
Di rumahnya, Amanda mengamuk. Dia membenamkan tubuhnya dalam bathtub. Air matanya terus mengalir. Dia teringat kembali kejadian tadi malam yang menimpanya.
Malam itu Amanda menyusun rencana untuk mendatangi Isma dan meminta maaf atas kesalahannya. Dengan maksud untuk mengelabui Isma. Tapi, Amanda malah kena apes.
Dalam perjalanan, entah bagaimana caranya. Tiba-tiba dia di seret paksa oleh lima pria berbadan tegap dan besar. Mata Amanda di tutup. Mulutnya di sumpal dengan kaos kaki.
Dia dia bawa ke sebuah rumah kosong yang hanya bercahaya remang-remang. Tangan Amanda di ikat pada dua sudut tiang, begitu juga dengan kakinya.
Lalu, lima pria itu memulai aksi mereka. Mereka melecehkan Amanda dan menggilir Amanda. Dia tidak bisa berteriak, karena mulutnya di sumpal. Amanda juga tidak bisa melawan karena kaki dan tangannya di ikat.
Tidak hanya sekali perorang melakukan itu pada Amanda. Mereka melakukannya berulang kali, bahkan Amanda sampai tida sadarkan diri.
"Menjijikan. Brengsekkk…" Teriak Amanda yang kini sudah kembali dari bayangan saat kejadian itu.
Kembali dia menenggelamkan tubuhnya. Terlintas ingin mengakhiri hidupnya. Amanda bahkan tak berniat keluar dari air. Dia menahan napasnya dalam air. Tapi, tiba-tiba senyum tawa bahagia Isma dan Prince terbayang olehnya.
Dengan cepat Amanda bangkit. Dia memakai handuknya dan segera keluar dari kamar mandi.
"Aku akan membalas kalian. Akan kuhabisi kalian dengan caraku." Ucapnya penuh dendam.
Amanda mengganti pakaian. Lalu dia menelpon seseorang.
📱"Halo. Bisa kita lanjutkan bisnisnya?" Ucap Amanda.
📱"Tentu. Kapan?"
__ADS_1
📱"Sekarang. Aku akan menemuimu. Akan aku berikan apapun itu jika kamu berhasil menghambisi mereka." Tegas Amanda.
📱"Oh wow, ratu singa rupanya mulai mengamuk."
Tertengar suara tawa di seberang sana. Amanda merasa risih hingga mengakhiri pembicaraan mereka.
'Tunggu aku Isma sayang. Dewa kematian akan menjemputmu.' Batinnya penuh dendam dan kemarahan.
"Bukan hanya Isma, aku akan menghabisi siapapun yang berani menghalangiku." Tegasnya dengan senyum mengerikan terlihat di wajahnya.
Di Perusahaan, Prince sedang meeting dengan klien. Perusahaan saat ini sedang dalam masa tidak baik, setelah kejadian yang menimpa Isma. Tapi, karena kecerdasan Bimo dan Rina yang dengan sangat baik menjaga perusahaan, semua masalah hampir terselesaikan.
"Rin, apa kamu belum mau cuti? Usia kandunganmu kan sudah di akhir bulan kedelapan." Tanya Isma.
"Mungkin aku akan cuti dua hari atau sehari sebelum melahirkan."
"Harusnya kamu tu bersyukur Isma sayang. Banyak wanita yang ingin berada di posisi kamu. Jadi ratu."
"Iih, gak enak tau. Membosankan." Rutuknya.
Rina hanya menggeleng dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Isma sejak tadi hanya memandang layar ponselnya.
"Rina, masih lama ya kerjaan kamu selesai?"
"Iya, Is. Kenapa memangnya?" Tanya Rina tanpa menoleh.
__ADS_1
"Aku benar-benar bosan. Aku juga lapar, ingin makan jagung rebus." Celotehnya.
Rina kembali menggeleng. Diraihnya ponselnya, lalu Rina memesan makanan yanng diinginkan Isma.
"Sudah aku pesan. Bentar lagi makanannya datang." Ujar Rina senang.
Senyum mengembang di bibir Isma. Segera dia bangkit dari posisi rebahan. Isma memeluk erat tubuh Rina dari belakang
"Terimakasih sahabat terbaikku."
"Iya, sama-sama sahabat merepotkan aku." Balas Rina bercanda.
"Biarin merepotkan yang penting saling sayang." Melepas pelukan dan kembali ke tempat semula.
Isma kembali rebahan dengan menatap layar ponselnya.
"Rina, kerjaannya masih lama ya?" Ulangnya kembali bertanya.
"Kenapa lagi? Makanan bentar lagi nyampe."
"Hehhe, aku suka gangguin kamu. Atau, harusnya kita main aja yok. Jalan-jalan ke Mall." Rengek Isma tiba-tiba.
Rina hanya bisa nenghela napas saja. Sebenarnya pekerjaanya tidak terlalu memberatkan, tapi melayani perubahan sifat bumil itu yang membuatnya ingin menyerah.
Untung saja saat ini Isma belum teriak-teriak kegirangan seperti anak kecil. Tapi, meski begitu Rina sangat peduli pada sahabatnya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG…