Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Menahan


__ADS_3

"Mas, sebenarnya ada yang mau adek bicarakan." Mengeringkan rambut Prince dengan handuk kecil.


"Tentang apa?" Menarik tubuh Isma hingga duduk dalam pangkuannya.


Mereka duduk di pinggir tempat tidur, dengan posisi Isma duduk dalam pangkuan Prince sambil menyenderkan kepalanya ke ceruk leher Prince.


Tangan Prince tidak pernah berhenti mengelus perut Isma. Memberikan rasa nyaman pada Isma yang sudah mulai merasa serba salah dengan rasa yang semakin hari semakin aneh terasa di perutnya.


"Apa seperti ini terasa nyaman?" Mengelus perut Isma tanpa henti.


"Sangat nyaman. Adek suka." Ucapnya sambil memejamkan mata.


"Bicaranya mau sekarang, atau besok saja." Tanya Prince hati hati agar tidak membuat Isma tersinggung.


"Sebenarnya maunya sekarang." Memeluk Prince manja.


"Lalu?" Menuntun perlahan tubuh berat Isma untuk berbaring nyaman diatas dada Prince.


"Adek lelah. Sangat tidak nyaman disini." Meletakkan tangan Prince di perutnya.


"Apa yang bisa Mas lakukan agar nyaman?" Duduk di samping Isma menyibak baju yang menutup perut Isma.

__ADS_1


"Hiksz… adek juga tidak tahu. Tapi rasanya sangat aneh." Memiringkan tubuhnya membelakangi Prince.


Prince sangat khawatir, dia kembali berbaring dengan memeluk pinggang Isma. Meletakkan kepalanya diceruk leher Isma dan tidak lupa mengelus perut Isma.


"Mas pakaikan selimut ya?" Menarik selimut.


"Tidak usah. Perut adek panas." Protesnya.


Prince menyibak kembali selimut itu. Lalu dia membuka baju Isma dibagian perutnya hingga memperlihatkan tonjolan besar perut Isma yang menjadi tempat ketiga buah hati mereka.


"Mau dikompres?" Tanya Prince.


"Hm emm." Menelentangkan tubuhnya.


"Untuk apa Prince?" Tanya Teh Fitri yang hendak kedapur mengambil minum.


"Isma merasakan panas pada perutnya. Jadi, mau dikompres katanya." Jelas Prince.


Fitri tersenyum senang, lalu Prince kembali kekamar meninggalkan Fitri yang mematung menatap kearah Prince.


"Ya Allah, jagalah selalu mereka. Tetapkan hati mereka untuk tetap saling mencintai dalam keadaan apapun." Ujar Fitri mendoakan.

__ADS_1


Prince sudah di kamar, dia mulai mengompres permukaan perut Isma. Awalnya Isma merasa nyaman, tapi itu hanya untuk lima menit saja.


"Adek gak mau dikompres. Adek mau meluk Mas…" Rengeknya manja.


Segera saja Prince memeluk erat tubuh Isma. Lalu Prince melantunkan ayat ayat pada juz 30. Benar saja, Isma berhasil merasa nyaman dan tertidur lelap dalam dekapan suaminya. Tapi, masalahnya sekarang, Prince yang merasa tidak nyaman. Ada yang mengganjal di bawah sana.


"Ya ampun, apa lagi ini. Jangan sekarang ya, huuhh huhhh…" Mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan.


Ingin rasanya Prince segera berlari ke kamar mandi. Tapi dia tidak bisa bergerak. Lengannya menjadi bantal Isma. Bergerak sedikit saja akan membuat Isma terbangun. Prince tidak ingin membangunkan Isma yang akhirnya bisa merasakan kenyamanan dan bisa tertidur nyenyak.


Perlahan tangan Prince membelai rambut Isma, menyibak helaian rambut yang menutup wajah cantik istrinya.


"Apa sayang juga merasakan ketidak nyaman saat mas tidak ada." Mencium kening Isma.


"Maafkan Mas, sayang." Menatap lembut wajah Isma penuh kerinduan dan rasa cinta.


"Aarggh…" Teriaknya tertahan merasajn prustasi dengan apa yang dirasakannya dibawah sana.


Terpaksa Prince menarik perlahan tangannya dari kepala Isma. Tapi, Isma malah bergerak dan menaikkan kepalanya kedada bidag Prince dan melingkarkan kakinya ditubuh Prince. Hingga Prince bisa merasakan perut buncit Isma bertemu dengan perutnya.


"Tidurlah, tidurlah…" Berucap pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Keringat dingin sudah mulai membanjir didahinya. Prince mencoba menahan hasrtanya sekuat mungkin. Dia tidak ingin mengganggu istirahat nyaman Isma.


Bersambung…


__ADS_2