
Lima hari kemudian. . .
Keyra sibuk menyiapkan sarapan untuk Prince. Dia meminta bantuan Jeje, asisten rumah tangga yang baru bekerja selama lima hari terakhir.
"Je, kamu potong wortelnya aja."
"Baik, Nya."
Jeje pun mengerjakan apa yang diperintahkan majikannya. Sementara si majikan sejak tadi memotong bawang satu biji hingga saat ini belum selesai. Matanya mulai berair akibat metong bawang.
"Biar saya saja yang potong bawangnya, Nyonya." Pinta Jeje.
"Tidak usah. Biar saya saja. Mungkin saya ngidam motong bawang. Karena sejak tadi tangan saya teringin sangat memotong bawang merah ini." Jelasnya sambil meram melek menahan rasa perih di matanya.
Jeje pun mengangguk dan kembali melanjutkan memotong wortel.
Diam-diam Prince mengintip dari balik tembok pembatas dapur dan ruang keluarga. Kemudian perlahan dia menghampiri Keyra. Entah mengapa Prince merasa ingin memeluk tubuh Keyra pagi itu.
"Prince?" Ucap Keyra kaget saat merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya dan mengelus lembut perutnya.
"Kamu gak usah repot masak. Biarkan Jeje saja yang memasak." Ujar Prince sambil mengendus puncak kepala Keyra.
"Gak boleh. Aku mau masak untuk kamu. Ini masakan pertama aku dan akan sangat special buat kamu." Terus memotong bawang.
"Baiklah, kalau begitu. Aku mau jongging dulu."
"Jongging?" Membalikkan tubuhnya.
Kini keduanya saling berhadapan dan tak ada jarak. Sekali lagi Prince dapat merasakan tonjolan besar perut Keyra.
"Sudah berapa usia kandunganmu?" Tanya Prince tiba-tiba yang membuat Keyra tersenyum bahagia.
"Lima bulan…" Jawabnya sambil mengelus perutnya.
"Apa dia sudah berbentuk??"
Sepertinya Prince sangat penasaran. Dia kini bahkan mendekatkan telinganya pada perut Keyra. Dan Keyra semakin bahagia. Sedangkan Jeje hanya senyum-senyum melihat kemesraan majikannya itu.
"Kamu sudah bisa bicara dengannya. Coba kamu panggil."
Sebentar Prince terdiam, lalu dengan lembut dia menyentuh perut Keyra dengan tangan kanannya.
"Hy baby. Apa kabar?" Sapanya dengan sapaan yang terdengar sangat kaku.
Keyra dan Jeje tertawa mendengar Prince menyapa baby dalam perut Keyra dengan sapaan yang kaku itu. Dan Prince pun tersenyum malu dengan perlahan menjauh dari Keyra.
__ADS_1
"Dia lucu kalau lagi malu gitu. . ."
"Iya Nya. Tuan terlihat lucu dan juga antusias ingin tahu tentang bayi nya." Sambung Jeje.
Sebentar mereka tertawa lagi. Kemudian mereka melanjutkan memasak.
Sedangkan Prince kembali ke lantai atas. Dia pergi ke ruang kerjanya. Dia membatalkan niatnya untuk pergi jonging.
"Haruskah aku terus beracting seperti ini?" Mengusak kepalanya sehingga membuat rambutnya berantakan.
"Oh Isma. . . aku rasa. . . Aku sudah g**a karnamu." Ucapnya lesu.
Prince mengamuk di ruangan itu. Untung saja ruangan itu kedap suara.
Sementara itu, Isma baru saja tiba di Jakarta. Kakinya baru saja menginjak teras rumah Arya, HP nya berbunyi. Rupanya ada telepon dari Arya yang mengatakan bahwa mereka sekarang sedang di rumah sakit.
"Baik, Mas. Aku nyusul ke sana." Ucap Isma khawatir.
Isma kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit Ibu dan Anak, di mana Fitri tengah berjuang melawan rasa sakit untuk segera melahirkan buah hatinya.
Sepanjang perjalanan Isma bersholawat dan melantunkan doa agar kakak nya dapat melahirkan dengan lancar dan selamat.
Dan kini Isma telah tiba di rumah sakit. Dia melangkah dengan langkah setengah berlari menuju ruang tempat Fitri melahirkan.
"Mas, bagaimana keadaan Teteh?" Tanya Isma khawatir.
