tersisa kemeja putih dan dasi yang terikat rapi.


"Ya sudah, masuk dulu. Jauh kan perjalanan dari Jakarta ke sini." Sambut Abah.


Abah merangkul bahu Prince membawanya melangkah masuk ke dalam rumah. Sedangkan Umi sudah lebih dulu melangkah masuk untuk menyiapkan minuman untuk tamu mereka.


"Silahkan duduk, nak…"


"Prince, Om." Menyebut namanya.


Abah mengangguk paham. Lalu keduanya duduk berhadapan. Sejenak suasana jadi beku. Tidak ada yang ingin memulai percakapan. Abah terus memperhatikan Prince, dan Prince mulai merasa risih karena terus di tatap oleh Abah.


"Minum dulu, nak Prince." Umi datang membawa dua gelas teh hangat.


Kedatangan Umi membuat suasana beku menjadi sedikit mencair. Mereka pun meminum teh hangat tersebut.


"Ada keperluan apa nak Prince, jauh-jauh datang kemari. Malam-malam lagi?" Tanya Umi.


Sebentar Prince menarik napas. "Sebelumnya maaf saya mengganggu istirahat Om dan Tante… Sebenarnya ada suatu hal baik yang ingin saya sampaikan."


Dengan ragu dan gugup Prince mencoba memberanikan diri mengungkapkan maksud kedatangannya.


"Saya… ingin melamar…"


"Isma sudah di lamar." Sambung Abah sebelum Prince menyelesaikan ucapannya.


Mendengar itu, Prince seakan disiramkan air ke wajahnya. Sedangkan Abah dan Umi berbisik sebentar.


"Bah, mungkin dia seorang non Muslim. Buktinya dia tidak mengucapkan salam saat baru datang." Bisik umi.


"Abah tau. Abah melihat tanda salib di mobilnya." Bisik Abah kemudian.


Prince mendengar pembicaraan mereka. Raut wajah Prince semakin merah padam. 'Sudah pasti aku ditolak.' Batinnya.


"Apa nak Prince seorang…"


"Saya non Muslim." Sahut Prince cepat tanggap dengan pertanyaan Abah yang bahkan belum selesai diucapkannya.

__ADS_1


Mendengar hal itu Abah dan Umi saling bertatapan. Mereka terdiam tak berkutik. Sedangkan Prince memberanikan diri menatap keduanya.


"Pulanglah... Isma sudah dilamar oleh seorang lelaki sholeh dan seagama. Lagi pula Isma tidak akan menerima kamu." Tegas Abah.


"Apa Isma menyukai lelaki sholeh itu?"


"Tentu. Isma sangat menyukai lelaki sholeh."


"Tapi, saya rasa Isma menyukai saya."


Ucapan itu membuat Abah kalap. Mata Abah menatap Prince tajam. Abah bahkan memalingkan wajahnya dengan kasar yang memiliki arti ketidak sukaan Abah pada Prince.


"Saya akan mempelajari Islam. Hanya saja izinkan saya melamar Isma." Pinta Prince.


"Tidak akan. Kalian hanya sekelompok manusia yang suka memfitnah kaum kami." Teriak Abah lantang.


"Tidak semua, Om. Dan saya akan tetap mendapatkan Isma bagaimanapun caranya." Tegas Prince yang tak kalah lantangnya.


"Kurang ajar..." Teriak Abah sambil melangkah mendekat.


Pprraakkk…


Sebuah tamparan mendarat di pipi Prince.


"Ingat ini selamanya. Saya tidak sudi anak saya menikah dengan pria non muslim. Lebih baik anak saya menikah dengan preman yang muslim atau tidak menikah sama sekali." Tegas Abah penuh Emosi.


Abah masih terbawa emosi trauma dari kejadian bertahun-tahun yang lalu. Umi terduduk diam di kursi menyaksikan pertikaian singkat Abah dan Prince.


"Kenapa Om sebegitu bencinya dengan orang yang berbeda agama? Bukankah kami juga manusia yang berhak mencintai? Bukankah Islam mengajarkan untuk saling menghormati dan jangan saling mengganggu atau merendahkan?"


"Itu karena kalian menyebabkan saya kehilangan orang-orang yang saya sayangi. Mereka menghukumnya dan menyiksanya. Kalian tidak punya hati." Abah hendak menampar Prince lagi, tapi Umi dengan cepat meraih tangan Abah.


"Pergilah, nak. Jangan pernah kembali. Kalau kamu mencintai Isma, maka jangan pernah mengganggunya. Biarkan dia melupakan kamu. Dan lupakanlah Isma." Pesan Umi dengan nada yang ditegaskan.


Umi menahan air matanya saat mengatakan itu. Seakan Umi tahu Prince dan Isma saling mencintai.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2