
Usai subuh, Umi kembali berbaring. Tidak seperti biasanya yang langsung memasak ke dapur. Umi merasakan pusing dikepalanya teramat sangat.
Sehingga semua pekerjaan memasak diambil alih Fitri. Sedangkan Arsyid, dia bermain bersama kakeknya.
"Sayang, Umi mana?" Tanya Arya menghampiri Fitri.
"Umi masih di kamar, Mas. Tadi katanya kepala Umi pusing. Coba Mas periksa, atau tanyakan pada Umi. Mungkin Umi butuh sesuatu."
"Baiklah."
Arya melangkah menuju kamar Umi. Dilihatnya Umi tertidur pulas. Perlahan Arya mendekati Umi, lalu memeriksa suhu tubuh Umi melalui keningnya.
"Panas. . . Apa mungkin Umi demam?"
Arya pun langsung memeriksa ulang kening Umi. Benar, suhu tubuh Umi panas. Sepertinya Umi terserang demam.
"Umi. . . Apa Umi gak enak badan?"
Dengan sangat perlahan Arya mencoba membangunkan Umi.
"Arya? Maaf Umi ketiduran." Sahut Umi yang langsung duduk.
"Umi sakit? Gak enak badan?" Tanya Arya khawatir.
"Entahlah. Hanya, kepala Umi terasa sangat pusing." Ucap Umi.
"Kita kedokter ya, Mi."
"Tidak usah, nanti Umi juga akan baikan sendiri."
"Gak, pokoknya kita ke rumah sakit sekarang." Menggendong tubuh Umi.
"Allah. . . Ya Allah. Kamu mau bawa Umi kemana? Turunin. Umi masih kuat jalan sendiri."
Arya tidak memperdulikan oceha Umi. Dia terus menngendong Umi keluar dari kamar.
"Abi, Ne-nnek kenapa?" Tanya Arsyid dengan gaya pengucapan bahasa bayi.
"Nenek sakit sayang. Abi mau bawa Nenek berobat." Sahut Arya sambil terus melangkah.
Fitri yang mendengar langsung berlari mengejar langkah suaminya yang membawa Umi. Arsyid juga ikut melangkah mengikuti Abinya.
Sedangkan Abi, dia hanya duduk diam di sofa depan Tv. Ada segurat kekhawatiran terlihat dimatanya yang sedikit gemetar. Tapi, lagi-lagi ego nya menahan dirinya untuk melihat istrinya.
"Umi demam?" Tanya Fitri.
"Iya, sayang. Badan Umi panas." Jawab Arya.
Lalu dia memberi isyarat agar Fitri membukakan pintu mobil kursi belakang. Begitu di buka, Arya langsung membaringkan tubuh Umi disana.
"Abi, aku ikut. . ." Rengek Arsyid.
Kedua tangannya terangkat keatas meminta di gendong.
"Baiklah, jagoan Abi boleh ikut. Tapi, duduk dibelakang. Temani Nenek, ya?"
"Iya. . ."
Arya mendudukkan Arsyid di samping Umi. Dan Umi menggenggam pelan jari mungil cucunya itu.
"Mas aku juga mau ikut?"
"Loh, Abi bagaimana? Ditinggal sendiri?" Tanya Arya.
"Oh iya. Aku lupa Mas."
"Ya sudah. Kami di rumah aja, temani Abi. Kalau ada apa-apa langsung saja telepon."
"Baik, Mas. Hati-hati mengemudinya."
"Iya, sayang." Mencium kening Fitri.
__ADS_1
Lalu Arya masuk ke mobil. Tidak lupa dia memperingatkan agar Arsyid duduk diam di samping Neneknya.
"Arsyid jangan nakal, ya. Jagain Nenek!" Seru Arya.
"Iya, Abi."
Arsyid memegang tangan Neneknya. Lalu mendapat elusan lembut dari Nenek.
"Terimakasih sayangnya Nenek." Ucap Umi pelan tanpa membuka matanya.
Mobil pun berangkat. Fitri memperhatikan mobil hingga hilang dari pandangannya. Kemudian, Fitri kembali ke dalam.