"Aku hubungi Abi sama Umi dulu ya, mas."
"Tidak usah dek. Mas sudah menelpon mereka sebelum menelpon adek, kok."
"Baiklah." Ucap Isma lega.
Keduanya mondar-mandir di depan ruag operasi. Sudah hampir dua jam belum juga ada tanda-tanda apakah Fitri melahirkan normal ataukah harus operasi sesar.
"Ya Allah, selamatkan istri dan anak hamba."
Akhirnya, setelah berjuang hampir lima jam lamanya, tepat setelah adzan zduhur berkumandang, Fitri berhasil melahirkan Putra pertama mereka dengan normal.
"Alhamdulillah, selamat buk Fitri. Anda melahirkan bayi laki-laki yang sehat." Ucap Dokter itu sambil memperlihatkan bayi mungil yang masih berlumur darah segar itu ke hadapan Fitri yang sudah sangat lemah dan hampir saja kehilangan kesadaran.
"Eeeyaakkk huueewwww. . ." Suara tangisan pertama bayinya membuat Fitri tersenyum dan kembali kuat.
Suster segera membawa bayi itu untuk di bersihkan.
Arya, Isma, umi dan abi tersenyum lega mendengar suara tangisan bayi dari ruang operasi.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah." Ucap Arya penuh syukur.
Arya mendapat dekapan erat dari abi dan umi. Mereka bahagia, kini cucu pertama keluarga itu telah lahir dengan selamat.
"Mas Arya, selamat putra anda telah lahir dengan selamat. Beratnya 4,2 kg. Meski lahir sebelum waktunya, bayinya sangat sehat." Ucap Dokter bidan yang membantu persalinan istrinya.
"Terimakasih Dokter. Boleh saya menemui Istri saya?"
"Silahkan mas Arya."
Arya pun langsung masuk ke ruangan dimana Fitri masih terbaring lemas. Beberapa Suster tengah membersihkan darah pada Fitri dan juga membedong bayi mereka.
"Silahkan di azankan, pak." Seorang suster mendekatkan tubuh bayi itu pada Arya.
Arya pun langsung melantunkan suara adzan di telinga kanan bayinya. Air matanya mengalir begitu saja saat mata dan bibir bayi mungil itu bergerak seakan merespon dengan baik lantunan adzan yang di ucapkannya.
"Selamat datang sayang. Semoga kelak menjadi anak yang sholeh. Aamiin." Arya memberikan kecupan dengan ragu di kening mungil itu.
"Bayinya akan saya antarkan ke ruangan khusus. Apakah bapak sudah menyiapkan namanya?"
"Muhammad Arsyid." Ucap Arya.
Suster itu menuliskan nama itu di kertas untuk tanda pengenal bayi Mungil nan tampan itu.
Tidak lupa Arya menghampiri Fitri yang sudah selesai dibersihkan. Kini Fitri sudah di pindahkan ke troli lain untuk di bawa ke ruangannya.
"Terimakasih sayang." Arya mengecup penuh kasih kening Fitri. Dia juga menggenggam erat tangan Fitri yang masih gemetar dan sangat dingin.
Arya tidak melepas genggaman tangannya hingga Fitri tiba di ruangan rawat inap miliknya.
Begitu tiba di ruagan itu, Fitri di sambut penuh haru oleh abi, umi dan Isma. Mereka bergantian memberikan kecupan dan juga ucapan doa pada Fitri.
"Yey. . . Akhirnya aku punya keponakan." Ucap Isma girang sambil memeluk pelan tubuh Fitri.
"Iya. Aunty Isma jadi pengasuh Arsyid mulai hari ini." Sahut Arya.
"Arsyid? Namanya Arsyid?"
"Iya, mas beri nama Muhammad Arsyid." Ulang Arya.
Merekapun tersenyum bahagia. Dan karena tida sabar, Isma mengajak Umi dan Abi mendatangi ruangan tempat keponakannya. Mereka memandagi tubuh mungil Arsyid dari kaca ruangan.
"Umi, wajahnya mirip banget sama mas Arya."
"Iya. Matanya dan bibirnya juga sangat mirip Tetehmu." Sambung Umi.
__ADS_1
Sedangkan Abi, hanya diam. Senyum bahagia terukir di bibirnya. Rasanya Abi ingin langsung menggendong cucunya itu.
Bersambung. . .