Langkahnya terhenti saat melihat Abi berdiri di depan pintu. Matanya terlihat sendu menatap ke jalanan.
"Abi, baik-baik saja? Atau mungkin Abi butuh sesuatu?"
Fitri menghampiri Abi segera.
"Tidak. Abi baik-saja, kok."
"Apa. . . Mungkin Abi khawatir dengan keadaan Umi?" Tanya Fitri sangat pelan dan ragu-ragu.
Sejenak Abi diam. Lalu dia melangkah kembali masuk ke rumah. Fitri juga ikut masuk dan langsung menuju dapur.
"Apa Umi sakit?" Tanya Abi menghampiri Fitri di dapur.
Sebentar Fitri diam. Dia merasa sangat senang karena akhirnya Abi peduli dan khawatir dengan keadaan Umi.
"Iya, Abi. Umi demam sepertinya. Katanya kepalanya pusing."
"Apa Umi kurang tidur? Biasanya kalau kurang tidur, Umi akan demam dan pusing kepala."
"Begitukah? Tapi, memang akhir-akhir ini Umi gak bisa tidur katanya." Jelas Fitri.
"Kamu tahu kenapa Umi gak bisa tidur?"
Fitri terdiam. Dia menghentikan aktivitas memasaknya. Lalu ikut duduk di kursi meja makan.
"Abi benaran mau tahu?"
Fitri menggeleng keras. Dia bertanya karena ingin lebih yakin saja, agar nanti saat bercerita Abi akan baik-baik saja dan bisa menahan emosinya.
"Umi selalu memikirkan kesehatan Abi."
"Abi sudah semakin membaik. Abi rasa tidak perlu terlalu khawatir lagi, kan?" Sela Abi.
"Umi juga sangat merindukan Abi."
Kali ini Abi yang diam. Ya, sudah lama sekali mereka tak bercengkerama. Meski tinggal seatap, tapi mereka seperti dua orang asing yang tidak mengenal satu sama lain.
"Ya salahnya. Kenapa dia begitu keras kepala. Umi tidak pernah berusaha untuk menemui Abi. . . Umi juga tidak berusaha untuk meminta maaf, ataupun menegur Abi."
Fitri tersenyum geli dan lucu mendengar pengakuan Abi. Kelakuan mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar dan berharap salah satu dari mereka meminta maaf terlebih dahulu.
Apa yang diungkapkan Abi, kurang lebih sama dengan apa yang disampaikan Umi pada Fitri beberapa hari yang lalu. Pantaslah mereka berjodoh, inilah penyebabnya. Keduanya sama-sama keras kepala dan gengsian.
"Abi juga, tidak pernah mau bertanya dan minta maaf sama Umi." Ucap Fitri.
"Lah kenapa Abi yang harus minta maaf?"
"Ya memang Abi yang salah, kok!" Seru Fitri.
"Kok salah Abi? Memang apa kesalahan Abi?"
"Memisahkan dia dengan anaknya."
Fitri bangkit dari duduknya. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Abi terdiam mendengar jawaban Fitri.
"Abi tidak memisahkan mereka. Tapi anaknya yang lebih memilih orang asing dibanding orangtuanya." Ujar Abi pelan.
Mata Fitri membola. Ada perasaan kesal dalam hati Fitri mendengarkan ucapan Abi.
__ADS_1
"Apa Abi siap berpisah dengan Umi?" Tanya Fitri tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Abi salah tingkah.
"Ap maksudmu?"
"Andai aku yang di posisi Isma. Aku akan melakukan hal yang sama. Karena surgaku di bawah telepak kaki suami saat aku telah menikah. Itu juga yang saat ini Umi lakukan. Andai Umi ikutkan egoisnya, mungkin dia akan meninggalkan Abi. Dan Umi akan lebih memilih ikut anaknya." Tutur Fitri.
Abi hanya diam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Banyak hal yang membuatnya merasa serba salah.
"Kecuali, suami ku seorang penyiksa. Maka aku akan dengan senang hati meninggalkannya. Tapi, karena suamiku Mas Arya, aku sanggup terpisah dari kedua orangtuaku, demi mendapatkan Ridho Tuhanku yang dititipkan melalui Ridho dari suamiku." Jelas Fitri.
Dia mengatakan itu sambil mencuci piring. Sedangkan Abi, matanya mulai berkaca-kaca. Ada perasaan aneh dalam hatinya.
"Harusnya Abi bangga, karena Abi berhasil mendidik seorang anak perempuan. Dia tumbuh menjadi wanita yang ta'at akan agamanya, patuh pada orangtuanya dan menjadi istri sholehah untuk suaminya."
"Cukup Fitri." Lirih Abi.
"Abi yang cukup. Hentikan semua ini Abi." Teriak Fitri.
Emosinya meluap. Dia sudah tidak tahan dengan semua drama ini.
"Abi harus lebih kuat dan berusaha untuk menyembuhkan dan maafkan semua rasa sakit dan dendam yang ada di hati Abi."
"Fitri. . . Kamu berani membentakku?" Tanya Abi.
"Maaf Abi. Tapi, sabarku sudah habis. Aku sudah tidak tahan melihat semua ini." Menghentikan pekerjaannya.
"Allah saja maha pengampun. . . Lalu, apalah kita yang hanya manusia biasa yang bergelimang dengan dosa. Sudahlah Bi, hentikan dendam itu. Yakinlah, Kakek, Nenek dan keluarga lainnya. Mereka pasti Allah tempatkan di tempat terbaik. Karena mereka mati demi mempertahankan agama Allah." Ucap Fitri lebih tenang, tapi tetap terdengar tegas.
"Abi. . . Sesungguhnya Abi termasuk orang yang beruntung. Berkat pengorbanan kedua orangtua Abi, berkat didikan Abi. . . Isma berhasil menarik dua manusia untuk bersyahadat kepada Allah. Apakah ada yang lebih indah dari pada ini. . .?"
Fitri mengatakan itu sambil terisak. Ya, dia baru mendapat kabar dari Rina, kalau dua hari yang lalu, Isma dan Prince membantu Kakeknya untuk bersyahadat. Itu artinya lelaki tua yang dibenci Abi, telah datang pada Allah.
Kini lelaki tua itu telah diampuni dan disambut penuh suka cita oleh para Malaikat dan seluruh umat Islam. Tapi, Abi masih disini. Masih terkurung di masa lalunya itu.
"Allah memberi hidayah pada kakek Yudha, Abi. Dia telah bersyahadat dengan khusuk dan penuh linangan air mata. Harusnya sebagai sesama muslim, kita menyambutnya bukan malah membencinya."
Air mata Fitri terus menetes. Dia merasa terharu dengan keindahan yang Allah titipkan di sekitar mereka.
"Allah. . . Ya Allah. . . ampuni hamba." Ucap Abi.
Air matanya ikut menetes. Abi jatuh terduduk di lantai. Perlahan dia bersujud sambil menangis.
Fitri menghampiri Abi. Dielusnya pelan punggung Abi. Air mata Fitri dan Abi bersahutan saat ini. Keduanya menangis.
Abi menangis, mengingat bagaimana pengorbanan kedua oragtuanya untuk Agama. Dia juga menangis menyesali segala kekerasan hatinya yang terus-menerus menyimpan dendam. Penyesalan memang datang terlambat.
Tapi, Abi masih belum terlambat untuk menperbaiki semuanya. Dia bangkit dari sujudnya.
"Bawa Abi menemui Umi. Bawa Abi ke rumah sakit, sekarang." Ajak Abi memohon pada Fitri.
Fitri tersenyum dalam tangisnya. Perlahan jemarinya mebghapus air mata dipipi Abi.
"Terimakasih Abi. . . terimakasih. . ." Ucap Fitri.
Dia menangis terharu, sambil mencium punggung tangan Abi. Betapa lega rasa hatinya mendapati Abi yang akhirnya Allah lembutkan hatinya.
BERSAMBUNG. . .
Hay hay Reader. . .
Semangat dan terus jaga kesehatan.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
Terimakasih semuanya. . .